Empat Wanita Terbaik Dalam Hadits Rasulullah SAW

Empat Wanita Terbaik Dalam Hadits Rasulullah SAW

posted in: Berita | 0

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻧِﺴَﺎﺀِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ: ﺧَﺪِﻳﺠَﺔُ ﺑِﻨْﺖُ ﺧُﻮَﻳْﻠِﺪٍ ﻭَﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ ﺑِﻨْﺖُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻭَﺁﺳِﻴَﺔُ ﺑِﻨْﺖُ ﻣُﺰَﺍﺣِﻢٍ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓُ ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ، ﻭَﻣَﺮْﻳَﻢُ ﺍﺑْﻨَﺔُ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ

“Sebaik-baik wanita penghuni Surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam binti ‘Imran.” (HR. Ahmad, no. 2668).

Terdapat empat wanita terbaik dalam Hadits Rasulullah SAW dalam hadits diatas. Empat wanita ini mendapatkan gelar terbaik karena mencintai Allah. Jika di urutkan berdasarkan jaman, maka pemabahasan wanita terbaik ini akan dimulai dari Asiyah.

1. Asiyah binti Muzhaim

Banyak orang yang tidak tahu sosok Asiyah binti Muzhaim. Keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.

Saat bersama Fir’aun, Asiyah tidak dikaruniai seorang anak pun. Fir’aun sangat mencintainya karena kecantikan dan kematangan akhlaknya. Telah berapa banyak cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh kesabaran. Hingga beliau bertemu dengan anak angkatnya seorang bayi laki laki yang kelak akan menjadi nabi yaitu Musa AS. Maka muncullah perasaan kasih sayang dalam diri Asiyah. Allah mengaruniakan cinta dan kasih sayang terhadap bayi tersebut melalui Asiyah. Tak pelak lagi, Asiyah memerintahkan agar bayi itu dibawa ke istana dengan bertekad memelihara dan mengasuhnya.

Ditangan Asiyah lah Musa menjadi sosok yang memiliki akhlak yang terpuji walaupun tinggal di lingkungan istana hingga diturunkannya wahyu dari Allah SWT kepada Musa AS. Mendengar kebenaran dari Musa, Asiyah percaya dan beriman kepada Allah SWT. Kebenarannya tidak dapat dihalangi oleh tantangan dan ancaman yang datangnya dari Fir’aun. Hingga meninggal dunia, hari-hari akhirnya Asiyah hanya dipenuhi dengan dzikir kepada Allah seraya mengucapkan, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya.”

 

2. Maryam binti Imran

Maryam binti Imran adalah seorang wanita yang kisahnya diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Maryam. Maryam adalah anak Nabi Imran AS. “Dan, (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas sekalian perempuan di alam. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk’.” (Surah Ali Imran ayat 42-43).

Maryam adalah wanita suci yang dibesarkan dalam asuhan nabi Zakariya dan berkhidmat di dalam Baitul Maqdis hingga dewasa. Terjadi ikhtilaf di kalangan ulama yang berpendapat bahwa Maryam adalah nabi atau bukan. Lalu Maryam pun mengandung Isa AS tanpa ayah dengan seizin Allah SWT. Saat mengandung Isa, Maryam menghadapi banyak cobaan mulai dari cobaan beratnya mengandung hingga lingkungan sekitar yang mempertanyakan kesucian Maryam.

Ketika bayi yang dikandungnya telah lahir, yaitu Isa as, Maryam pun masih mendapati kaumnya mempertanyakan tentang kesucian dan kehormatannya.
“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.”
“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.”
maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”
Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

3. Khadijah binti Khuwailid

Khadijah adalah Istri nabi Muhammad SAW, wanita pertama yang hatinya tersirami keimanan dan dikhususkan Allah untuk memberikan keturunan bagi Rasulullah SAW., menjadi wanita pertama yang menjadi Ummahatul Mukminin, serta turut merasakan berbagai kesusahan pada fase awal jihad penyebaran agama Islam kepada seluruh umat manusia. Khadijah adalah wanita yang lahir dari keluarga terhormat di lingkungan suku Quraisy. Sebelum menikah dengan Rasulullah Khadijah telah menikah dua kali dan sering dijuluki dengan wanita suci karena keutamaan akhlak dan sifat terpujinya. Khadijah mewarisi harta yang banyak dari suaminya yang telah meninggal dan memutuskan untuk tetap berdagang.

Khadijah tertarik dengan Nabi Muhammad SAW ketika menjalin kerja sama dagang. Cerita-cerita tentang Muhammad itu meresap ke dalam jiwa Khadijah, dan pada dasarnya Khadijah pun telah merasakan adanya kejujuran, amanah, dan cahaya yang senantiasa menerangi wajah Muhammad. Muhammad pun menyetujui permohonan Khadijah tersebut. Maka, dengan salah seorang pamannya, Muhammad pergi menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin As’ad untuk meminang Khadijah.

Khadijah adalah istri Nabi yang pertama dan menjadi istri satu-satunya sebelum beliau mneninggal. Allah menganugerahi Nabi Muhammad SAW melalui rahirn Khadijah beberapa orang anak . Dia telah mernberikan cinta dan kasih sayang kepada Rasulullah Muhammad SAW. pada saat-saat yang sulit dan tindak kekerasan dan kekejaman datang dari kerabat dekat. Bersama Khadijah, Rasulullah SAW mernperoleh perlakuan yang baik serta rumah tangga yang tenteram damai, dan penuh cinta kasih, setelah sekian lama beliau merasakan pahitnya menjadi anak yatim piatu dan miskin.

Saat Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama maka Khadijah meyakini seruan suaminya dan menganut agarna yang dibawanya sebelum diumumkan kepada rnasyarakat. Itulah langkah awal Khadijah dalam menyertai suaminya berjihad di jalan Allah dan turut menanggung pahit getirnya gangguan dalam menyebarkan agama Allah. Hingga datang wahyu untuk berdakwa secara terang-terangan Khadijah senantiasa menyemangati perjuangan Rasulullah SAW. Hingga akhirnya terjadilah pemboikotan oleh kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah, ketika itu kehidupan Khadijah sangat jauh dari kehidupan sebelumnya yang bergelimang dengan kekayaan, kemakmuran, dan ketinggian derajat. Khadijah rela didera rasa haus dan lapar dalam mendampingi Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Dia sangat yakin bahwa tidak lama lagi pertolongan Allah akan datang. Keluarga mereka yang lain, sekali-kali dan secara sembunyi-sembunyi, mengirimkan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup.

Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan itu. Semakin hari, kondisi badannya semakin menurun, sehingga Rasulullah SAW semakin sedih. Bersama Khadijahlah Rasulullah SAW membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia enam puluh lima tahun, Khadijah meninggal, menyusul Abu Thalib. Khadijah dikuburkan di dataran tinggi Mekah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.

4.Fathimah binti Muhammad

Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah Az zahra (Fatimah yang selalu berseri) adalah putri bungsu Nabi Muhammad SAW dari pernikahan pertama dengan Khadijah. Fatimah lahir lima tahun sebelum Muhammad SAW diangkant menjadi Nabi dan Rasul. Fatimah tumbuh besar di bawah naungan wahyu Ilahi. di tengah kerasnya hidup Rasulullah saat berdakwah dan diboikot oleh orang-orang dari suku Quraisy. Fatimah adalah anak yang paling dicintai Rasulullah sehingga beliau bersabda ”Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku.” [Ibnul Abdil Barr dalam “Al-Istii’aab”].

Pada saat usia Fatimah menginjak lima tahun beliau telah ditinggal pergi Ibunya yang telah wafat. Secara tidak langsung Fatimah lalu menggantikan peran ibundanya dalam melayani,membantu,dan membela Rasulullah SAW sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha ( Ibu dari Ayahnya). Dalam usia yang masih kanak-kanak Fatimah menjalani masa-masa sulit perlakuan keji kaum kafir Quraisy kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air mata kerana melihat penderitaan yang dialalmi ayahnya.

Beranjak dewasa, Fatimah yang telah siap menikah akhirnya dinikahkan oleh Rasulullah SAW dengan Ali Bin Abi Thalib sesuai perintah dari Allah SWT. Ali saat itu bukanlah orang kaya dan hanya memiliki 400 dirham sebagai mahar yang diberikan kepada Fatimah. Keluarga Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya. Pada tahun ke 2 hijriah lahirlah putra pertama Fatimah yang diberi nama Hasan setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Azzahra r.a. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Sumber : Fatimah Az Zahra

Setiap wanita di dunia ini mempunyai tugas yang sama yaitu menjadi madrasah bagi anak-anak dan keluarganya. Begitulah yang dilakukan oleh Asiyah yang mendidik Musa, Maryam yang mendidik Isa, Khadijah yang menyemangati Rasulullah, dan Fatimah yang sangat berbakti dan mencintai ayahandanya Rasulullah SAW.

 

 

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply