Kisah Menghafal Al-Quran

Kisah Menghafal Al-Quran

posted in: Berita | 0

 

Jika ada sebuah rekor jumlah penghafal suatu kitab dan masuk ke guiness of book, kitab yang berabad-abad dihafal oleh jutaan orang tanpa ada yang berubah sedikitpun isinya. Maka jawabnya adalah al Qur’an. Pakistan beberapa tahun lalu pernah  tercatat sebagai Negara penghafal Qur’an terbanyak yaitu sekitar 7 juta, sementara di jalur Gaza palestina informasi mutakhir menyebutkan setiap tahun berhasil melantik 15 ribu penghafal Qur’an.

Belum lagi di mesir dan belahan negri muslim lainnya termasuk Indonesia.’Inilah kitab suci al Qur’an yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya’, dijaga oleh para penghafalnya. Kebanggaan sebagai Muslim mempunyai kitab suci yang sangat dihormati, diagungkan, bahkan kesuciaannya begitu dijaga, maka inspirasi dari penghafal Qur’an dikenal dengan Hafiz  harus terus digali dan dicari, karena kemuliaan umat islam tergantung dari kedekatan umatnya dalam berinteraksi dengan al Qur’an.

Ketika mendengar kata menghafal Al Qur’an ‘tahfiz’ yang ada dalam benak setiap muslim pasti berbeda-beda, gambaran yang umum biasanya tentang tadarusan, aktivitas kaku, hanya di mesjid, pesantren, berdiam diri dan eksklusif dengan persepsi bahwa menghafal Qur’an itu sangat sulit, mustahil, banyak, menyita waktu, mengulang-ulang bacaan dan lainnya. Apakah persepsi itu benar? Sudah benarkah dengan pemikiran kita?

Bagaimana kita memahami cara menghafal Qur’an yang benar, yang mengikuti sunah Nabi SAW, yang relevan dengan perkembangan zaman? Dan muslim apapun status dan profesinya mampu juga untuk menghafal Al Qur’an, bangga melaksanakan aktivitas Tahfizh Qur’an tersebut sebagaimana Rasulullah, para sahabat, Salafusholeh, para Ulama dan umat Islam melakukannya sepanjang 14 abad ini.

Acara Ramadhan tahun 2013 di Televisi sangat spesial bagi penghafal Al Qur’an, karena ada program Hafiz Indonesia. Semua muslim, termasuk siapapun yang tidak mengenal dan faham Al Qur’an pasti akan takjub dan bangga melihat anak-anak kecil mampu melafalkan ayat-ayat al Qur’an tanpa melihat tulisannya. Hafal Qur’an saat belum balig, jiwanya bersih, akhlaknya baik sangat membanggakan bagi orang-tuanya, agamanya, dan Indonesia.

Acara tersebut sangat berpengaruh, menyentuh bahkan memiliki rating tertinggi dan favorit untuk program acara di bulan Ramadhan.  Di  timur tengah anak-anak usia dibawah 10 tahun hafal 30 juz itu biasa dan banyak, ini menjadi pertanda sebuah generasi baru, generasi penjaga Al Qur’an, para pencinta wahyu. pertanda kebangkitan Islam yang dimulai semaraknya umat kembali kepada Al Qur’an. ‘Mindset’ bahwa “anak kecil saja bisa maka yang pernah kecil pun pasti bisa”. maka ada sebuah pertanyaan, apakah kita sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, pengusaha mempunyai kemauan untuk menghafal al Qur’an, kemauan dan tekad yang kuat untuk minimal menghafal 3 juz  atau 1 juz al Qur’an, hanya juz 30 bukan 30 juz, kemauan yang disertai kemampuan untuk menghafal ayat-ayat Allah, Kitab suci yang menjadi kebanggan kita sebagai umat Islam, Firman suci yang menjadi mukjizat, sumber hukum, sumber semua ilmu pengetahuan, sumber petunjuk dan keselamatan umat manusia di dunia dan ke akhirat kelak.

Menurut Ulama ‘Abd al-Rabbi Nawabuddin tahfidz adalah proses menghafalkan al-Qur’an dalam ingatan sehingga dapat dilafadzkan di luar kepala secara benar dengan cara-cara tertentu dan terus menerus”. Menghafal Qur’an merupakan suatu aktivitas mulia, berpahala, amal ibadah yang dijamin masuk surga, tentu memerlukan metode, cara untuk menjalaninya dan ilmu yang terkait dengannya. Maka definisi yang saya sampaikan yaitu “Tahfidz Adalah: Usaha Menyimpan Hafalan Al-Qur’an ke dalam hati dengan Menggunakan metode  Tertentu yang berkesan sehingga mampu untuk mengingatnya lagi”.

Ini terkait dengan memory otak, bagaimana informasi disimpan dalam fikiran, menjaga hafalan Qur’an dalam akal dan hati.Tidak ada definisi yang disepakati atau metode yang pasti, semuanya hanya untuk mendekati bahwa aktivitas Tahfiz ini sangat mulia, unik, turun-temurun secara mutawattir sehingga keaslian al Qur’an tetap terjaga. Metode yang Rasulullah lakukan dengan Malaikat Jibril adalah ‘Talaqi’, yaitu Malaikat Jibril membaca langsung diikuti bacaan tersebut oleh Rasulullah. Rasulullah pun  setiap setahun sekali di bulan Ramadhan membacakan hafalan Al Qur’annya kepada malaikat Jibril. Metode talaqi ini terus digunakan kepada para Sahabat Rasul, para Ulama sampai kepada kita semua. Lalu zaman modern ini bagaimana metode dalam menghafal Qur’an?.

Memoar yang saya sampaikan ini pengalaman pribadi ketika menghafal Qur’an, lika-liku dan perjuangan saat menghafal Qur’an 30 juz, kebanggaan dan kebahagiaan sepanjang hidupku sebagai muslim saat menghatamkan Al Qur’an. Sebagaimana ucapan seorang ulama, “ kenikmatan berinteraksi dengan al Qur’an hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah merasakannya”, sulit melukiskan perasaan nikmatnya menghafal Qur’an, yang bisa disampaikan hanya perjalanannya, sebuah metode yang telah dilakukan, berbagai hambatan, masalah dan solusinya, memoar ini memberikan inspirasi indahnya hidup dibawah naungan al Qur’an.

Kenangan  diguyur 1 ember air oleh Ayah sendiri karena tidak mau belajar mengaji, lalu saat kelas 3 SD  Ayah wafat dan saya masih belum bisa baca al Qur’an. Di akhir hayatnya almarhum ayah berbisik kepada Ibu supaya besar saya rajin baca Qur’an, wasiat tersebut masih teringat. Inspirasi awal dari figur ayah yang bukan seorang kiayi,bukan ustaz, hanya lulusan Ekonomi UNPAD yang faham tentang pembinaan agama di keluarga, pendidikan Qur’an untuk anak-anaknya.

Masuk pesantren di Ciamis namun hanya bertahan 8 bulan. Kesan mengaji dan menghafal Qur’an di waktu shubuh sangat kuat dan masuk bawah sadar, walaupun hanya sebentar terasa bekas memorinya. Itulah awalnya inspirasi dari konsistensi Ibadah, pentingnya lingkungan yang Qur’ani, keberkahan hidup ketika melaksanakan sholat Dhuha dan ketenangan yang terasa di hati dan fikiran walaupun masih usia Sekolah Dasar.

Hidup sudah ada takdirnya, berusaha dan tawakal itulah yang mesti kita lakukan. Kembali menghafal Qur’an saat sekolah di SMA Negri 4 Bandung. tinggal semacam di Rumah Tahfiz yang dibiayai oleh Yayasan Sosial. Saat itu Rumah Tahfiz belum semarak dan menyebar seperti sekarang. Dari SMA selesai menghafal 10 juz, Tentu saja mengahafal Qur’an dengan status sebagai pelajar butuh metode dan proses untuk menjalaninya. Saya kutip dari buku ‘Menghafal Qur’an dengan otak kanan” Lima prinsip yang harus kuat selama perjalanannya; keikhlasan dengan niat tulus meraih Ridho Allah, Doa dan Ibadah yang selalu istiqomah, menjauh dari pengaruh-pengaruh kemaksiatan dan dosa, Menjadikan Qur’an sebagai jalan Ilmu, dan terakhir sifat sabar yang kuat dengan tidak pernah putus asa selama proses menghafal Qur’an.

Menghafal Qur’an di sekolah Negri dengan pergaulan dan pengaruh negatif tentu sangat mengganggu untuk istiqomah menghafal, namun ada hal-hal menarik ketika tidak ada guru saya membaca Qur’an di kelas sendiri, saat istirahat menyempatkan menghafal Qur’an sehingga teman-teman ada yang mengikutinya, bahkan ada kebanggaan ketika Guru-Guru pun ikut menghafal dan mencoba mengecek hafalan Qur’annya kepada saya. Pelajaran dari kisah tersebut, Ada tiga faktor yang bisa menghambat proses menghafal saat sudah punya kemauan hafal Qur’an diantaranya; faktor mental kejiwaan sehingga tidak percaya diri untuk menghafal Qur’an, Faktor akhlak pergaulan yang tidak mengenal batas sehingga ikut terpengaruhi, faktor manajemen waktu atau konsentrasi karena menghafal Qur’an menjadi program pribadi bukan program dari sekolah. faktor penghambat tersebut bisa diatasi apabila kita tahu solusinya dengan memegang teguh lima prinsip yang harus dimiliki seorang penghafal Qur’an.

Memoar pribadi ini karena merindukan lahirnya generasi penghafal Qur’an yang sholih, kuat, terbina, berwawasan luas dan mampu menjadi pemimpin. Memoar ini juga karena pengalaman sebuah metode tahfiz di sekolah,kampus,perkantoran yang sesuai dengan konteks zaman sekarang. menghafal Qur’an yang mampu memprogram kehidupan, mendukung kesuksesan hidup, menghindari pengaruh negatif zaman teknologi, meraih keberkahan di seluruh aspek pekerjaan.

Menghafal Qur’an bukan hanya skill yang diperlombakan dalam acara Musabaqoh, tidak sebatas menguji memory fikiran, otak kiri, tahfiz harus masuk ke fikiran bawah sadar, maknanya masuk ke dalam relung hati. Al Qur’an yang mampu mensugesti pribadi menjadi Islami, Keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi sejahtera, Negara menjadi baldatun thayyibun warabbun ghaffur.amin

Kota Jakarta, Cipayung Bambu Apus Tahun 2005 di Mah’had tahfiz Ustman Bin Affan. Itulah tempat saya selesai hafal 30 juz, terkesan Ustaz yang tawadhu, ikhlas, sangat perhatian dengan dakwah syiar Al Qur’an, Ustad Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc Al Hafiz. Setiap hari menghafal 1 halaman sehingga cukup 2 tahun untuk selesai, proses menjaganya itulah waktu yang lama, terus membaca mengulang hafalan ‘murajaah’ sampai akhir hayat.

‘Pelatihan menghafal cepat’, ‘Training Memory’ sampai Hipnosis dan NLP. Tema tersebut sedang ngetrend, banyak diadakan di berbagai kampus, perusahaan. Diburu semua untuk kesuksesan, perbaikan hidup, therapy. Tahun 2013 ini, Saya mempelajari, baru memahami dan mengkaitkannya untuk proses menghafal al Qur’an. Prinsipnya keutamaan al Qur’an sangat luar biasa, fadhilahnya untuk kehidupan dunia, syafaat pertolongannya untuk akhirat. Menghafal Qur’an dan faham isinya akan merasakan kemukjizatannya. Metodenya dengan pendekatan ilmu tersebut.  Menghafal Qur’an dengan otak kanan, Ilmu tentang fikiran bawah sadar, pendekatan Neuro Linguistic Programming ‘NLP’. sepertinya berat, namun hanya alat untuk mempermudah proses hafal al Qur’an, membantu daya ingat hafalan al Qur’an, membuat aktivitas tahfiz al Qur’an menjadi lebih menyenangkan dan berkesan.

Contoh hubungan bagaimana mengkaitkan ilmu tersebut dengan Tahfiz Qur’an, Ada teori dari Charles tebbet terkait fikiran bawah sadar, bahasa Qur’annya Shudur, bagaimana kita bisa memprogram fikiran bawah sadar, menginstaal relung hati. kaitannya dengan metode menghafal Qur’an sampai masuk ke fikiran bawah sadar atau internalisasi.

1.  Repetition / Pengulangan; menghafal Qur’an intinya banyak pengulanagan, semakin banyak membaca, mendengar, memperhatikan Qur’an maka menghafal Qur’an jadi lebih mudah dan berkesan. Metode Repetition ini langkah dasar, awal masuk ke fikiran bawah sadar.

2. Figure otoritas / teladan yang baik, dalam metode menghafal Qur’an hal ini terkait dengan almarhum ayah, kata-katanya mampu masuk bertahan lama karena pengaruh figur, saat menghafal qur’an menjadi penguat dan motivasi untuk selalu semangat. Program Menghafal Qur’an harus dari yang punya otoritas,figur teladan dari orang tua, guru, tokoh bangsa, sampai presiden.

3. Identitas kelompok / Lingkungan yang baik, menghafal Qur’an butuh suasana yang baik, tenang, jauh dari hura-hura, mencari teman dengan identitas yang sama menjadi penting. setiap orang selalu mencari temannya yang sama kelompok aktivitasya.

4. Emosi yang intens / hafalan masuk ke Shudur, perasaan senang, menghafal Qur’an diiringi pemahaman, hati yang terbuka, emosi yang terlibat dan meluap-luap, Tahfiz akan menjadi mudah, berkesan dan tidak mudah lupa.

5. Induksi Hypnosis / Program tahfiz yang mengikat, sistem yang disengaja, memaksa diri untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, metode Therapi yang harus ada kesadaran dari semua muslim untuk ‘berelaksasi’ dengan Ayat-ayat Qur’an, menerima, patuh dan mencintai al Qur’an sepenuhnya, sehingga tersugesti dengan program Tahfiz Qur’an, menjadi kebiasaan sehari-hari, menjadi keyakinan,  dan al Qur’an menjadi nilai yang sangat berharga di dalam diri setiap muslim.

Di akhir memoar tentang Kisah menghafal Al-Quran ini, saya cukup menyimpulkan dari sebuah ayat al Qur’an yang bermakna as Shudur atau fikiran bawah sadar. Membuktikan al Qur’an dihafal dengan metode, dengan ilmu, memberikan penjelasan kepada kalian semua bahwa penghafal al Qur’an itu pilihan Allah, dan kita punya haq untuk dipilih apapun profesinya, menghafal Qur’an itu mudah, sangat berkesan memberikan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Amin.

 

Kisah menghafal Al-Quran ini Di Tulis Oleh : Ust.Heri Mahbub Al-Hafidz. untuk qurancordoba.com

 

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply