Siaran Pers Kementerian Agama : Terkait Terjemahan ‘Awliya’ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag

posted in: Berita, Testimoni, Uncategorized | 0

Kata ‘awliya’ pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai ‘teman setia’ pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.
Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata ‘awliya’ pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’. Informasi yang viral di media sosial dengan menyertakan foto yang memuat halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 itu juga disertai keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.
“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, kata ‘awliya’ di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata ‘awliya’ diterjemahkan dengan ‘pemimpin’. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan ‘teman setia’.
“Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan ‘pelindung’, dan pada QS. Al-Nisa/4 diterjemahkan dengan ‘teman-teman’,” jelas Muchlis, Minggu (23/10).
Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.
“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi,” terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata ‘awliya’ pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai *wali* dengan meninggalkan orang-orang mukmin”.
“Pada kata *wali* diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata *wali* pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.
Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ pada informasi yang viral di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, *terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran*. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, banyak ulama berkeberatan dengan istilah “terjemahan Al-Quran”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “terjemahan makna Al-Quran”.
“Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya,” paparnya.
Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.
“Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammâlun dzû wujûh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan,” urainya.
Kepada masyarakat, Muchlis berpesan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.

*Humas Kemenag RI*

Sumber : https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag

Menuju Hafidz Quran bersama HAMANIS

posted in: Berita, Kegiatan, Promo, Uncategorized | 0

Warga Bandung jangan lupa ya, yang mau menghafal Quran bareng Hamanis..
Yuk ikutan  “Menuju Hafidz Quran bersama Hamanis”

Minggu, 24 Juli 2016
Pukul 08.00 – 12.00
Mesjid Agung Trans Studio Bandung
Jl. Gatot Subroto No. 209

Investasi Pendaftaran Rp 100.000
Dapat goodie bag keren berisi Al Quran Al-HAfidz + Snack + Tas Mesjid TSM

Informasi Pendaftaran hubungi :
Rika 082218872321

Jangan Sampai di lewatkan ya,
Ajak juga saudara dan teman-teman ;)

Antara Puasa Syawal dan Qadha Puasa Ramadhan

posted in: Berita, Kegiatan, Uncategorized | 0

Kita sudah memasuki bulan Syawal, pada bulan syawal ada ibadah sunnah yang sudah sering kita laksanakan, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan (secara penuh, pen.) kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka itu senilai dengan puasa selama setahun.” (HR. Muslim, no. 1984)

Tapi bagaimana apabila kita mempunyai hutang puasa di bulan Ramadhan sebelumnya, sementara kita ingin juga melaksanankan puasa enam hari di bulan Syawal?

Ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Namun, mayoritas ulama menyatakan, karena puasa Ramadhan wajib, dan bila punya utang puasa, maka dia harus segera menggantinya di bulan lain. Jadi, bila sudah masuk di bulan Syawal, maka sebaiknya dia segera mengganti atau membayar utang puasanya dulu, baru mengerjakan puasa Syawal. Artinya, yang wajib dulu dibayar, baru mengerjakan yang sunah.

Syekh Abdullah bin Jibrin dalam kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Li al-Mar’ati al-Muslimah, menjelaskan, sebaiknya dikerjakan yang wajib dulu, yakni membayar utang puasa Ramadhan, baru kemudian mengerjakan puasa Syawal.

Alasannya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim di atas, keutamaan puasa Syawal itu karena mengikuti puasa Ramadhan. Jadi, kata Syekh Abdullan bin Jibrin, puasa Ramadhan harus disempurnakan terlebih dahulu, baru mengerjakan yang sunah.

Namun demikian, ada pula ulama yang menyatakan, bahwa boleh saja mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu, mengingat waktunya sangat terbatas, yakni hanya satu bulan. Sedangkan untuk mengganti puasa Ramadhan, diperbolehkan di bulan lain.

Apalagi bagi perempuan, dalam setiap bulan, mereka mengalami masa haid. Dan waktu haid ini, berlangsung antara 4-10 hari, bahkan ada yang lebih. Secara otomatis, waktu utnuk mengerjakan puasa Syawal pun akan semakin sempit pula. Atas dasar ini, para membolehkan untuk mengerjakan puasa Syawal dulu, baru membayar utang puasa.

Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. (QS Al-Baqarah [2]: 148).

..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku) (QS Thaha [20]: 84).

Karena itu, mana yang bisa dilaksanakan dengan cepat, hendaknya itu yang dikerjakan terlebih dahulu. Jika waktunya masih panjang, sebaiknya membayar utang puasa Ramadhan dulu baru mengerjakan puasa Syawal. Namun, jika waktunya terbatas dan singkat, tidak masalah untuk mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu.

 

Sumber : Republika

 

 

Qadha Puasa Ramadhan Tahun Lalu

posted in: Berita, Kegiatan | 0

Sekarang kita sudah memasuki hari ke-4 di bulan Sya’ban itu tandanya bulan depan kita sudah memasuki Ramadhan yang hanya tinggal mengitung hari. Bagi umat muslim wajib hukumnya untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang2 yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang2 sebelum kamu. Mudah2an kamu bertakwa” (Al -Baqarah:183)

Dari ayat di atas jelas bahwa puasa itu adalah wajib. Artinya jika dikerjakan berpahala, dan jika tidak dikerjakan kita berdosa.

Tetapi Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.(QS. Al-Baqarah: 184)

Sebelum menginjak kepada bulan Ramadhan tahun ini, mari kita renungkan dan mengingat kembali sudahkah kita mengganti puasa yang kita tinggalkan di tahun kemarin? bagi sahabat-sahabat yang sudah menggati puasa yang ditinggalkan tahun kemarin Alhamdulillah itu lebih baik, tetapi bagi  yang belum, masih ada kesempatan untuk menggantinya di bulan Sya’ban sebelum Ramadhan tiba.

Para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,

Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar A’isyah radhiyallahu ‘anha mengatakan

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.”. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,

الشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

A’isyah, istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga A’isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan sya’ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَان: أَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر

Disimpulkan dari semangatnya A’isyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191)

 

 

Wallahu a’lam bishawab

Tips Sederhana Mempersiapkan Diri Menuju Ramadhan

posted in: Berita | 0

Tak terasa kini kita telah sampai pada detik-detik terakhir di bulan Rajab, selanjutnya kita akan melangkah pada bulan sya’ban dan kemudian akan tiba pada bulan yang mulia yaitu Ramadhan. Sebagai seorang muslim pastilah kita akan merasakan kebahagiaan saat sampai pada bulan Ramadhan yang selalu di nanti seluruh umat muslim di belahan dunia manapun, karena Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.” (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Tidak ada amalan khusus dalam mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan, tetapi ada beberapa tips sederhana mempersiapkan diri menuju Ramadhan agar tidak melewatkan keberkahannya dan kita pun semakin termotivasi dan terbiasa untuk semakin meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT.

1. Thalabul ‘ilmi / Menuntut ilmu
Menuntut ilmu merupakan hal yang wajib bagi setiap individu, terlebih lagi ilmu dalam Islam, dengan banyak belajar kita banyak tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, mana yang akan mendatangkan pahala dan mana yang akan mendatangkan siksa. Dengan ilmu kita akan semakin terbuka untuk meraih iman dan takwa kepada Allah sang pecipta. Dengan ilmu dan pengetahuan kita akan semakin termotivasi meraih kebaikan yang Allah berikan dan kita pun akan semakin takut apabila kita melanggar apa yang telah Allah tetapkan.

2. Perbanyak melakukan amalan-amalan sunnah
Segala bentuk amal kebaikan di bulan ramadhan tentu akan mendapatkan berkah lebih dari bulan-bulan sebelumnya, jika kita sudah terbiasa dalam melakukan amalan sunnah dan amalan kebaikan lainnya seperti misalnya tilawah rutin, melakukan shaum senin kamis, bersedekah dan lain sebagainya maka ketika memasuki bulan Ramadhan kita tidak akan merasa kaget dan berat dalam melakukan aktivitas serupa lainnya. Dalam melaksanakan puasa wajib Ramadhan tubuh kita tidah akan merasa berat karena sudah terbiasa melakukan puasa sunnah, ketika kita memperbanyak atau ingin mengkhatamkan tilawah di bulan Ramadhan kita pun tidak akan merasa berat karena kita sudah terbiasa bertilawah setiap harinya, jika kita selalu membiasakan diri mengerjakan amal kebaikan in sya Allah ketika Ramadhan semua itu akan terasa lebih mudah dan pahala yang berlipat pun akan menanti.
Tetapi diharapkan amalan-amalan tersebut tidak terhenti ketika Ramadhan berakhir, pada bulan-bulan berikutnya pun kita harus selalu terbiasa dalam menjalankannya.

3. Membuat jadwal harian aktivitas selama Ramadhan
Agar Ramadhan kita tidak terlewatkan dengan begitu saja, kita bisa menyusun jadwal kegiatan harian yang akan kita lakukan dalam mengisi Ramadhan kita, buatlah secara detail mulai dari bangun tidur sampai kita tidur lagi apa saja amalan-amalan yang akan kita kerjakan, agar lebih termotivasi kita bisa membuat target-target amalan yang dilakukan khusus ketika Ramadhan misalnya target khatam membaca Al-Quran beberapa kali dan target menghapal beberapa surat-surat al-Quran.
Semoga bermanfaat,

Wallahu A’lam bishawwab

Peristiwa-peristiwa di Bulan Rajab

posted in: Berita, Uncategorized | 0

Tinggal sebentar lagi kita memasuki bulan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. Sebelum menginjak kepada bulan mulia tersebut kita sampai terlebih dahulu pada bulan rajab dan syaban. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia juga. Di antara kebiasaan para ulama, mereka menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Hal ini bisa dilihat dari doa yang sangat populer:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang istimewa karena pada bulan ini terjadi peristiwa-peristiwa penting bagi sejarah hidup umat Islam.

  1. Isra’ Mikraj (27 Rajab)

Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Senin  27 Rajab, bertepatan dengan 621 M.
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian dari Palestina naik ke langit ke tujuh sampai ke Arsy menghadap Allah SWT. Sebelum terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad dihadang oleh berbagai cobaan. Mulai dari pemboikotan keluarga berupa pemutusan transaksi jual beli, akad nikah, berbicara dan pergaulan. Akibatnya, Rasulullah dan keluarga hidup terisolir selama tiga tahun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

 

  1. Kekalahan Romawi di Perang Tabuk

Rajab juga merupakan bulan kemenangan militer Rasulullah dalam Perang Tabuk, yang terjadi pada 9 Hijriyah atau 630 M, dan menandai dominasi otoritas Islam atas seluruh Semenanjung Arab. Meskipun menempuh perjalanan yang berat dari Madinah menuju Syam, sebanyak 30 ribu pasukan Muslim tetap melaluinya. Tentara Romawi yang telah berada di Tabuk siap untuk menyerang umat Islam. Tetapi ketika mereka mendengar jumlah dan kekuatan tentara Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah mereka terkejut dan bergegas kembali ke Syam menyelamatkan benteng-benteng mereka. Hal ini menyebabkan penaklukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah menetap di tempat ini selama sebulan. Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur di bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar upeti.

 

  1. Shalahuddin Al-Ayyubi Merebut Al-Aqsha dari Tentara Salib / Pembebasan Baitul Maqdis Palestina

27 Rajab 583 H, Shalahudin al Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin bergerak mengepung dan membebaskan tanah Palestina/yerusalem yang setelah sekian abad lamanya dikuasai oleh pasukan salibis.

Pembebasan itu sendiri tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari pasukan salib. Peristiwa ini terjadi pada Rajab 1187 M yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Penaklukan ini bukan hanya karena pentingnya Yerusalem dalam Islam, tetapi juga karena sepak terjang Tentara Salib menaklukkan negeri-negeri Muslim.

Menaklukkan Yerusalem, Shalahuddin masuk ke gerbang kota dengan damai. Tak ada pembantaian warga sipil. Sultan Ayyubiyah ini menjamin keselamatan dan kebebasan beribadah semua pemeluk agama. Terkecuali, pasukan Salib yang dia minta keluar dari kota. Hal pertama yang dilakukan Shalahuddin saat memasuki Yerusalem adalah mencopot tiang salib dari atas Kubah Batu.

 

  1. Runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki

Sejarah yang terjadi Pada 28 Rajab ini merupakan runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki yang dihapus oleh Mustafa Kemal Ataturk. kehidupan masyarakat Turki berubah ketika Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler. Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat, Dan sejak saat itulah keterpurukan mulai terjadi.

Bulan Rajab merupakan bulan penuh perjuangan bagi umat Islam jika kita lihat dari beberapa peristiwa yang terjadi dalam sejarah umat Islam. Semoga peristiwa-peristiwa di bulan Rajab tersebut menjadi motivasi dan semangat bagi kaum muslimin untuk menjadi lebih baik dan menjadikan Islam selalu ada dalam setiap langkah kehidupan.

 

Wallahu a’lam bishawab

 

 

 

 

 

 

 

Apa Sebenarnya Zalim itu?

posted in: Berita, Uncategorized | 0

Dalam ajaran Islam zalim adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil. Adapun yang dimaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya adalah meletakkan hukum Allah sebagai dasar pijakan atas semua kebijakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 45)

Berikut ini yang termasuk kategori orang-orang yang zalim adalah :

1. Orang yang menyembah selain Allah SWT

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

ArtinyDan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS. Luqman [31] : 13

 

2. Zalim terhadap diri sendiri, masuk dalam kategori ini adalah segala sesuatu yang keluar dari tuntunan Al Qur’an dan Hadis,  misalnya :

  • Bunuh diri, dalam Islam bunuh diri merupakan suatu dosa besar.

    “(Di antara) dosa-dosa besar adalah: Berbuat syirik terhadap Allah, durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu.” [HR Al Bukhari (6675)]
  • Homoseksual, perilaku ini jelas jelas sangat dibenci oleh Allah, karena melawan kodrat yang telah ditetapkan, hal ini tercermin dalam kisah Sodom pada jaman Nabi Luth As.
  • Berlebihan dalam segala sesuatu, misalnya makan berlebihan, belanja berlebihan dan menyia nyiakan harta. yang intinya adalah menuruti Hawa Nafsu untuk kesenangan diri sendiri.
  • Makan dan minum sesuatu yang haram

3. Zalim terhadap orang lain, masuk dalam kategori ini adalah segala sesuatu yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tidak nyaman, atau membuat orang lain menerima akibat yang buruk, atau mengambil hak orang lain.

 

 

3 Hari Bisa Baca Al-Qur’an

posted in: Berita, Kegiatan | 0

Belum bisa baca Quran?

Yuk ikuti pengenalan belajar membaca Al-Qur’an, Terbukti 3 hari bisa baca Al-Qur’an dari nol, dengan sistem 3 hari metode Cordobana.

 

Catat hari dan tempatnya ya :

Mingggu, tgl 27 Maret 2016

Pukul 16.00 – Selesai

di Toko Gramedia Depok, Jl. Margonda Raya Km. 4 Depok

 

GRATIS UNTUK UMUM
*jumlah peserta terbatas

 

Info lebih lanjut hubungi :

0813 2058 4899

 

 

 

Menghilangkan Putus asa

posted in: Berita, Kegiatan, Uncategorized | 0

Dalam sebuah kehidupan pastilah ada yang namanya masalah dan ujian, di sekolah sebelum ada kelulusan kita terlebih dahulu menghadapi yang namaya ujian. Di tempat kerja pun kita pasti menemukan ujian, dalam kehidupan bermasyarakat dan lainnya pun kita juga akan menemukan ujian atau masalah yang harus kita hadapi. Ujian dapat menjadikan kita lebih kuat dan bertawakal pada allah SWT, tetapi adapula yang dalam menjalaninya memilih untuk menyerah, menjadi rapuh bahkan merasa putus asa.

Seperti firman Allah SWT :

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الإنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan apabila Kami beri kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan mejauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa”. (QS. Al-Isra’ : 83)

Putus asa adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang menganggap drinya telah gagal dalam menghasilkan sesuatu harapan cita-cita. Salah satu ciri dari sikap putus asa adalah apabila diberi beban atau sesuatu yang harus siselesaikan dan perlu segera dilaksanakan, ia meninggalkannya secara perlahan-lahan, bahkan terkadang tidak mengerjakan sama sekali. Ia merasa keberatan atau menganggap bahwa apa yang dititipkan kepadanya terlampau berat sehingga ia enggan dan berputus asa untuk meneruskannya.

Selain itu orang berputus asa akan cenderung berburuk sangka kepada Allah, menolak kebenaran, malas beribadah dan berdoa, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya, malas berbuat baik.

Putus asa merupakan hal yang sangat dilarang, seperti di jelaskan dalam Al-Qur’an :

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

 

“قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS Al-Hijr : 56)

 

Rasulullah SAW bersabda bahwa :

“Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah”. (hadis hasan sahih, diriwayatkan ole Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Majma’ Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104)

 

Bersumber dari penjelasan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis di atas sudah jelas bahwa putus asa merupakan hal yang sangat dilarang oleh Islam bahkan termasuk salah satu dosa besar. Putus asa dapat mengantarkan kepada kekafiran karena pada dasarnya putus adalah suatu sifat yang timbul akibat tidak adanya keyakinan terhadap exsistensi Sang maha pengatur kehidupan. Dengan begitu ia cenderung tidak memiliki harapan. Sebab ia tak yakin bahwa ada sumber kekuatan yang dapat membantunya dalam memecahkan masalahnya.

Putus asa juga menimbulkan penyakit mental atau psikis. Penyakit rohani ini dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah stres, ini disebabkan karena tidak adanya sandaran yang kokoh untuk ia bersandar dan mencari solusi dari setiap kesulitan yang dihadapinya. Orang menjadi mudah atau rentan untuk terkena penyakit pisik seperti ini, karena orang putus asa cenderung cepat menyerah, tidak memiliki keyakinan yang tinggi terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Oleh sebab itulah stress menjadi jawaban atas apa yang didapatkan dari sikapnya tersebut. Pada akhirnya sikap dan perilaku orang tersebut menjadi tak tentu arah. Kematian juga bisa menjadi akibat dari stres itu sendiri yang bermula dari keputus asaan. Banyaknya peristiwa orang menjadi gila, kemudian jumlah orang yang bunuh diri semakin bertambah adalah dampak social dan psikis yang disebabkan oleh sikap hilang harapan ini.

Oleh sebab itulah Islam sangat melarang sekali adanya putus asa dalam diri setiap individu, sebisa mungkin kita harus menghilangkan putus asa, adapun upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari rasa putus asa :

  1. Bersyukur

Syukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Apapun yang Allah tetapkan untuk kita pasti itu yang terbaik, seperti yang telah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 216 :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

 

  1. Perbanyak mengingat Allah

Mungkin banyak hal yang membuat kita takut, khawatir, atau sakit. Sebutlah nama Allah, maka hatimu akan tenang sebab kita tahu bahwa Allah Maha Besar yang bisa menghilangkan semua derita dan ketakutan. Kita juga yakin Allah Maha Tahu yang mengathui apa yang terbaik bagi kita. ”Ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah hati akan tenang” (QS. 13:28). Ketenangan hati akan menjadikan diri ini tetap optimis.

 

  1. Berkumpul dengan orang shaleh

Salah satu cara agar kita terhindar dari putus asa adalah dengan berkumpul bersama orang-orang shaleh yang selalu akan mengingatkan kita kepada kebaikan dan saling menasihati untuk kesabaran, seperti yang tercantum dalam QS. Al-‘Ashr 1-3: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saing menasihati untuk kebenaran dan menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al-‘Asr:1-3)

 

  1. Bekali diri dengan ilmu agama

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban terlebih lagi ilmu agama, dengan ilmu kita menjadi tahu kemana kita harus melangkah dalam menjalani kehidupan ini. Orang yang berilmu akan selalu berhati-hati dalam melangkah, berbeda dengan orang yang tidak mau membekali dirinya dengan ilmu akan hilang arah.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar : 9)

 

  1. Tanamkan optimisme dalam diri

Allah tidak akan membebankan ujian pada kita diluar batas kemampuan kita, jadi tetaplah optimis semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah:286)

 

  1. Selalu berdoa dan berusaha

Jika beban terasa begitu berat, bukan bebannya yang terlalu berat, tetapi kelemahan ada pada diri kita yang tidak mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Kita punya potensi akal, hati, dan jasad yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya saja, jika tidak kita optimalkan sepenuhnya, kekuatan itu akan tersembunyi. Bahkan, saat kesulitan tetap ada dihadapan kita, seolah kita tidak mampu untuk menghadapinya, Allah selalu siap menyambut dan mengabulkan do’a kita. Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS Al Mu’minuun:60)

 

Semoga kita semua selalu dijauhkan dari berbagai bentuk sikap putus asa. Aamiin..

 

Wallahu a’lam

1 2 3 16