JANGAN LEWATKAN!! 23 November sampai 30 November 2017 Quran Cordoba Dapat Juga Dimiliki di Booth 62 & 63 Islamic Book Fair Jawa Barat

posted in: Berita, Kegiatan | 0

PT Cordoba Internasional Indonesia dengan product nya yang lebih dikenal dengan Quran Cordoba selalu menghadirkan sesuatu yang unggul, setelah menyelenggarakan acara World Quran Hour di Masjid PUSDAI JABAR di Bandung yang sangat Viral di komunitas Muslim dan sahabat Quran , kini Quran Cordoba hadir di Islamic Book Fair Jawa Barat 2017, jangan sampai ketinggalan dengan memiliki Quran terbaik dengan banyak pilihan metode sesuai yang Anda butuhkan,dan juga tampilannya yang fashionable dan up to date.

 

DAPATKAN KEJUTAN DAN DISCOUNT-DISCOUNT NYA DI BOOTH 62 & 63 QURAN CORDOBA!!!!!!IBF JABAR 2017

Soft Launching Toko Al Quran Cordoba

posted in: Uncategorized | 0

WhatsApp Image 2017-10-05 at 10.32.02 toko 7 toko 6 toko 4 toko 3 toko 2Alhamdulillah, kini telah dibuka Toko Al Quran Cordoba, beralamat di Jalan Dr Djunjunan no 32 Pasteur Bandung, mulai beroperasi 2 oktober 2017

Sebagai bentuk memuaskan pelanggan, Soft Launching Toko Cordoba memberikan diskon sampai dengan 30%, segera kunjungi sebelum masa promosi habis.

Cordoba Goes to School ‘ONE DAY ONE COLOUR’ ,Pelatihan Hafalan Mudah Metode Al-Hufaz

posted in: Berita, Kegiatan, Partnership, Produk, Promo | 0

WhatsApp Image 2017-10-16 at 1.47.47 PMWhatsApp Image 2017-10-16 at 1.47.42 PM WhatsApp Image 2017-10-16 at 1.47.44 PM WhatsApp Image 2017-10-16 at 1.47.50 PMInsyaAllah lebih Istiqomah dengan “ONE DAY ONE COLOUR” Jadilah generasi muda Hafiz Quran dengan Metode Hafalan Mudah Al-Hufaz , Daftarkan sekolah Anda untuk mendapatkan pelatihan dari Kami ke 081220660000(Marcomm @qurancordoba).GRATISS !! #qurancordoba #sahabatquran #onedayonecolour #quranuntuksekolah #cordobagoestoschool

WORLD #QURANHOUR

posted in: Berita, Kegiatan | 0

WQH1

Ada satu waktu, dimana jutaan manusia berkumpul di sebuah tempat bernama Padang Arafah, ditanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Mereka berkumpul untuk mendapatkan Ridho dari Allah SWT, dengan penuh harap dan doa. Masa yang sangat krusial bagi Jamaah Haji, karena Haji adalah Arafah, dan tidak dapat dibadalkan atau diganti, sehingga semua jamaah termsuk yang sakitpun datang walau harus ditandu dan diangkut helikopter.

Di masa itu Allah SWT membanggakan manusia yang berkumpul di Arafah di depan para Malaikat, karena mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dengan pakaian ihram mereka berkumpul hanya karena keimanan mereka untuk mendapatkan Ridha dariNya.
Semangat itulah yang menjadi Inspirasi World #Quranhour, sebuah program yang dimulai tahun lalu tepatnya 1437H serentak diberbagai negara di dunia, sebuah semangat untuk membaca, menghayati dan mengamalkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

World #Quranhour adalah pengingat untuk kembali kepada Al Qur’an, karena keseharian kita yang sering melupakannya. Al Qur’an seringkali dibaca hanya pada saat-saat tertentu saja, acara pernikahan, syukuran, ramadhan atau bahkan hanya menjadi pajangan dirumah kita. World #Quranhour mengajak masyarakat untuk kembali kepada Al Qur’an, untk kembali dibaca dan dihayati untuk selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia acara ini diinisiasi oleh Qordoba Qur’an, sebuah perusahaan penerbit Al Qur’an terkemuka, yang merasa bertanggungjawab untuk menebarkan dakwah qur’an dikalangan masyarakat secara umum. Tahun ini tema besar dari acara World #Quranhour adalah Nation Of Compassion, berharap tema ini menjadi inspirasi besar bagi masyarakat untuk menebarkan Kasih Sayang yang bersumber dari Al Qur’an. Karena inti dari Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam, maka Nation Of Cmpassion diharapan menjadi energi kedamaian yang diwujudkan oleh pengamalan rasa Kasih Sayang sesame manusia.

Program yang digulirkan kurang dari satu bulan ini, ternyata mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Tahun lalu jumlah peserta di Masjid Trans Studio berjumlah 3500 orang lebih, dan tahun ini, panitia yang menginformasikan acara ini melalui media sosial Facebook dan Whatsapp mendapatkan tanggapan yang lebih luar biasa. Tak kurang dari 8500 sms lebih masuk ke registrasi SMS Center, dan bahkan satu sekolah di Bandung SMPN 27, 1000 civitasnya yang terdiri dari Guru dan Muridnya akan mengikuti acara yang diselenggarakan di Masjid Pusdai Jawa Barat ini.

Acara ini akan diawali oleh Parade Tausiyah dari Ulama Jawa Barat diantaranya Ust. Evie Effendi, Ustadzah Mimin Aminah, dan Ust. Abdul Azis Abdul Rouf lc. Dengan acara utama yaitu secara serentak seluruh dunia pada jam 9 pagi membaca Qur’an bersama 8000 hadirin yang hadir di Pusdai, Pembacaan Ayat dan Surat Pilihan bersama Muzamil Hasbalah, Ust. Abu Rabbani, Ust. Ambiya Abu Fatin, Kembar Hafizh Hamanis, dilanjutkan Ceramah Semangat Jawa Barat Cinta Qur’an dari Wakil Gubernur Deddy Mizwar, dan Tausiyah Qur’ani dari Ust Hilman Rosyad Shihab Lc.

Semoga dengan adanya acara World #Quranhour ini menjadi inspirasi semangat untuk kembali kepada Al Qur’an sebagai sumber kedamaian didunia, khususnya di Indonesia.

Siaran Pers Kementerian Agama *Terkait Terjemahan ‘Awliya’ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag*

posted in: Uncategorized | 0

Kata ‘awliya’ pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai ‘teman setia’ pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata ‘awliya’ pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’. Informasi yang viral di media sosial dengan menyertakan foto yang memuat halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 itu juga disertai keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.
“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, kata ‘awliya’ di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata ‘awliya’ diterjemahkan dengan ‘pemimpin’. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan ‘teman setia’.
“Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan ‘pelindung’, dan pada QS. Al-Nisa/4 diterjemahkan dengan ‘teman-teman’,” jelas Muchlis, Minggu (23/10).
Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.
“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi,” terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata ‘awliya’ pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai *wali* dengan meninggalkan orang-orang mukmin”.
“Pada kata *wali* diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata *wali* pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.
Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ pada informasi yang viral di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, *terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran*. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, banyak ulama berkeberatan dengan istilah “terjemahan Al-Quran”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “terjemahan makna Al-Quran”.
“Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya,” paparnya.

Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.
“Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammâlun dzû wujûh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan,” urainya.
Kepada masyarakat, Muchlis berpesan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.
*Humas Kemenag RI*

https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag

Siaran Pers Kementerian Agama : Terkait Terjemahan ‘Awliya’ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag

posted in: Berita, Testimoni, Uncategorized | 0

Kata ‘awliya’ pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai ‘teman setia’ pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.
Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata ‘awliya’ pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’. Informasi yang viral di media sosial dengan menyertakan foto yang memuat halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 itu juga disertai keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.
“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, kata ‘awliya’ di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata ‘awliya’ diterjemahkan dengan ‘pemimpin’. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan ‘teman setia’.
“Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan ‘pelindung’, dan pada QS. Al-Nisa/4 diterjemahkan dengan ‘teman-teman’,” jelas Muchlis, Minggu (23/10).
Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.
“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi,” terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata ‘awliya’ pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai *wali* dengan meninggalkan orang-orang mukmin”.
“Pada kata *wali* diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata *wali* pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.
Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ pada informasi yang viral di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, *terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran*. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, banyak ulama berkeberatan dengan istilah “terjemahan Al-Quran”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “terjemahan makna Al-Quran”.
“Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya,” paparnya.
Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.
“Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammâlun dzû wujûh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan,” urainya.
Kepada masyarakat, Muchlis berpesan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.

*Humas Kemenag RI*

Sumber : https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag

Menuju Hafidz Quran bersama HAMANIS

posted in: Berita, Kegiatan, Promo, Uncategorized | 0

Warga Bandung jangan lupa ya, yang mau menghafal Quran bareng Hamanis..
Yuk ikutan  “Menuju Hafidz Quran bersama Hamanis”

Minggu, 24 Juli 2016
Pukul 08.00 – 12.00
Mesjid Agung Trans Studio Bandung
Jl. Gatot Subroto No. 209

Investasi Pendaftaran Rp 100.000
Dapat goodie bag keren berisi Al Quran Al-HAfidz + Snack + Tas Mesjid TSM

Informasi Pendaftaran hubungi :
Rika 082218872321

Jangan Sampai di lewatkan ya,
Ajak juga saudara dan teman-teman ;)

Antara Puasa Syawal dan Qadha Puasa Ramadhan

posted in: Berita, Kegiatan, Uncategorized | 0

Kita sudah memasuki bulan Syawal, pada bulan syawal ada ibadah sunnah yang sudah sering kita laksanakan, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan (secara penuh, pen.) kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka itu senilai dengan puasa selama setahun.” (HR. Muslim, no. 1984)

Tapi bagaimana apabila kita mempunyai hutang puasa di bulan Ramadhan sebelumnya, sementara kita ingin juga melaksanankan puasa enam hari di bulan Syawal?

Ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Namun, mayoritas ulama menyatakan, karena puasa Ramadhan wajib, dan bila punya utang puasa, maka dia harus segera menggantinya di bulan lain. Jadi, bila sudah masuk di bulan Syawal, maka sebaiknya dia segera mengganti atau membayar utang puasanya dulu, baru mengerjakan puasa Syawal. Artinya, yang wajib dulu dibayar, baru mengerjakan yang sunah.

Syekh Abdullah bin Jibrin dalam kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Li al-Mar’ati al-Muslimah, menjelaskan, sebaiknya dikerjakan yang wajib dulu, yakni membayar utang puasa Ramadhan, baru kemudian mengerjakan puasa Syawal.

Alasannya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim di atas, keutamaan puasa Syawal itu karena mengikuti puasa Ramadhan. Jadi, kata Syekh Abdullan bin Jibrin, puasa Ramadhan harus disempurnakan terlebih dahulu, baru mengerjakan yang sunah.

Namun demikian, ada pula ulama yang menyatakan, bahwa boleh saja mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu, mengingat waktunya sangat terbatas, yakni hanya satu bulan. Sedangkan untuk mengganti puasa Ramadhan, diperbolehkan di bulan lain.

Apalagi bagi perempuan, dalam setiap bulan, mereka mengalami masa haid. Dan waktu haid ini, berlangsung antara 4-10 hari, bahkan ada yang lebih. Secara otomatis, waktu utnuk mengerjakan puasa Syawal pun akan semakin sempit pula. Atas dasar ini, para membolehkan untuk mengerjakan puasa Syawal dulu, baru membayar utang puasa.

Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. (QS Al-Baqarah [2]: 148).

..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku) (QS Thaha [20]: 84).

Karena itu, mana yang bisa dilaksanakan dengan cepat, hendaknya itu yang dikerjakan terlebih dahulu. Jika waktunya masih panjang, sebaiknya membayar utang puasa Ramadhan dulu baru mengerjakan puasa Syawal. Namun, jika waktunya terbatas dan singkat, tidak masalah untuk mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu.

 

Sumber : Republika

 

 

1 2 3 6