Keutamaan Sepuluh Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

posted in: Berita | 0

Bulan Dzulhijjah adalah bulan haji karena pada bulan tersebut umat Islam di seluruh Dunia melaksanakan rangkaian ibadah haji. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang memiliki keutamaan selain bulan ramadhan. Bulan Ramadhan yang telah berlalu membuat umat muslim rindu akan nikmatnya beribadah dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Bulan Dzulhijjah memiliki keistimewaan yang jarang diketahui oleh masyarakat terutama di Indonesia. Kesemarakan menjelang bulan Ramadhan harus dihadirkan kembali di bulan Dzulhijjah ini untuk meningkatkan keasadaran masyarakat akan keistimewaan bulan Dzulhijjah. Banyak dalil-dalil yang menyebutkan keistimewaan di bulan Dzulhijjah yaitu :

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah adalah dua bulan yang istimewa.

Apa saja keistimewaan bulan Dzulhijjah?

Bulan Dzulhijjah memiliki beberapa keistimewaan salah satunya adalah keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.Dalil tentang keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yaitu :

Di surat al-Fajr, Allah berfirman:

وَ الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr: 1 – 2)

Ibn Rajab menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih mayoritas ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan riwayat dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma” (Lathaiful Ma’arif, hal. 469)

Dari dalil tentang keutamaan sepuluh hatr pertama di bulan Dzulhijjah di atas, Quran Cordoba merangkumnya ke dalam poin-poin berikut ini :

 

1. Melaksanakan Haji dan Umrah

Melaksanakan ibadah haji dan umrah pada bulan Dzulhijjah adalah amalan yang utama. Rasulullah SAW bersabda

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجن

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

Firman Allah dalam surat Ali Imran 97 :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah , yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imron: 97]

 

2. Puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah

Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya :

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah disana terdapat hari-hari yang didalamnya dikerjakan amalan-amalan shalih, lebih dicintai di sisi Allah ta’ala, melainkan sepuluh hari ini. Maka para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak pula jika seorang berjihad di jalan Allah?”, maka beliau menjawab : “Walaupun dia berjihad di jalan Allah, kecuali jika seorang yang pergi untuk berjihad dengan membawa jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan sesuatu apapun darinya.” (HR Imam Al Bukhari dan Imam At Tirmidzi )

Dari hadits di atas beramal di sepeluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah amalan yang lebih dicintai Allah. Berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah salah satu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan puasa senin-kami, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan puasa enam hari pada bulan syawal.

Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah maksudnya adalah puasa dari tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah. Tanggal sepuluh Dzulhijjah diharamkan untuk berpuasa karena bertepatan dengan hari iedul adha hingga hari ke tiga belas yaitu hari tasyrik.

 

3. Memperbanyak takbir dan dzikir

Memperbanyak takbir dan dzikir merupakan amalan sholih yang jika dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah sesuai dengan sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah yang tertera pada hadits berikut :

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

 

4. Memperbanyak sedekah

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 261 :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦١)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah (2): 261) .

Bersedekah di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah merupakan amalan sholih yang akan mendapatkan ganjaran pahala hingga tujuh ratus kali lipat.

 

5. Berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah

Puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dan merupakan salah satu rangkaian amalan puasa yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama pada bulan Dzulhijjah bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Puasa Arafah dikerjakan ketika jamaah haji sedang melakukan wukuf di padang Arafah. Puasa Arafah memiliki keistimewaan yang terdapat pada hadits berikut :

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

 

6. Berkurban

Berkurban adalah ibadah kepada Allah dengan cara menyembelih seekor kambing, domba, sapi untuk tujuh orang, dan unta . Adapun hukum berkurban adalah sunnah muakkad menurut jumhur ulama. Ibadah kurban dianjurkan untuk dilaksanakan bagi orang yang mampu setiap tahunnya. Rasulullah SAW selalu berkurban setiap tahunnya ketika di Madinah. Rasulullah SAW bersabda :

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa memiliki kelapangan (rizki) tapi tidak berkurban, janganlah ia mendekati tempat sholat kami.” [HR. Ibnu Majah Dihasankan oleh al-Albani dalam Takhrij Musykilatul Faqr no. 102]

 

7. Tidak memotong atau mencabut rambut, kulit dan kuku bagi yang akan berkurban

Bagi orang yang akan berkurban dianjurkan untuk tidak memotong rambut,kulit dan kuku, sesuai hadits Rasulullah SAW :

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

 

8. Sholat Iedul Adha

Shalat Idul Adha adalah shalat yang diadakan pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan ibadah haji di Makkah Al-Mukarramah dan kerena itu disebut juga dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban kerena disunnahkan berkurban bagi yang mampu. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah. Ia merupakan bagian penting dari perayaan hari raya Idul Adha.

Pada hari raya Idul Adha, hukumnya sunnah bagi setiap muslim untuk tidak makan sampai selesai shalat Idul Adha. Ini merupakan kebalikan dari Idul Fitri yang disunnahkan makan sebelum berangkat ke masjid untuk shalat. Berdasarkan pada hadits riwayat Ahmad no. 22984

عن عبد الله بن بريدة، عن أبيه قال: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pagi pada hari Idul Fitri sehingga beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sehingga beliau pulang (dari shalatnya) kemudian memakan daging kurbannya”

 

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply