Quran di Hati Raih Surga Tertinggi

Quran di Hati Raih Surga Tertinggi

posted in: Berita | 0

 Quran di hati raih surga tertinggi

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( QS Al Hijr,15 : 9 )

Pembaca yang dirahmati Allah swt

Salah satu hikmah diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur adalah supaya lebih mudah menghafal dan mengingatnya. Jaminan dari Allah swt, Keaslian Al Qur’an akan terjaga sampai hari kiamat, tanpa ada perubahan baca bacaan dan kemukjizatan maknanya.

Sungguh Al Quran adalah Syafaat, Penolong, menjadi pembela di hari akhirat kelak bagi orang yang menjadi sahabatnya. Maka interaksi kita bersama Al Qur’an dengan membaca, menghayati, menghafal dan mengamalkan Al Quran menjadi kewajiban.

Keutamaan menghafalkan Al Qur’an sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )

Bayangkan dalam hati dan fikiran, kita masuk ke surga tertinggi karena kuantitas dan kualitas interaksi dengan Al Qur’an, karena jumlah ayat yang telah dihafal ketika di dunia.

Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al Qur’an dengan hatinya, bukan yang sekedar membaca lewat mushaf. Karena jika sekedar membaca saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik sedikit atau banyak yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat  adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dengan hatinya.

Dari hafalan ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya hafalannya. Menghafal Al Qur’an seperti ini hukumnya fardhu kifayah. Jika sekedar dibaca saja, tidak gugur kewajiban ini. Tidak ada yang lebih besar keutamaannya dari menghafal Al Qur’an. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di atas dan inilah makna tekstual yang bisa ditangkap. Malaikat akan mengatakan pada yang menghafalkan Al Qur’an ‘bacalah dan naiklah’. Jadi yang dimaksud sekali lagi adalah bagi yang menghafal Al Qur’an dari hatinya.” (Al Fatawa Al Haditsiyah, 156)*

Semoga kita semua diberikan hidayah dan bimbingan Al Qur’an, dan dimudahkan menghafal Al Qur’an.

Ditulis oleh Abu Fatha

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply