Empat Hal yang Mencegah Manusia dari Kerugian

Empat Hal yang Mencegah Manusia dari Kerugian

posted in: Berita | 0

Dalam surah Al ‘Ashr, Allah ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr) .

Surat Al ‘Ashar adalah surat pendek yang terdiri dari tiga ayat. Walaupun pendek, surat Al ‘Ashar memiliki makna yang dalam. Imam Asy Syafi’i pernah berkata bahwa seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk manusia. Maksudnya adalah jika manusia memahami makna dan kandungan surat Al ‘Ashr maka surat ini cukup untuk mendorong manusia agar mau beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu.

Dalam surat Al ‘Ashr dijelaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam surat ini adalah kerugian di dunia dan di akhirat. Namun kerugian tersebut dapat dicegah dengan Empat Hal yang Mencegah Manusia dari Kerugian diantaranya :

1. Beriman Kepada Allah SWT yang dilandasi dengan Ilmu

Beriman kepada Allah harus dilandasi dengan ilmu. Tanpa ilmu keimanan seseorang tidaklah sempurna. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang mendekatkan diri dengan Allah SWT. Bisa jadi dengan mempelajari ilmu tentang duniawi maka akan semakin membuat manusia yakin tentang kebesaran Allah SWT. Namun sudah sepatutnya seorang muslim harus mendahulukan ilmu syar’i (ilmu agama) sebagai pondasi untuk menegakkan tiang-tiang agama Islam. Ilmu agama diperlukan guna menjawab permasalahan seperti prinsip keimanan dan syariat-syariat Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ

”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim untuk mempelajari berbagai hal untuk menyempurnakan agamanya. Manusia pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan, oleh karena itu perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah SWT berfirman :

مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ  نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).

2. Mengamalkan Ilmu

Ilmu yang telah didapatkan tidaklah berarti apabila tidak diamalkan. Seseorang telah dikatakan berilmu apabila dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Dengan ilmu, manusia dapat saling nasehat menasehati untuk sesuatu hal yang lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda :

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ

”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

Dari hadits di atas seseorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya termasuk orang-orang yang merugi. Merugi karena di akhirat kelak ilmu yang telah dipelajarinya akan ditanya dan diminta pertanggung jawabannya.

3. Berdakwah Kepada Allah SWT

Mengajak kepada kebenaran dengan cara saling menasehati adalah salah satu cara dalam berdakwah. Berdakwah, mengajak manusia untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT adalah tugas para Rasul dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda :

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).

Dari hadits diatas orang-orang yang memberi petunjuk kebenaran kepada orang lain lebih baik dari pada unta merah yaitu unta yang terbaik dan paling mahal harganya. Pada hakekatnya orang-orang yang telah mengetahui tentang ilmu dan mengamalkannya namun tidak mengajak orang lain adalah orang yang masih berada dalam kerugian.

Rasulullah SAW bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).

Dari hadits di atas dapat dikatakan bahwa seseorang yang tidak perduli dengan dakwah belum sempurnalah keimanannya sehingga termasuk golongan orang yang merugi. Yaitu golongan orang yang merugi dikarenakan ilmu yang dimiliki dan diamalkannya tidak diajarkan dan disebarkan kepada orang lain. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang diberikan insyaallah akan bernilai besar dimata Allah SWT.

 

4. Bersabar dalam Dakwah

Hal yang mencegah manusia dari kerugian yang keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala. Kebenaran yang diseru akan berbenturan dengan kebatilan. Kebenaran adalah jalan yang sulit ditempuh karena mengekang hawa nafsu yang bertentangan dengan syariat Islam. Sedangkan kebatilan berisi kesenangan duniawi yang bertentangan dengan syariat Islam.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (٣٤)

”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).

Sudah menjadi fitrah sejak jaman Rasul-Rasul terdahulu bahwa penyeru kebenaran akan mendapatkan pendustaan dan penganiayaan. Maka sabar adalah jalan terakhir yang dapat dilakukan sembari berdoa memohon kepada Allah untuk memberikan pertolongan-Nya.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata :

فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]

”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang senantiasa Allah beri petunjuk agar terhindar dari kerugian-kerugian dan memberikan keuntungan-keuntungan di dunia maupun di akhirat.

Sumber : muslim.or.id

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply