Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota

Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota

posted in: Berita | 0

 Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota

Selepas Dhuhur, sebuah bis kota penuh penumpang melaju perlahan meninggalkan terminal Leuwi Panjang, Bandung. Suara bis bercampur dengan deru kendaraan lain membuat suasana bising. Tiba di sebuah lampu merah, bis berhenti. Mendadak dari dereten kursi penumpang paling depan seorang lelaki berpeci putih berdiri. Dengan bahasa yang santun dan ramah, ia menyapa para penumpang. “Assalamu’alaikum.” Lalu, ia minta ijin beberapa menit untuk menyampaikan sesuatu. “Saya di sini tidak mewakili lembaga apapun. Tanpa bermaksud menggurui, saya hanya berbagi ilmu dan saling mengingatkan,” katanya. Sesaat kemudian mengalir kalimat-kalimat penuh makna. “Hidup bahagia adalah keinginan kita semua,” katanya, ”di sisi lain, persepsi setiap orang tentang bahagia berbeda-beda. Ada yang beranggapan kebahagiaan terletak pada harta. Yang lain berpendapat kebahagiaan ada pada kekuasaan. Ada pula yang berpikir kebahagiaan hanya bisa didapat melalui ketenaran atau popularitas. Karena itu, mereka mengejar dan mencari semua itu. Padahal, semua itu tidak akan mampu mendatangkan kebahagiaan yang dicari.”

”Sejatinya,” masih kata pria berpeci putih itu, ”kebahagiaan itu terdapat di dalam hati, bukan pada materi. Kebahagiaan tidak terletak pada sarana. Ia bisa diraih jika kita mengetahui rumus dan sumber asalnya.”

Pria itu kemudian memberi resep sederhana. Secara ringkas, menurutnya, sumber kebahagiaan ada tiga: berfikir positif, membahagiakan orang lain dan zikir.

Saat pria itu berceramah, sebagian penumpang ada yang memperhatikan secara serius. Ada juga yang mengobrol dan ada pula yang cuek. Tetapi, sepertinya ia tidak terganggu dengan berbagai respon penumpang. Ia terus berpetuah.

Itulah sepenggal kisah Saleh Muslim (33) berdakwah di atas bis kota. Meski kadang mendapat cemoohan, Solmus, demikian biasa dipanggil, tetap istiqomah menjalaninya sejak empat tahun lalu.

Dalam seminggu, tiga kali ia menjalani dakwah yang penuh tantangan itu. “Tapi itu dulu. Sekarang seminggu sekali,” kata Solmus menambahkan. Bukan karena surut, melainkan ia punya tanggung jawab lain. Kini, ia mengajar di sebuah SD di kota kembang. “Biasanya saya berdakwah setiap Rabo, setelah mengajar,” jelasnya.

( Ide Dakwah )

Sehari Solmus biasanya berdakwah di 3 bis. Ia lebih suka memilih waktu sore hari, “Suasananya lebih enak untuk memasukkan nilai-nilai,” katanya.

Berawal dari kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Tiap hari ia naik bis untuk menuju kampusnya itu. Saking seringnya naik bis, ia jadi paham karakter transpotasi dalam kota yang murah meriah ini.

Bis kota, kata ayah tiga anak ini, seperti ruang terbuka. Siapa saja boleh naik dan memanfaatkannya. Maka tak heran bila pengamen, pedagang asongan, pengemis bahkan pencopet silih berganti naik. Mereka semua mengais rezeki dari angkutan massal ini.

Dari pengalaman itu, Solmus menemukan ide: menjadikan bis kota sebagai ladang dakwah. “Sekedar untuk mengingatkan para penumpang tentang agama dan kehidupannya supaya lebih bermakna dan bahagia,” kata mantan aktivis dakwah kampus ini.

Segera ia mulai menjalankan rencananya. Ternyata berceramah di bis bukan hal mudah meski hanya sekedar berbicara. Harus bermental kuat, di samping materi yang harus cocok dengan keadaan para penumpang yang heterogen.

Di samping itu, harus pandai melihat situasi dan kondisi yang tepat. “Jangan sampai bersamaan dengan pengamen dan pedagang asongan atau pengemis,” katanya.

Solmus menceritakan pengalamannya. Suatu ketika ia baru memulai tausyiah. Tiba-tiba naik rombongan pengamen. Merasa didahului, mereka marah-marah sambil memaki-maki. “Kalau ceramah di masjid, jangan di bis kota. Di sini untuk mencari uang,” kata mereka.

Lain kali ia diuji oleh pedagang asongan. Saat ia berceramah, pedagang asongan itu berkata ke sebagian penumpang. Pedagang asongan itu berkata ke sebagian penumpang, “Tong di denge-tong di denge,”. Jangan di dengar-jangan di dengar.

Mengahadapi semua tantangan itu, Solmus tetap tenang. Ia tidak menyurutkan langkah. “Itu bagian dari ujian dakwah yang harus dihadapi dengan sabar,” katanya.

Dari pihak Damri sendiri, sebagai pengelola bis kota, ada oknum yang semula melarang Solmus. Dia beralasan, bis kota bukan masjid. “Selain itu, dia takut dakwah saya mengundang kecemburuan kelompok agama lain,” tambah Solmus.

Tetapi setelah Solmus menjelaskan, oknum tadi bisa memahami dan mendukung.

( Hikmah )

Bagi Solmus berdakwah di atas bus kota mendatangkan banyak hikmah, baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya. Kalau pengajian biasa jamaah harus diundang dulu, beda dengan bis kota, “Mereka menunggu dai,” ujar Solmus.

Jika membaca sirah, lanjut Solmus, Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam pun suka berdakwah di tempat-tempat umum. Misalnya di pasar atau di kerumunan orang banyak. Di dilihat dari sini, maka penumpang bis kota merupakan kumpulan orang yang dilihat dari prespektif dakwah adalah objek dakwah.

“Mungkin mereka ada yang belum tersentuh agama atau melupakannya sehingga mudah-mudahan dengan adanya dakwah di bus kota menjadi sarana sampainya hidayah pada mereka,” jelas Solmus.

Dakwah Solmus di bus kota mendapat respon positif, baik penumpang maupun pihak Damri. “Pernah ada penumpang non Muslim memuji dan mendukung dakwah saya,” katanya.

Direktur Damri Pusat sendiri tahun lalu langsung mengundang Solmus ke Jakarta. Atas usahanya tersebut ia mendapat “penghargaan.” “Saya diundang ke Jakarta untuk memberi pengajian di kantor pusat,” katanya.

Yang paling membahagiakan Solmus adalah akhir 2012 lalu. Ia mendapat kesempatan menuaikan umroh ke Tanah Suci. Ada salah satu orangtua siswa didiknya yang mengetahui dan simpati atas dakwah Solmus di bus kota.

Solmus juga telah menulis isi ceramah-ceramahnya di bis kota dan tempat lainnya dalam sebuah buku kumpulan ceramah singkat. Ia berharap, buku tersebut bermanfaat dan dakwahnya di kendaraan umum ada yang melanjutkan atau meniru sehingga ada nilai lebih saat orang naik kendaraan umum

sumber : yusuf mansur network

Share Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrShare on Google+Email this to someone

Leave a Reply