Menghilangkan Putus asa

posted in: Berita, Kegiatan, Uncategorized | 0

Dalam sebuah kehidupan pastilah ada yang namanya masalah dan ujian, di sekolah sebelum ada kelulusan kita terlebih dahulu menghadapi yang namaya ujian. Di tempat kerja pun kita pasti menemukan ujian, dalam kehidupan bermasyarakat dan lainnya pun kita juga akan menemukan ujian atau masalah yang harus kita hadapi. Ujian dapat menjadikan kita lebih kuat dan bertawakal pada allah SWT, tetapi adapula yang dalam menjalaninya memilih untuk menyerah, menjadi rapuh bahkan merasa putus asa.

Seperti firman Allah SWT :

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الإنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan apabila Kami beri kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan mejauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa”. (QS. Al-Isra’ : 83)

Putus asa adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang menganggap drinya telah gagal dalam menghasilkan sesuatu harapan cita-cita. Salah satu ciri dari sikap putus asa adalah apabila diberi beban atau sesuatu yang harus siselesaikan dan perlu segera dilaksanakan, ia meninggalkannya secara perlahan-lahan, bahkan terkadang tidak mengerjakan sama sekali. Ia merasa keberatan atau menganggap bahwa apa yang dititipkan kepadanya terlampau berat sehingga ia enggan dan berputus asa untuk meneruskannya.

Selain itu orang berputus asa akan cenderung berburuk sangka kepada Allah, menolak kebenaran, malas beribadah dan berdoa, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya, malas berbuat baik.

Putus asa merupakan hal yang sangat dilarang, seperti di jelaskan dalam Al-Qur’an :

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

 

“قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS Al-Hijr : 56)

 

Rasulullah SAW bersabda bahwa :

“Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah”. (hadis hasan sahih, diriwayatkan ole Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Majma’ Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104)

 

Bersumber dari penjelasan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis di atas sudah jelas bahwa putus asa merupakan hal yang sangat dilarang oleh Islam bahkan termasuk salah satu dosa besar. Putus asa dapat mengantarkan kepada kekafiran karena pada dasarnya putus adalah suatu sifat yang timbul akibat tidak adanya keyakinan terhadap exsistensi Sang maha pengatur kehidupan. Dengan begitu ia cenderung tidak memiliki harapan. Sebab ia tak yakin bahwa ada sumber kekuatan yang dapat membantunya dalam memecahkan masalahnya.

Putus asa juga menimbulkan penyakit mental atau psikis. Penyakit rohani ini dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah stres, ini disebabkan karena tidak adanya sandaran yang kokoh untuk ia bersandar dan mencari solusi dari setiap kesulitan yang dihadapinya. Orang menjadi mudah atau rentan untuk terkena penyakit pisik seperti ini, karena orang putus asa cenderung cepat menyerah, tidak memiliki keyakinan yang tinggi terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Oleh sebab itulah stress menjadi jawaban atas apa yang didapatkan dari sikapnya tersebut. Pada akhirnya sikap dan perilaku orang tersebut menjadi tak tentu arah. Kematian juga bisa menjadi akibat dari stres itu sendiri yang bermula dari keputus asaan. Banyaknya peristiwa orang menjadi gila, kemudian jumlah orang yang bunuh diri semakin bertambah adalah dampak social dan psikis yang disebabkan oleh sikap hilang harapan ini.

Oleh sebab itulah Islam sangat melarang sekali adanya putus asa dalam diri setiap individu, sebisa mungkin kita harus menghilangkan putus asa, adapun upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari rasa putus asa :

  1. Bersyukur

Syukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Apapun yang Allah tetapkan untuk kita pasti itu yang terbaik, seperti yang telah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 216 :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

 

  1. Perbanyak mengingat Allah

Mungkin banyak hal yang membuat kita takut, khawatir, atau sakit. Sebutlah nama Allah, maka hatimu akan tenang sebab kita tahu bahwa Allah Maha Besar yang bisa menghilangkan semua derita dan ketakutan. Kita juga yakin Allah Maha Tahu yang mengathui apa yang terbaik bagi kita. ”Ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah hati akan tenang” (QS. 13:28). Ketenangan hati akan menjadikan diri ini tetap optimis.

 

  1. Berkumpul dengan orang shaleh

Salah satu cara agar kita terhindar dari putus asa adalah dengan berkumpul bersama orang-orang shaleh yang selalu akan mengingatkan kita kepada kebaikan dan saling menasihati untuk kesabaran, seperti yang tercantum dalam QS. Al-‘Ashr 1-3: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saing menasihati untuk kebenaran dan menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al-‘Asr:1-3)

 

  1. Bekali diri dengan ilmu agama

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban terlebih lagi ilmu agama, dengan ilmu kita menjadi tahu kemana kita harus melangkah dalam menjalani kehidupan ini. Orang yang berilmu akan selalu berhati-hati dalam melangkah, berbeda dengan orang yang tidak mau membekali dirinya dengan ilmu akan hilang arah.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar : 9)

 

  1. Tanamkan optimisme dalam diri

Allah tidak akan membebankan ujian pada kita diluar batas kemampuan kita, jadi tetaplah optimis semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah:286)

 

  1. Selalu berdoa dan berusaha

Jika beban terasa begitu berat, bukan bebannya yang terlalu berat, tetapi kelemahan ada pada diri kita yang tidak mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Kita punya potensi akal, hati, dan jasad yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya saja, jika tidak kita optimalkan sepenuhnya, kekuatan itu akan tersembunyi. Bahkan, saat kesulitan tetap ada dihadapan kita, seolah kita tidak mampu untuk menghadapinya, Allah selalu siap menyambut dan mengabulkan do’a kita. Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS Al Mu’minuun:60)

 

Semoga kita semua selalu dijauhkan dari berbagai bentuk sikap putus asa. Aamiin..

 

Wallahu a’lam