Bagi-Bagi 1000 Al-Qur’an Hafalan Al-Hafidz

posted in: Berita, Kegiatan, Promo, Testimoni | 0

Alhamdulillah setelah disebar Jumat pekan lalu via whatsapp dan facebook, dari data yang masuk sudah ada 1000 sahabat Quran Cordoba pertama yang merespon dan mendapatkan al-Qur’an Hafalan al-Hafidz.

Terimakasih untuk antusias dari para pecinta al-Qur’an, bagi yang belum kebagian tungggu program kami selanjutnya segera…

Info yang beruntung mendapatkan al-Qur’an al-Hafidz akan kami posting Segera Hari ini 29 Februari 2016.

Pastikan sahabat-sahabat menggunjungi kami di Fanpage Quran Cordoba.

Semoga Berkah Selalu..

Umat Islam Harus Tahu Sebab-Sebab Doa Sulit Terkabul

posted in: Berita | 0

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada umat Islam untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada-Nya. Doa dan harapan yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan-Nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Quran Cordoba telah merangkum waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa pada artikel sebelumnya. Namun, banyak umat muslim yang telah berdoa tapi merasa bahwa doanya tidak kunjung dikabulkan. Kali ini Quran Cordoba akan mencoba merangkum sebab-sebab doa sulit terkabul dalam point-point berikut ini :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Ghafir ayat 60 :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)

Sebelum mengerti tentang sebab-sebab doa sulit terkabul, kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesungguhnya akan mengabulkan doa-doa kita sesuai dengan surat Ghafir ayat 60 di atas. Setelah yakin, mari kita intropeksi diri apa saja sebenarnya yang selama ini kita lakukan hingga doa yang kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

 

1. Hubungan hamba dengan Robnya yang tidak erat.

Sifat dasar manusia adalah ingat ketika butuh dan lupa ketika tidak butuh. Saat sedang sulit biasanya manusia akan ingat kepada Allah dan saat senang Allah akan dillupakan. Hubungan hamba dengan Robnya yang seperti ini bisa jadi membuat doa sulit terkabul. Allah akan menguji keimanan seseorang dengan ujian yang berat sebelum mendapatkan cintaNya.

Manusia-manusia yang mendapatkan cinta Allah adalah manusia yang telah berhasil melawati ujian dan akan mendapatkan kemudahan-kemudahan di dunia dan di akhirat. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun cinta dan ridho kepada mereka.

Hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

 

2. Jeleknya Amal Ibadah

Seseorang yang selalu menjaga amal ibadahnya dengan baik akan memiliki kualitas iman yang baik pula. Seorang yang selalu menjaga kekhusyuan shalat pasti berbeda dengan orang yang shalat hanya memenuhi kewajiban saja. Amal ibadah yang wajib dan sunnah selalu dikerjakan dengan baik dapat berimbas pada ketenangan hati dalam menyikapi berbagai hal. Hati yang lalai dan tidak tenang dalam berdoa menjadikan doa sulit terkabul.

Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” ( HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan )

Jadi salah satu penyebab sulit terkabulnya doa salah satunya adalah karena jeleknya amal ibadah yang membuat iman kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi sangat lemah dan mudah dikendalikan oleh syaitan.

 

3. Masih melakukan kemaksiatan dan perbuatan tidak benar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ  اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” ( HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid )

Dari hadits di atas disebutkan bahwa orang yang berdoa tapi masih melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan maka Allah tidak mengabulkan doa-doanya. Selain itu, memutuskan silaturahmi juga menjadi penyebab sulit terkabulnya doa. Ketika kita telah meninggalkan dosa dan kemaksiatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan tiga hal yaitu :

– Allah akan segera mengabulkan doanya.

– Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak

– Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.

 

4. Masih memakan harta-harta haram

Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ ( HR. Muslim no. 1015 )

 

5. Allah mengganti apa yang ia minta dengan yang lebih bermanfaat di surga dan akhirat kelak.

Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengabulkan doa kita yang terakhir adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyimpan doa-doa kita di surga dan akhirat kelak. Allah mengabulkan doa kita kelak di akhirat ketika pertolongan sudah tidak ada lagi kecuali hanya datang dari Allah lewat doa-doa kita saat ini.

Sikap Husnudzon kepada Allah harus kita tanamkan agar doa-doa yang kita panjatkan mempunyai kekuatan. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada umatnya tidak mungkin Allah mendzolimi umatnya apalagi umatnya yang Allah cintai dan mencintai Allah.

Jadi kesimpulannya, jangan putus asa dalam berdoa. Teruslah berusaha untuk memperbaiki diri dan mencari solusi dari masalah yang kita hadapi seraya berdoa dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Jika pun terasa bahwa Allah belum mengabulkan doa-doa kita yakinlah bahwa Allah mengganti dengan yang lebih baik atau bisa jadi Allah menyimpan doa-doa kita kelak untuk dikabulkan di akhirat.

Wallahu’alam …

Waktu Mustajab Untuk Berdoa Yang Sering Dilupakan Umat Islam

posted in: Berita | 0

Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kasih-Nya kepada seluruh manusia, sedangkan sayangnya hanya kepada orang-orang beriman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai hamba yang senantiasa memohon dan berharap kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Ghafir ayat 60 :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)

Sebaliknya orang-orang yang enggan memohon, berharap, dan menyombongkan diri untuk beribadah kepada Allah akan mendapatkan siksa dan dimasukkan ke dalam neraka jahannam, Naudzubillah. Oleh karena itu senantiasa berdoa merupakan kebutuhan manusia dalam rangka beribadah dan bertauhid hanya kepada Allah.

Quran Cordoba telah merangkum waktu mustajab untuk berdoa yang sering dilupakan umat Islam dalam poin-poin berikut ini :

1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له

Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)

 

2. Ketika berbuka puasa

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi).

 

3. Ketika malam lailatul qadar

Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan” (QS. Al Qadr: 3)

Malam lailatul qadr, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala, namun Rasulullah telah menyampaikan ciri-ciri malam lailatul qadr dengan sabda beliau :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

 

4. Ketika adzan berkumandang

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”).

 

5. Di antara adzan dan iqamah

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”) .

 

6. Ketika sedang sujud dalam shalat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا

Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)

 

7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات

Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499)

8. Di hari Jum’at

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari  Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)

 

9. Ketika turun hujan

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر

Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)

 

10. Ketika Perang Berkecamuk

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
11. Ketika Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خير الدعاء دعاء يوم عرفة

Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Wallahua’lam, semoga kita dapat diberikan kesempatan untuk mengamalkan amalan yang sudah dijelaskan di atas sehingga Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan.

Umat Islam Harus Tahu Keutamaan Shalat berjamaah Ini

posted in: Berita | 0

Umat Islam Harus Tahu Keutamaan Shalat berjamaah Ini

 

Salah satu sunnah Nabi SAW yang seringkali kurang diindahkan oleh umat Islam adalah shalat berjamaaah di masjid. Kurangnya perhatian umat Islam pada sunanul huda ini telah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Karena bukan hanya kalangan awam saja yang meninggalkannya, tapi juga tidak sedikit kalangan khusus—santri, ustadz, dan tokoh agama—yang meninggalkannya. Padahal jika kita simak berbagai hadits Nabi Muhammad SAW, tentu akan kita dapati perhatian yang demikian kuat dari generasi terbaik itu pada ibadah sunnah muakkad ini.

 

Shalat berjama’ah di masjid amat ditekankan perintahnya oleh Rasulullah SAW. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah,

 

Ada seorang buta datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang menuntun saya untuk datang ke masjid”; kemudian laki-laki buta itu minta keringanan/dispensasi kepada beliau agar diperkenankan shalat di rumahnya. Nabi SAW pun mengizinkannya; tetapi ketika ia bangkit untuk pulang, beliau SAW bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat (adzan)?”. Laki-laki buta itu menjawab: “Ya (saya mendengar)”. Nabi SAW bersabda: “(Kalau begitu)Kamu harus datang ke masjid”.

 

Hadits di atas dengan jelas menginformasikan tentang penekanan perintah shalat berjama’ah, seorang buta sekalipun—bahkan yang tidak memiliki penuntun—tetap harus datang ke masjid jika mendengar seruan adzan.

 

Selain itu, shalat berjama’ah pun memiliki keutamaan daripada shalat sendirian. Sebuah hadits masyhur muttafaq ‘alaih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menerangkan hal ini,

 

Dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat”.

 

Sungguh sangat  rugi orang yang melewatkan begitu saja keutamaan ini. Wahai saudaraku, bukankah ini seharusnya yang kita kejar demi meraih keridhoan Allah SWT? Demi membuktikan kecintaan kita pada-Nya? Demi meraih kebaikan bagi kehidupan kita?

 

Takutlah kepada Allah, karena sifat malas shalat berjama’ah di masjid—khususnya shubuh dan isya—adalah ciri orang munafik. Hal ini dijelaskan sendiri oleh beliau,

 

“Tidak ada shalat—berjama’ah—yang dirasakan berat oleh orang munafik, kecuali shalat fajr (shubuh) dan isya. Seandainya mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus merangkak…”

 

Oleh karena itu marilah kita berupaya sekuat tenaga menghidupkan sunnah shalat berjamaah ini. Agar keislaman kita terpelihara dan terhindar dari kesesatan serta kemunafikan. Sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Mas’ud berkata,

 

“Siapa saja diantara kalian yang ingin bertemu dengan Allah SWT sebagai muslim maka ia harus benar-benar menjaga shalat-shalat ketika terdengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi SAW sunanul huda (tuntunan-tuntunan yang penuh petunjuk) dan sesungguhnya shalat jama’ah itu termasuk sunanul huda. Seandainya kalian shalat di rumahmu sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah, niscaya kamu sekalian telah meninggalkan sunnah Nabi, dan seandainya kamu sekalian meninggalkan sunnah Nabi, niscaya kamu tersesat. Sungguh pada masa Nabi tiada seorang pun tertinggal dari shalat berjama’ah kecuali orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sehingga terjadi ada seorang (sahabat) dipapah oleh dua orang sehingga ia bias berdiri pada salah satu barisan” (HR. Muslim).

 

Mari saudaraku, tekadkan dalam hati untuk selalu menjaga shalat berjama’ah di masjid. Jangan lupa ajak keluarga dan tetangga-tetangga kita untuk melaksanakannya. Insya Allah dengan sunnah ini umat Islam akan menjadi umat yang solid; terpelihara rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuannya. Semoga.

Inilah Keseluruhan Isi Al Quran Yang Kita Baca

posted in: Berita | 0

Allah SWT menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang agung yaitu diperintah. Allah menciptakan manusia bukan untuk main-main, namun beribadah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya sesuai dengan Firman Allah SWT berikut ini :

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar mempelajari Al Quran yang berisi petunjuk yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang sesuai dengan surat Ibrahim ayat 1 berikut :

 

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى

صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (١

Alif, Laam Raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1)
Al Quran merupakan petunjuk Allah yang harus kita baca dan amalkan agar selamat di Dunia dan Akhirat. Inilah keseluruhan isi Al Quran yang kita baca sehari-hari dalam tiga pembahasan besar yaitu:

1. Al Quran Berisi Berita

Al Quran adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, dan masa lalu, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayat Al Quran. Di dalam Al Quran juga terdapat berita mengenai nama-nama Allah, sifat-sifat Allah, keagungan Allah, kemuliaan Allah, seperti pada surat Al Baqarah ayat 255 atau sering disebut dengan ayat kursi. Dalam ayat tersebut terdapat 5 nama-nama Allah dan 25 sifat-sifat Allah.
Di dalam Al Quran terdapat banyak kisah-kisah orang-orang serta nabi-nabi terdahulu seperti kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi-Nabi yang lainnya. Semua kisah-kisah ini mengandung pelajaran yang dapat di aplikasikan dalam kehidupan saat ini.

2. Al Quran Berisi Perintah dan Larangan

Di dalam Al Quran perintah terdapat banyak perintah dan larangan dari Allah sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia. Perintah Allah yang pertama adalah mengajak manusia untuk bertauhid yaitu dalam awal surat al-Baqarah Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia! Sembahlah Rabb (Tuhan) kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Surat Al-Baqarah : 21)
Larangan Allah yang pertama bagi manusia adalah larangan untuk menyekutukan Allah dengan yang lainnya sesuai dengan ayat Al Quran berikut ini :

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Surat al-Baqarah: 22)
Setelah bertauhid kepada Allah maka terdapat perintah-perintah lainnya yang terangkum dalam rukun Islam yaitu Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji dan lainnya. Selain itu larangan-larangan Allah juga terdapat dalam Al Quran seperti larangan berzina, larangan memakan haram dan riba, dan larangan-larangan yang lainnya. Semua perintah dan larangan dari Allah telah dijalankan oleh Rasulullah SAW maka dari itu mencontoh dan menjalankan sunnah Rasulullah juga berarti menjalankan perintah dan larangan dari Allah SWT.
Dalam menjalankan perintah Allah SWT, diperlukan ilmu agar amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah diterima dan tinggi derajatnya di sisi Allah SWT. Ilmu terhadap perintah Allah mencakup empat poin yaitu :
1. Mengetahui perintah Allah SWT sesuai dengan dalilnya.
2. Mengetahui batasan, kaidah, serta kaifiyah melaksanakan perintah Allah SWT.
3. Mengetahui hikmah dan tujuan perintah Allah SWT.
4. Mengetahui keindahan perintah Allah SWT.
Simak poin lengkapnya pada pembahasan selanjutnya.

3. Al Quran Berisi Kabar Gembira dan Ancaman

Di dalam Al Quran terdapat kabar gembira tentang ganjaran yang diberikan oleh Allah kepada umat muslim yang melaksanakan perintah dan larangan Allah SWT sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW. Allah SWT memberikan janji akan nikmat di Dunia maupun nikmat di Akhirat berupa Surga.
Selain kabar gembira terdapat juga ancaman dari Allah SWT bagi siapapun yang menyekutukan-Nya, tidak menjalankan perintah dan larangannya, dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan dosa baik dosa besar maupun dosa-dosa kecil.
Allah berfiman dalam surat An Nisa :

وأولُهُمْ نوحٌ عليهِ السلامُ، وآخِرُهُم محمدٌ صلى الله عليه وسلم وهو خاتِمُ النَّبيينَ والدليلُ على أنَّ أوَّلُهُم نوح قوله تعالى: إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.“(An-Nisaa’ : 165)

فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih [Ali Imran : 21, At-Taubah : 34, Al-Insyiqaaq : 24]

Maka jadilah mukmin yang senantiasa berusaha untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan kabar gembira. Kabar gembira ini adalah kabar yang benar dan akan terjadi kelak bagi seluruh manusia.

Sumber : Video Ceramah Singkat: Memahami Isi Al-Qur’an – Ustadz Abu Qotadah.

 

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

posted in: Berita | 0

Bulan Dzulhijjah adalah bulan haji karena pada bulan tersebut umat Islam di seluruh Dunia melaksanakan rangkaian ibadah haji. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang memiliki keutamaan selain bulan ramadhan. Bulan Ramadhan yang telah berlalu membuat umat muslim rindu akan nikmatnya beribadah dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan yang jarang diketahui oleh masyarakat terutama di Indonesia. Kesemarakan menjelang bulan Ramadhan harus dihadirkan kembali di bulan Dzulhijjah ini untuk meningkatkan keasadaran masyarakat akan keistimewaan bulan Dzulhijjah. Banyak dalil-dalil yang menyebutkan keistimewaan di bulan Dzulhijjah yaitu :

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah adalah dua bulan yang istimewa.

Apa saja keistimewaan bulan Dzulhijjah?

Bulan Dzulhijjah memiliki beberapa keistimewaan salah satunya adalah keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.Dalil tentang keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yaitu :

Di surat al-Fajr, Allah berfirman:

وَ الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr: 1 – 2)

Ibn Rajab menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih mayoritas ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan riwayat dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma” (Lathaiful Ma’arif, hal. 469)

Dari dalil tentang keutamaan sepuluh hatr pertama di bulan Dzulhijjah di atas, Quran Cordoba merangkumnya ke dalam poin-poin berikut ini :

 

1. Melaksanakan Haji dan Umrah

Melaksanakan ibadah haji dan umrah pada bulan Dzulhijjah adalah amalan yang utama. Rasulullah SAW bersabda

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجن

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

Firman Allah dalam surat Ali Imran 97 :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imron: 97]

 

2. Puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah

Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya :

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah disana terdapat hari-hari yang didalamnya dikerjakan amalan-amalan shalih, lebih dicintai di sisi Allah ta’ala, melainkan sepuluh hari ini. Maka para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak pula jika seorang berjihad di jalan Allah?”, maka beliau menjawab : “Walaupun dia berjihad di jalan Allah, kecuali jika seorang yang pergi untuk berjihad dengan membawa jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan sesuatu apapun darinya.” (HR Imam Al Bukhari dan Imam At Tirmidzi )

Dari hadits di atas beramal di sepeluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah amalan yang lebih dicintai Allah. Berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah salah satu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan puasa senin-kami, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan puasa enam hari pada bulan syawal.

Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah maksudnya adalah puasa dari tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah. Tanggal sepuluh Dzulhijjah diharamkan untuk berpuasa karena bertepatan dengan hari iedul adha hingga hari ke tiga belas yaitu hari tasyrik.

 

3. Memperbanyak takbir dan dzikir

Memperbanyak takbir dan dzikir merupakan amalan sholih yang jika dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah sesuai dengan sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah yang tertera pada hadits berikut :

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

 

4. Memperbanyak sedekah

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 261 :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦١)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah (2): 261) .

Bersedekah di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah merupakan amalan sholih yang akan mendapatkan ganjaran pahala hingga tujuh ratus kali lipat.

 

5. Berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah

Puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dan merupakan salah satu rangkaian amalan puasa yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama pada bulan Dzulhijjah bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Puasa Arafah dikerjakan ketika jamaah haji sedang melakukan wukuf di padang Arafah. Puasa Arafah memiliki keistimewaan yang terdapat pada hadits berikut :

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

 

6. Berkurban

Berkurban adalah ibadah kepada Allah dengan cara menyembelih seekor kambing, domba, sapi untuk tujuh orang, dan unta . Adapun hukum berkurban adalah sunnah muakkad menurut jumhur ulama. Ibadah kurban dianjurkan untuk dilaksanakan bagi orang yang mampu setiap tahunnya. Rasulullah SAW selalu berkurban setiap tahunnya ketika di Madinah. Rasulullah SAW bersabda :

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa memiliki kelapangan (rizki) tapi tidak berkurban, janganlah ia mendekati tempat sholat kami.” [HR. Ibnu Majah Dihasankan oleh al-Albani dalam Takhrij Musykilatul Faqr no. 102]

 

7. Tidak memotong atau mencabut rambut, kulit dan kuku bagi yang akan berkurban

Bagi orang yang akan berkurban dianjurkan untuk tidak memotong rambut,kulit dan kuku, sesuai hadits Rasulullah SAW :

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

 

8. Sholat Iedul Adha

Shalat Idul Adha adalah shalat yang diadakan pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan ibadah haji di Makkah Al-Mukarramah dan kerena itu disebut juga dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban kerena disunnahkan berkurban bagi yang mampu. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah. Ia merupakan bagian penting dari perayaan hari raya Idul Adha.

Pada hari raya Idul Adha, hukumnya sunnah bagi setiap muslim untuk tidak makan sampai selesai shalat Idul Adha. Ini merupakan kebalikan dari Idul Fitri yang disunnahkan makan sebelum berangkat ke masjid untuk shalat. Berdasarkan pada hadits riwayat Ahmad no. 22984

عن عبد الله بن بريدة، عن أبيه قال: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pagi pada hari Idul Fitri sehingga beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sehingga beliau pulang (dari shalatnya) kemudian memakan daging kurbannya”

 

Turut Berduka Atas Musibah yang Terjadi di Masjidil Haram

posted in: Berita | 0

إنا لله وإنا إليه راجعون

Kami Turut Berduka Atas Musibah yang Terjadi di Masjidil Haram.
Semoga Allah menerima seluruh amal sholehnya, diampuni semua dosa-dosa nya, keluarga mereka diberikan kesabaran,dan bagi korban meninggal semoga Allah berikan pahala syahid.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah, ada tujuh, mati karena penyakit tha’un (lepra) syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit di dalam perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa bangunan (benturan keras) syahid, dan wanita yang mati karena mengandung (atau melahirkan) syahid” (HR. Abu Dawud no 3111)

#prayformecca

Tiga Panggilan Allah yang Jarang Ditanggapi Oleh Manusia

posted in: Berita | 0

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki akal, pikiran, serta hawa nafsu. Allah menciptakan manusia di Dunia semata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Lewat Rasulullah SAW, manusia diajarkan cara-cara beribadah sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah. Selain lewat Rasulullah SAW, Allah memanggil langsung manusia untuk beribadah. Ada tiga panggilan Allah yang jarang ditanggapi oleh manusia pada saat ini. Padahal tiga panggilan tersebut adalah panggilan dari Allah, Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

1. Panggilan pertama adalah Adzan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah di Indonesia panggilan adzan sangat mudah sampai ketelinga kita. Masjid-masjid yang mengumandangkan adzan tidak jauh dari lingkungan kita dan jaraknya relatif dekat. Hal ini sangat berbeda apabila kita berkunjung ke luar negeri yang mayoritas penduduknya beragama non-muslim. Sangat susah untuk menjumpai masjid dan mendengarkan adzan berkumandang.

Adzan yang terdengar seringkali diacuhkan,tidak disimak, bahkan tidak dipenuhi panggilan tersebut. Padahal ini adalah panggilan dari Allah yang diwakilkan oleh muadzin di setiap masjid. Seorang muslim laki-laki wajib hukumnya untuk memenuhi panggilan ini dengan melaksanakan shalat wajib di masjid. Sesuai dengan hadits berikut ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ  فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata: Ada seorang lelaki buta yang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak memiliki penuntun yang menuntun saya untuk berangkat ke masjid.”Dia meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk diberikan keringanan agar  diperbolehkan untuk shalat di rumahnya. Maka Nabi pun memberikan keringanan kepadanya, kemudian ketika lelaki itu berbalik untuk pulang beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah kamu masih mendengar panggilan adzan?”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu maka penuhilah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah).

Hal yang terjadi di Dunia saat ini, manusia cenderung lebih bersemangat dan sangat mempersiapkan diri ketika dipanggil oleh kepala negara atau pejabat. Sedangkan panggilan Allah Tuhan semesta alam, yang tiada bandingannya untuk memenuhi panggilan-Nya masih banyak manusia yang bermalas-malasan dan mengacuhkan panggilan tersebut.

Sudah sepantasnya kita sebagai umat muslim bersegara dalam memenuhi panggilan Allah untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Karena menjaga shalat lima waktu di masjid akan mendapatkan naungan Allah dihari kebangkitan kelak. Yang mana dihari tersebut tidak ada pertolongan lagi selain pertolongan dari Allah SWT.

2. Panggilan kedua adalah Haji dan Umroh

Haji adalah rukun Islam yang kelima. Haji merupakan ibadah yang dilakukan dengan mengunjungi Mekkah dan Madinah serta melakukan rangkain ibadah haji dan umroh di dalamnya. Haji dilaksanakan setiap tahun sekali dan dilaksanakan oleh kaum muslim sedunia yang mempunyai kemampuan.

Allah memanggil umat muslim untuk berhaji dengan cara yang sangat halus. Allah memanggil hamba-hamba-Nya dengan panggilan yang halus dan sifatnya bergiliran setiap tahun. Ada hamba yang tidak mampu secara finansial namun tetap bisa berangkat haji, dan ada hamba yang mempunyai kemampuan finansial tetapi belum bisa berangkat haji.

Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 97 :

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali-Imran: 97).

Maka berniat untuk berhaji dan berumroh harus kita tanamkan sejak dini, karena bukan perkara biaya yang menjadi penghambat tetapi niat dan kesungguhan kita dalam berupaya dan berdoa untuk memenuhi panggilan Allah tersebut. Masih banyak saudara-saudara kita yang kaya namun belum mempunyai niat untuk berhaji dan Allah pun tidak memberangkatkannya.

 

3. Panggilan ketiga adalah kematian

Firman Allah dalam surat Al Fajr 27-28 :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Sesungguhnya semua yang hidup akan mati begitu juga manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian. Kematian adalah panggilan dari Allah keseluruh makhluknya tidak terkecuali manusia. Kematian adalah jalan untuk bertemu dengan Allah, mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di Dunia. Tidak ada yang mengetahui kapan kematian akan menjemput kita dan sewaktu-waktu dapat terjadi.

Panggilan Allah yang ketiga ini sering kali diacuhkan oleh manusia. Melihat teman, saudara, bahkan orang tua meninggal dunia hati ini hanya diliputi oleh duka saja tanpa ada rasa khawatir kematian seperti apa yang akan menimpa kita kelak. Apakah khusnul khatimah atau su’ul khatimah kematian yang akan kita alami?

Sudah sepatutnya menyaksikan kematian, semakin bertambah keimanan, semakin bertambah ketakwaan kepada Allah SWT. Kematian pasti akan menjemput dan persiapan seperti apakah yang telah kita siapkan?

Wallahualam.

 

Nama dan Sifat Al Quran yang Harus Diketahui

posted in: Berita | 0

Berapa Sebenarnya Jumlah Nama Al Quran?

Telah banyak ulama yang mencoba mengumpulkan dan menghitung nama-nama Al Quran dalam kitab yang mereka karang. Namun demikian, tidak ada kesepakatan di antara para ulama tersebut tentang berapa sebenarnya jumlah nama dari Al Quran.

Ketidaksepakatan jumlah nama Al Quran dikarenakan adanya perbedaan pendapat mengenai pengelompokkan mana yang sebenarnya merupakan nama Al Quran dan mana yang sebenarnya hanyalah sifat dari Al Quran. Sebagian ulama menolak pendapat bahwa Al Quran memiliki banyak nama hingga berjumlah puluhan dan mengatakan bahwa sebagian besar dari jumlah tersebut hanyalah sifat, bukan nama. Sebagian ulama, semisal Al Mawardi, juga berpendapat bahwa nama sebenarnya dari Al Quran hanya berjumlah lima, yaitu Al Quran, Al Kitab, Adz Zikr, Al Furqon, dan At Tanzil.

Terlepas dari berbagai pendapat mengenai berapa jumlah sebenarnya dari nama-nama Al Quran, hal yang perlu disepakati adalah bahwa nama dan sifat dari Al Quran bersifat tauqifiyah. Artinya, nama dan sifat yang disematkan kepada Al Quran haruslah berdasarkan Al Quran dan hadis nabi, tidak dibenarkan untuk dibuat-buat sendiri.

Di Antara Nama dan Sifat Al Quran

Al-Qur’an memiliki sejumlah nama lain sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Qur’an itu sendiri. Masing-masing nama memberikan gambaran yang jelas mengenai fungsinya bagi kehidupan manusia. Berikut Nama dan Sifat Al Quran yang Harus Diketahui oleh umat muslim :

Nama-nama dan sifat al-Qur’an :

  1. Al-Kitab(buku / Tulisan)

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)

  1. Al-Furqan(pembeda benar salah)

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)

  1. Adz-Dzikr(pemberi peringatan)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)

  1. Al-Mau’idhah(pelajaran/nasihat)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

  1. Asy-Syifa’(obat/penyembuh)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

  1. Al-Hukm(peraturan/hukum)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra’d [13]:37)

  1. Al-Hikmah(kebijaksanaan)

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Israa’ [17]:39)

  1. Al-Huda(petunjuk)

Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan penguranganpahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)

  1. At-Tanzil(yang diturunkan)

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, QS. Asy Syu’araa’ [26]:192)

  1. Ar-Rahmat(karunia)

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)

  1. Ar-Ruh(ruh)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)

  1. Al-Bayan(penerang)

(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)

  1. Al-Kalam(ucapan/firman)

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)

  1. Al-Busyra(kabar gembira)

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. An Nahl [16]:102)

  1. An-Nur(cahaya)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (Al-Qur’an). (QS. An Nisaa’ [4]:174)

  1. Al-Basha’ir(pedoman)

Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)

  1. Al-Qaul(perkataan/ucapan)

Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur’an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash [28]:51)

  1. Al-Quran adalah Ash-Shirath Al-Mustaqim(jalan lurus)

Bahwasanya semua nama dan sifat tersebut mengandung makna, motivasi yang harus kita Imani, dipelajari dan diamalkan supaya mendapatkan Syafaat dan manfaat dari nama tersebut.

Oleh: ust Heri Mahbub

Sumber : rasmulbayan Tarbiyah

Lima Makna Al Quran yang Sering Dilupakan Orang

posted in: Berita | 0

Menyelami makna Al Qur’an bagaikan mengarungi langit yang luas, banyak yang belum tersentuh ketinggian maknanya, keagungan dan keindahannya tak terbatas, manusia hanya mampu memahami sesuai dengan ilmu dan kapasitasnya yang terbatas.

 Al-Qur’an secara bahasa berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (١٧)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨

Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(Al Qiyamah,75 :17-18)

Secara makna Al-Qur’an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Muhammad saw. diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

Maka akan dijelaskan Lima Makna Al Quran yang Sering Dilupakan Orang dari 5 definisi tersebut yaitu;

  1. Al-Qur’an adalah kalamullah  (كلام الله)

Hal ini memberikan pengertian bahwa al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana yang ada pada semua kitab selainnya. Al Qur’an bukanlah makhluk sebagaimana ciptaan Allah, Kebenarannya yang ada di dalamnya adalah mutlak.

  1. Mukjizat yang abadi  (اَلْمُعْجِز)

Mukjizat adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabiannya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya dapat dilihat dari keorisinilannya. Belasan abad sudah kitab ini tidak berubah meskipun hanya satu huruf, demikian hingga akhir jaman. Allah telah menjamin untuk menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa dan kandungannya.

  1. Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw. ( لْمُنَـزَّلُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) 

Keberadaannya sebagai wahyu yang diturunkan ke dalam hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberikan manfaat kalau interaksi dengannya merupakan interaksi qalbiyah [hati]. Initeraksi inilah yang akan menggerakkan hingga tercipta perubahan. Hubungan lisan akan menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan.

  1. Diriwayatkan secara mutawatir.    (اَلْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ)   

Informasi agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang yang adil [kredibilitas moral], sempurna hafalannya [kapabilitas], dan tidak mungkin sepakat bohong. Seluruh ayat-ayat al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian.

  1. Membacanya merupakan ibadah,  (اَلْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ) 

Karena ia adalah kalamullah, maka membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang. Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya. Semakin intens membacanya semakin meningkat keimanannya. Pahala besar akan diberikan oleh Allah pada mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam mimm bukan satu huruf, tapi tiga huruf.Rasulullah saw. juga pernah mengatakan,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

”Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim sebagai satu haruf. Namun Alif merupakan satu huruf, Lam satu huruf dan Mim juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

oleh: Ust Heri Mahbub
Sumber: rasmulbayan tarbiyah

1 2 3 4 5 16