Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?

Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?

posted in: Berita | 0

Penerbit Quran Terbaik dan Paling Berkualitas

Ketika menjawab pertanyaan demikian, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab:

Membuktikan bahwa kita itu bertauhid dengan benar yaitu dengan ikhlas kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Yaitu bahwa ibadah yang dilakukan hanya untuk Allah Ta’ala semata, bukan karena riya dan bukan karena ingin disukai orang. Namun beribadah dengan ikhlas kepada Allah. Ini dalam hal ibadah.

Demikian juga dalam hal rububiyah, yaitu dengan tidak bergantung kecuali kepada Allah, dan tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma:

يا غلام إني أعلمك كلمات: احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله. واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك بشيءٍ لم ينفعوك إلا بشيءٍ قد كتبه الله لك، ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيءٍ لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك

wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa kata: jagalah Allah, niscaya ia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu, jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika sebuah kaum berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagimu. Dan jika sebuah kaum berkumpul untuk memberimu bahaya, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu

Dengan demikian, hendaknya senantiasa meminta kepada Allah agar ditetapkan pada kebenaran dan pada tauhid yang benar. Karena banyak orang yang mereka memiliki kadar minimal dari tauhid, dan mereka juga melakukan hal-hal yang mengikis tauhid.

Saya beri contoh yang banyak di sepelekan di antara manusia: mereka bergantung pada sebab-sebab. Memang benar telah kita ketahui bersama bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan sebab-sebab untuk terjadinya sesuatu. Bagi orang sakit, Allah telah menetapkan adanya sebab-sebab yang membuat ia sembuh. Orang yang bodoh, Allah telah menetapkan adanya sebab-sebab yang bisa menghilangkan kebodohannya. Bagi yang menginginkan anak, Allah juga telah menetapkan adnaya sebab-sebab agar bisa terlahir anak. Demikianlah segala sesuatu berjalan. Namun sebagian orang menggatungkan diri pada sebab-sebab. Sehingga ketika sakit, mereka bergantung secara total pada rumah sakit dan dokter. Sehingga seolah-olah ia menganggap kesembuhan ada di tangan rumah sakit dan dokter. Ia lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang telah menjadikan rumah sakit dan dokter sebagai sebab yang bisa memberikan manfaat pada orang sakit, dan terkadang tidak bisa memberikan manfaat. Jika rumah sakit dan dokter bisa memberikan manfaat, maka itu sesungguhnya merupakan karunia dari Allah dan terjadi atas takdir yang Allah tetapkan. Dan jika tidak bisa memberikan manfaat, maka itu merupakan ketetapan Allah yang adil dan takdir yang Allah putuskan.

Maka tidak sepatutnya, bahkan tidak diperbolehkan seseorang lupa kepada pencipta sebab dan malah mengingat-ingat sebab. Memang, kita tidak mengingkari bahwa sebab-sebab itu memiliki pengaruh kepada hasil. Namun hasil ini terjadi karena izin Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala tentang sihir:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya” (QS. Al Baqarah: 102)

lalu Allah berfirman:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah” (QS. Al Baqarah: 102)

Maka intinya, membuktikan bahwa kita itu bertauhid dengan benar yaitu dengan mengaitkan hati kita kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan takut maupun dalam keadaan penuh harap, serta mengkhususkan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah semata.

Sumber: Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 1/2, Asy Syamilah

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply