MERASA BANYAK DOSA ATAU CUKUP/BANYAK AMAL | Penerbit Al Quran Indonesia

MERASA BANYAK DOSA ATAU CUKUP/BANYAK AMAL | Penerbit Al Quran Indonesia

posted in: Berita | 0
Oleh: KH Abdullah GymnastiarSUATU saat seorang santri baru bertanya tentang ungkapan perasaan seorang hamba yang merasa banyak dosa. Hamba tersebut mengharapkan surga, tapi merasa tidak pantas. Ia merasa dirinya lebih pantas di neraka, walau sangat tidak menginginkannya. Lalu, tambah santri tadi, hamba yang begitu termasuk contoh orang yang seperti apa?

Saya sampaikan kepadanya bahwa hamba yang begitu salah seorang contohnya adalah saya sendiri. Karena saya memang menginginkan surga, namun merasa tidak pantas. Dengan memperhatikan amal sendiri yang belum ikhlas, salat yang belum khusyuk, dan lain-lain. Walaupun banyak dosa, jika disebut neraka, pastinya saya tidak mau dimasukkan ke sana.

Jadi, sebenarnya kalau kita merasa banyak dosa itu jauh lebih baik dibanding merasa banyak amal. Yang merasa banyak amal biasanya akan sombong. Sedangkan yang merasa banyak dosa akan memperbanyak tobat.

Namun penting diingat, kalau merasa banyak dosa bukan berarti mengumumkan semua dosa masa lalu. Pernah begini, pernah begitu, sudah melakukan ini, dan melakukan itu. Jangan, Maksudnya bukan seperti itu. Nanti malah bisa jadi kufur nikmat, karena selama ini Allah SWT telah menutupi aib dan dosa kita. Tobat kita hanya kepada-Nya.

Ketika Allah SWT menyukai seorang hamba, maka hati hamba itu akan dibukakan oleh Allah untuk melihat dosanya yang besar…
Ia seolah-olah melihat gunung yang akan runtuh menimpanya. Betapa merasa terancam pada dosanya sendiri, sampai ia begitu sedih dan terbenam tangisan, Banyak bertobat….

Sangat sulit baginya untuk sombong. Ia terus-menerus berharap ampunan dan rahmat Allah SWT. Namun, terhadap orang lain, Allah justru membukakan hati mereka untuk melihat kemuliaan amalnya. Aib dan dosanya ditutupi oleh Allah SWT. Yang begini termasuk ciri-ciri orang beruntung..

Sebaliknya, orang celaka adalah orang yang tidak mampu melihat atau menyadari dosanya sendiri. Ia merasa suci, mulia, dan calon ahli surga. Ia merasa saleh sendiri. Padahal, terhadap orang lain, Allah membukakan hati mereka untuk melihat aib dan kekurangannya…

Orang yang munafik akan melihat dosanya bagai melihat lalat yang dianggap remeh. Ia cenderung ujub dan takabur pada amalnya. Inilah bahaya terbesar dalam hidup. Karena hidup kita sebetulnya penuh dengan dosa. Yang sama sekali tidak punya dosa di antara kita hanyalah bayi.

Nah, saudaraku, adakah di antara saudara yang membaca tulisan ini yang merasa tidak memiliki dosa? Atau merasa dosanya baru sedikit?

Marilah kita bertobat. Betapa persoalan terbesar dalam hidup ini adalah ketika memiliki banyak dosa, namun tidak merasa terancam dan tidak pula sanggup menangis bertobat..

Berikut ini kurang lebih terjemahan ungkapan perasaan yang dimaksud oleh santri tadi. Sebuah syair pengakuan dahsyat mengguncang, yang ditulis oleh Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, atau dikenal sebagai Abu Nawas:

“Wahai Tuhanku, Aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak mampu menahan panasnya api neraka. Maka terimalah tobatku, dan ampunilah dosa-dosaku. Karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi maaf atas dosa-dosa yang besar.”

“Dosaku bagaikan bilangan pasir, terimalah tobatku wahai Tuhanku yang memiliki keagungan. Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.”

“Wahai Tuhanku, Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui seluruh dosa, dan telah memohon kepada-Mu. Seandainya Engkau mengampuni, memang Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-Mu?” …

 

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply