Author Archives: irfan maulana

Sukses Menurut Al-Qur’an (Surah An-Nashr)

Sukses Menurut Al-Qur’an (Surah An-Nashr)

 An-Nashr adalah ayat Al Quran yang terakhir tu­run dalam bentuk surat. Surat ini bercerita tentang kesuksesan dan kemenangan. Menurut sebagian besar ulama, surat ini turun dua tahun setelah Fathul (kemenangan) Makkah. Isi surat ini adalah berita gembira tentang kemenangan agama Islam di tempat di mana berhala paling banyak disembah sebelumnya.

Dalam surat ini juga dideskripsikan dengan berbondong-bondongnya orang masuk Islam setelah 20 tahun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat ber­juang. Inilah kesuksesan yang hakiki, dan pemenangnya adalah pemenang yang sesungguhnya. Di surat ini akan dijelaskan apa sebenarnya kesuksesan itu, bagaimana kesuksesan itu bisa diraih, dan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh sang pemenang setelah kemenang­an itu datang dalam tiga ayat saja.

Namun para sahabat dekat Ra­sulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang sangat peka merasakan ada hal lain dari turunnya surat ini. Mereka justru bersedih. Ibnu Abbas merasa bahwa kalau Rasulullah di­­beritakan telah memenangkan aga­ma ini, itu berarti telah selesai tugas beliau, saat Rasulullah untuk pulang kembali kepada Allah tinggal sebentar lagi. Abu Bakar juga sependapat, dia menafsirkan kemenangan sempurna ini dengan bulan purnama. Setelah purnama bersinar terang dan sempurna, bulan akan  kembali berkurang sinarnya. Pertanda berkurangnya sinar itu adalah akan wafatnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

Kata “Idzaa” artinya apabila. Ini adalah kata waktu, saat. Jadi yang namanya kemenangan itu, Allah te­gaskan, akan ada saatnya.

“Jaa-a” artinya datang, dan da­­tang­­nya itu karena Ada Yang Men­datang­kan. Datangnya kemenangan/kesuksesan adalah hasil per­paduan antara kerja keras dan taq­dir Allah. Itulah yang disebut taufiq. Keber­hasilan kita bukan se­mata-mata ka­­rena upaya kita, atau karena kita pinter. Bayang­kan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ber­juang memenangkan agama ini se­la­ma 20 tahun, baru ke­mudian Allah men­taqdirkan ke­me­nangan. Dan berapa lama beliau “menci­cipi” kemenangan besar Islam dalam hi­dupnya? Hanya dua tahun lebih. Itu­lah maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala katakan bah­wa kemenangan besar itu ada saatnya, dan terjadi­nya itu hanya pada satu saat saja da­lam hidupmu.

* Baca selengkapnya di majalah ESQ Life edisi Juni 2014

esqlife.com

Tukang Sapu Gaza Kembalikan US$ 30.000, Dan Menolak Hadiah Apapun

Tukang Sapu Gaza Kembalikan US$ 30.000, Dan Menolak Hadiah Apapun

JALUR GAZA, Jum’at (Al-Quds TV | Sahabat Al-Aqsha): Jawad Mansur, seorang petugas kebersihan di sebuah taman bermain anak-anak di kota Gaza, menyerahkan US$ 30.000 (setara dengan sekitar Rp 372 juta) kepada pemiliknya. Ia menolak diberi apapun sebagai hadiah dari pemilik uang itu. Demikian laporan Al-Quds TV kemarin malam (1/1).

Meski seperempat Jalur Gaza hancur lebur, listrik digilir 3-6 jam saja dalam sehari, air minum susah, sudah delapan tahun dikepung Zionis, saudara-saudara kita di Gaza tetap mempertahankan kemuliaan akhlaqnya.

Jawad Mansur yang sudah delapan tahun bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah taman di Gaza City, beberapa hari lalu kaget. Pagi-pagi seperti biasa ia berangkat ke tempatnya bekerja. Di pinggir jalan ia menemukan sebuah tas. Ketika dibuka isinya berikat-ikat uang dolar, total US$30 ribu.

Tanpa berpikir panjang, langsung dibawanya tas itu ke kantor polisi terdekat. Setelah semua laporan dan data dirinya dicatat ia meninggalkan kantor polisi itu, melanjutkan pekerjaannya.

Malam harinya, ia dipanggil ke kantor polisi lagi. Di tempat itu ia dipertemukan dengan seorang akuntan sebuah perusahaan pembotolan minuman ringan, Abu Muhammad. Rupanya pria ini kehilangan tasnya dalam perjalanan menuju bank.

Orang baik ketemu orang baik, dipertemukan oleh polisi yang baik, atas ketetapan dari Sang Maha Baik.

Rupanya petugas polisi sudah dilapori kehilangan uang itu. Namun Pak Polisi yang bertugas belum menunjukkan apa-apa kepada Abu Muhammad, yang mengaku pemilik uang. Pak Polisi lalu minta Jawad ‘memeriksa’ dulu Abu Muhammad.

Jawad, petugas kebersihan yang biasa dipanggil Abu Wasim itu bertanya, “Tas kamu isinya apa?”

“Uang,” kata akuntan itu.

“Berapa jumlahnya?” tanya Jawad lagi.

“Seluruhnya US$30.000,” jelas Abu Muhammad.

“Bagaimana kamu menyusun uang itu?” tanya Jawad, sudah semakin mirip polisi.

“Diikat dalam tiga ikatan, masing-masing 10 ribu dolar. Sebagian pecahan 50 dolaran, sebagian besar 100 dolaran,” jawab Abu Muhammad.

Sambil menghela nafas lega, Jawad ayah empat anak itu berkata, “Tas dan uang ini punya kamu.”

 

Saat diwawancarai oleh Al-Quds TV, mata Abu Muhammad berkaca-kaca dan sering melihat ke arah langit.

“Saya mati-matian mendesak orang baik ini (Jawad) untuk menerima sedikit hadiah. Tapi dia menolaknya,” kata Abu Muhammad menahan haru.

baca selengkapnya di :

http://www.smstauhiid.com/tukang-sapu-gaza-ini-kembalikan-us-30-000-yang-ditemukannya-menolak-hadiah-apapun/

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Sungguh banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh kebanyakan kaum muslimim tentang hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dan hukum mengadakannya setiap kelahiran beliau.

Adapun jawabannya adalah : TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.

Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).

Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain : “(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).

Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Alloh telah berfirman : “Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).
Alloh juga berfirman : “Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63).

Allah juga berfirman : “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

Allah juga berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3). Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.

Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah.

Mereka beranggapan bahwa dengan maulid tersebut dapat mendekatkan umat islam kepada Allah. Padahal, maulid ini tanpa di ragukan lagi mengandung bahaya yang besar dan menentang Allah dan Rasul-Nya karena Allah telah menyempurnan agama Islam untuk hamba-Nya dan Rasulullah telah menyempurnakan seluruh risalah sampai tak tertinggal satupun jalan yang dapat menghubungkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah meyampaikan kepada umat ini.

Sebagimana dalam hadits shohih disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib atas nabi itu menunjukkan kebaikan dan memperingatkan umatnya dari kejahatan yang Allah ajarkan atasnya. “(HR. Muslim).

Dan sudah diketahui bahwa Nabi kita adalah Nabi yang paling utama dan penutup para Nabi. Beliau adalah Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan nasehat. Andaikata perayaan maulid termasuk dari agama yang diridhoi oleh Allah, maka pasti Rasulullah akan menerangkan hal tersebut kapada umatnya atau para sahabat melakukannya setelah wafatnya beliau.

Namun, karena tidak terjadi sedikitpun dari maulid saat itu, dapatlah di ketahui bahwa Maulid bukan berasal dari Islam, bahkan termasuk dalam bid’ah yang telah Rasulullah peringatkan darinya kepada umat beliau. Sebagaimana dua hadits yang telah lalu. Dan ada juga hadits yang semakna dengan keduanya, diantaranya sabda beliau dalam khutbah Jum’at : “Amma ba’du, maka sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan sungguh kebanyakan para ulama telah menjelaskan kemungkaran maulid dan memperingatkan umat darinya dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang tersebut di atas dan dalil-dalil lainnya.

Namun sebagian mutaakhirin (orang-orang yang datang belakangan ini) memperbolehkan maulid bila tidak mengandung sedikitpun dari beberapa kemungkaran seperti : Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah, bercampurnya wanita dan laki-laki, menggunakan alat-alat musik dan lain-lainnya, mereka menganggap bahwa Maulid adalah termasuk BID’AH HASANAH, sedangkan kaidah Syara’ (kaidah-kaidah / peraturan syari’at ini) mengharuskan mengembalikan perselisihan tersebut kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman :
“ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).
Allah juga berfirman : “Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih, maka putusannya (harus) kepada (kitab) Allah, “(QS. Asy Syuraa : 10).

Dan sungguh kami telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada kitab Allah. Kami mendapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah terhadap apa yang beliau bawa dan Allah memperingatkan kita dari apa yang dilarang. Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia – Subhanahu wa Ta’ala – telah menyempurnakan Agama Islam untuk umat ini. Sedangkan, perayaan maulid ini bukan termasuk dari apa yang dibawa Rasulullah dan juga bukan dari agama yang telah Allah sempurnakan untuk kita.

Kami juga mengembalikan masalah ini kepada sunnah Rasulullah. Dan kami tidak menemukan di dalamnya bahwa beliau telah melakukan maulid. Beliau juga tidak memerintahkannya dan para sahabat pun tidak melakukannya. Dari situ kita ketahui bahwa maulid bukan dari agama Islam. Bahkan Maulid termasuk bid’ah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang yahudi dan nasrani dalam perayaan-perayaan mereka. Dari situ jelaslah bagi setiap orang yang mencintai kebenaran dan adil dalam kebenaran, bahwa perayaan maulid bukan dari agama Islam bahkan termasuk bid’ah yang diada-adakan yang mana Allah dan Rasulnya telah memerintahkan agar meningggalkan serta berhati-hati darinya.

Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan Maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani : “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah :’ Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).
Allah juga berfirman : “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. “(QS. Al An’aam : 116 ). Wallahu a’lamu bis-shawab.

Maroji’ :

Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ilyas Agus Su’aidi As-Sadawy dari kitab At-Tahdzir minal Bida’, hal 7-15 dan 58-59, karya Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dalam bebrapa rujukan berikut :
1. Mukhtashor Iqtidho’ Ash Shirot Al Mustaqim (hal. 48-49) karya ibnu Taimiyah.
2. Majmu’u Fataawa (hal. 87-89) karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

Sumber :

BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 15
HUKUM MEMPERINGATI Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam.

KEUTAMAAN DAN PAHALA MENJENGUK ORANG SAKIT

KEUTAMAAN DAN PAHALA MENJENGUK ORANG SAKIT

KEUTAMAAN DAN PAHALA MENJENGUK ORANG SAKIT

Diantara yang memperkuat kesunnahan menjenguk orang sakit ialah adanya hadits-hadits yang menerangkan keutamaan dan pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:

1. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), ‘Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga.”

2. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadist qudsi :

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?”

3. Diriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.”)

Wallahua’lam bishawwab
Semoga Allah merahmati kita semua. Aamin.

Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA'BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA'BAH

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA’BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA’BAH

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA’BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA’BAH

Si A : Mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?

Ustadz : Salah itu! Umat Islam tidak menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.

Si A : Bukankah orang Islam shalat menghadap Ka’bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka’bah?

Belum sempat sang ustadz menjawab, terdengar handphone-nya si A berbunyi. Setelah si A selesai menjawab panggilan di handphonen-ya, dia memandang sang ustadz. Sang ustadz tersenyum.

Si A : Mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi ustadz?

Ustadz : Hmm… Perlukah saya menjawab pertanyaanmu?

Si A : Ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? hehehehe…..

Ustadz : Bukan itu maksud saya. Saya melihat kau kurang menyadarinya.

 

sumber Yusufmansurnetwork

Si A : Mengapa kau bicara begitu?

Ustadz : Tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara “I love You”

Si A : Saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.

Ustadz : Mana istrimu? Saya tak melihatnya.

Si A : Istri saya di Padang. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [ heran ]

Ustadz : Boleh saya lihat HP kamu?

Si A mengulurkan HP-nya kepada sang ustadz. Sang ustadz menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu, menggoncang-goncangnya, mengetuk-ngetuk HP tersebut ke meja.

Ustadz : Mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada di sini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?

Si A : Mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon. Apa kau tak bisa menggunakan otakmu?

Ustadz : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT. Umat Islam shalat menghadap Ka’bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka’bah. Tetapi umat Islam shalat atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk shalat menghadap Ka’bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka’bah. Begitu juga dengan dirimu dan istrimu. Istrimu menelfon menggunakan HP, ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP. Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan

Si A : Bisa saja kau [ Garuk kepala tak gatal ]

Ustadz : Ada satu lagi, bilamana shalat tidak menghadap ka’bah, maka arah shalat akan kacau. Ada dua jamaah shalatnya berhadap-hadapan, ada yang shalat sendiri, karena tidak ada arah akan ganjil, ada yang menghadap kekiri dan kekanan. Wah bisa terbayang kan ?

Si A : [ Merenung ]

SYAFA'AT Al-QUR'AN DAN PUASA KEPADA PENGAMALNYA

SYAFA’AT Al-QUR’AN DAN PUASA KEPADA PENGAMALNYA

PUASA DAN AL-QUR’AN KELAK AKAN MEMBERIKAN SYAFA’AT KEPADA PENGAMALNYA

Rosulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalaam bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan al Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata : “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan al Qur`an berkata : “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”. ( HR Ahmad, II/174; al Hakim, I/554; dari Abdullah bin ‘Amr. Sanad hadits ini hasan. Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Kata Imam al Haitsami, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir. Rijal hadits ini rijal shahih. Lihat Majma’uz Zawaid III/181 )

Berkata para shahabat nabi: “Apabila kami mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an kami tidak berinjak meneruskannya hingga kami mendalaminya, mengilmui kandungannya, dan mengamalkannya.”

Hal ini bisa bermakna:

– Mengkaji al Qur-aan (mempelajari tafsirnya)
– atau, mempelajari cara membaca al Qur-aan
– atau, memperbaiki bacaan al Qur-aan
– atau, menghafalkan al Qur-aan
– atau, selainnya (yang bermakna belajar-mengajar)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ

Dan Sesungguhnya Al Quran akan menemui pemiliknya pada hari kiamat saat kuburnya terbelah seperti orang kurus.

فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ

ia berkata: Apa kau mengenaliku?; Pemilik Al Quran menjawab: Aku tidak mengenalimu,

فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي فَيَقُولُ مَا أَعْرِفُكَ

ia berkata: Apa kau mengenaliku?; Pemilik Al Quran menjawab: Aku tidak mengenalimu.

فَيَقُولُ أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ

Ia berkata: Aku adalah temanmu, Al Quran yang membuatmu haus ditengah hari dan membuatmu bergadang dimalam hari, setiap pedagang berada dibelakang dagangannya dan engkau hari ini berada dibelakang daganganmu.

فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا

Kemudian ia diberi kerajaan di tangan kanannya dan keabadian di tangan kirinya, di kepalanya dikenakan mutiara kemuliaan dan kedua orang tuanya dikenakan dua hiasan yang tidak bisa dinilai oleh penduduk dunia .

فَيَقُولَانِ بِمَ كُسِينَا هَذِهِ

lalu keduanya berkata: Kenapa aku dikenakan perhiasan ini?

فَيُقَالُ بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

Dikatakan pada keduanya: Karena (kalian telah memerintahkan) anak kalian berdua (untuk mempelajari/menghafalkan/mengamalkan) Al Quran.

ثُمَّ يُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلًا

Kemudian dikatakan padanya: Bacalah dan naiklah ke tingkat surga dan kamar-kamarnya. Ia senantiasa naik (derajatnya di surga) selama ia membaca dengan cepat atau dengan tartil. (HR. Ahmad; dikatakan Syaikh Ahmad Syaakir; Didalamnya terdapat Basyir bin Al Muhajir dan Ibnu Ma’in mentsiqatkannya, dan ia merupakan perawi imam muslim. hadits ini dihasankan oleh Imam Ibnu Katsir)

An Nawwas bin Sam’an Al Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ

“Al Qur`an akan didatangkan pada hari kiamat bersama Ahli-nya, yaitu orang-orang yang telah beramal dengannya. Dan yang pertama kali adalah surat Al Baqarah dan Ali Imran.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tiga permisalan terkait dengan keduanya, aku tidak akan melupakannya setelah itu. yakni:

كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Seperti dua tumpuk awan hitam yang diantara keduanya terdapat cahaya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya.” (HR. Muslim)

 

Peninggalan Nabi SAW, Mengobati Rindu Kepada Rasulullah SAW

Peninggalan Nabi SAW, Mengobati Rindu Kepada Rasulullah SAW

Bila kita berjauh jarak dengan sang terkasih Muhammad Rasulullah. Kita hanya bisa menjumpainya melalui do’a-do’a yang kita lantunkan, memohon syafa’at Nabi untuk keselamatan kita di akhirat dari pedihnya adzab neraka, tidakkah foto-foto berikut ini mengobati kerinduan kita yang sangat dalam kepada Sang Nabi Tercinta, Kekasih Allah, pribadi mulia panutan alam?? Ratusan orang meneteskan air matanya setelah menatap langsung baju beliau yang bersahaja dan sudah robek, sandal beliau, keranda beliau yang tak terhalang apapun. Allahu Akbar … serasa dekaaat denganmu ya Rasulullah … Andai aku bisa melihat wajahmu, rontok segala persendianku, tak tahan dengan kenikmatan memandang kemuliaan wajahmu… Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad ….

(Foto-foto ini kebanyakan adalah koleksi yang tersimpan dari berbagai tempat di beberapa negara: Museum Topkapy di Istambul Turki, Yordania, Irak dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Selamat merasakan kelezatan menatap peninggalan-peninggalan ini. Semoga kerinduan kita semakin memuncak kepada sang Nabi Agung, sang kekasih Allah …)
Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam …

Gambar-Gambar Eksklusif Peninggalan Nabi Muhammad SAW

baca selengkapnya di :

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/peninggalan-pernak-pernik-nabi-saw-mengobati-rindu-akan-rasulullah-saw.htm#.VKyN_ntaths

Pola Makan Sehat Cara Rasulullah

Pola Makan Sehat Rasulullah

“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21).

Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai contoh teladan yang baik (uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal pola makan yang bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai harganya. Ketika nikmat kesehatan dicabut oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka manusia rela mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat yang jauh sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit orang yang penduli dan memelihara nikmat kesehatan yang Allah subhaanahu wa ta’ala telah anugerahkan sebelum dicabut kembali oleh-Nya.

Karena Allah telah menegaskan kepada kita bahwa Beliau (Rasulullah) adalah teladan, inilah teladan yg bisa kita ikut bagaimana pola makan Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam agar Sehat dan berberkah dan mendapatkan amal.

Asupan awal kedalam tubuh Rasulullah adalah udara segar pada waktu subuh. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan, udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412).

Dalam hadist lain disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda,

“Nikmat yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak adalah ketika dikatakan kepadanya, “Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu serta memberimu minum dengan air yang menyegarkan?”

(HR. Tirmidzi: 3358. dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani).

Menurut Indra Kusumah SKL, S.Psi dalam bukunya “Panduan Diet ala Rasulullah”, kesehatan sering dilupakan, padahal ia seakan-akan bisa diumpamakan sebagai mahkota indah di atas kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit.

Sepintas masalah makan ini tampak sederhana, namun ternyata dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar.

Ketika Kaisar romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah, ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit.

Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.

Pola makan seringkali dikaitkan dengan pengobatan karena makanan merupakan penentu proses metabolisme pada tubuh kita. Pakar kesehatan selama ini mengenal dua bentuk pengobatan yaitu pengobatan sebelum terjangkit penyakit atau preventif (ath thib Al wiqo’i) dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al’ilaji).

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza).

Hal itu jauh lebih baik dan murah daripada harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakikatnya adalah racun, berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Beberapa gambaran pola hidup sehat Rasulullah berdasarkan berbagai riwayat yang bisa dipercaya, sebagai berikut:

1. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Organ tubuh tersebut merupakan organ yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

2. Di pagi hari pula Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya, bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.

“Sesungguhnya Rasulullah saw minum air zamzam sambil berdiri. “(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya,dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda : “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad,keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

3. Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”.

Hal itu terbuki ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar. Racun yang tertelan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Salah seorang sahabat, Bisyir ibu al Barra’ yang ikut makan tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selamat dari racun tersebut.

4. Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Selain itu, Rasulullah juga mengonsumi makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.

“Keluarga Nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw wafat.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

Sya’ir,khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.

Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.”Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari’Abdullah bin `Amr –Abu Ma’mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
Abdullah bin `Abdurrahman berkata : “Saus yang paling enak adalah cuka.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin`Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan,dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)

5. Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selalu mengonsumsi sana al makki dan sanut. Menurut Prof. Dr. Musthofa, di Mesir deudanya mirip dengan sabbath dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang di luar Arab, tapi dia menjelaskan, intinya adalah sayur-sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit.

6. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga bisa dengan shalat.

7. Disamping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah tetapi tidak rutin mengonsumsinya. Diantaranya, tsarid yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian, beliau juga senang makan buah anggur dan hilbah (susu).

“Nabi saw memakan qitsa dengan kurma (yang baru masak).”(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)

Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) “Sesungguhnya Nabi saw memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”(Diriwayatkan oleh Ubadah bin `Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam,dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

8. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering menyempatkan diri untuk berolahraga. Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Pernah pula Rasulullah lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah radiyallahu’anha.

9. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk begadang. Hal itu yang melatari, beliau tidak menyukai berbincang-bincang dan makan sesudah waktu isya. Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.

10. Pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis).

Fakta-fakta di atas menunjukkan pola makan Rasulullah ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis). Inilah yang disebut dengan siklus alami tubuh yang menjadi dasar penerapan Food Combining (FC).

Selain itu, ada beberapa makanan yang dianjurkan untuk tidak dikombinasikan untuk dimakan secara bersama-sama. Makanan-makanan tersebut antara lain:

  • Jangan minum susu bersama makan daging.
  • Jangan makan ayam bersama minum susu.
  • Jangan makan ikan bersama telur.
  • Jangan makan ikan bersama daun salad.
  • Jangan minum susu bersama cuka.
  • Jangan makan buah bersama minum susu

Demikianlah Pola makan Rasulullah, semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Wassalam

daulahislam.com

Tips Dari Ayah Musa, Anak Berumur 5 Tahun Hafal 29 Juz

Tips Dari Ayah Musa, Anak Berumur 5 Tahun Hafal 29 Juz

Subhanallah, inilah kebahagiaan orang tua yang luar biasa besar jika mampu mendidik anaknya menjadi penghapal Al Quran, seperti video berikut ini.

Mau tau tips ayahnya Musa dalam mendidik anaknya, Musa yang berusia 5,5 tahun namun sudah menguasai dan hafal 29 Juz Al Quran.

Bayangkan, Musa bocah asal Bangka ini memang hafal 29 Juz dan masuk 30 juz, kecuali surat An-Nahl dan surat Bani Israil. Bakat dan kemampuan Musa menjadi inspirasi para orang tua mengikuti Musa, peserta acara televisi RCTI  “Hafiz Indonesia” yang dibimbing oleh para juri berpengalaman seperti Syeikh Ali Jaber, Ustadz Amir Faishol Fath dan Ustadzah Lulu Susanti.

Ini Dia Tips Dari Abu Musa

Ini Pesan Dari Abu Musa (La Ode Abu Hanafi) ayah dari bocah penghafal Al Quran berusia 5,5 tahun.

Dialog ini melalui WhatsApp dengan Abu Musa di Jeddah Saudi Arabia.

Admin Assunnah: Akhi bisa kasih pesan khusus untuk anak-anak agar rajin menghafal al quran karena akan saya sebarkan di BBM fb dll singkat saja abu

La Ode Abu Hanafi (Abu Musa):

Cari istri sholehah, istiqomah dan sabar yang luar biasa, tegakkan amar ma’ruf dan nasi mungkar kepada anak meskipun masih kecil, jauhkan dari musik dan tontonan yang merusak, tanamkan aqidah dan tauhid kepada anak, tanamkan siapa ahlu sholah dan siapa ahlu maksiat. Orang tua harus menjadi contoh anak. Orang tua ketika amar ma’ruf dan nahi mungkar harus ada rasa tega diri mereka kepada anak-anak.

Contohnya ketika memerintahkan belajar…banyak orang tua yang gak tega Selain yang di atas….harta kita keluarkan tuk anak belajar

Admin Assunnah: Barakallahu fiik jazakallah khoyron masih ada lagi akhi ?

La Ode Abu Hanafi (Abu Musa):

Tentukan jadwal anak seketat mungkin, kapan belajar, makan, mandi, bermain…. Dan orangtua harus istiqomah dan jangan diremehkan dan di langgar. Gak usah pedulikan perkataan orang, Emas gak akan jadi mulianya dan berharga kecuali setelah penempaan yang luar biasa….

Kelembutan dan ketegasan ( keras terkadang juga sangat bermanfaat) harus senantiasa ada

Cukup dulu akhi.

Admin Assunnah: Barakallahu fiik masyaa Allah jazakallah khoyron semoga bermanfaat untuk saudara kita yang lainnya

Dialog ini pada 4 Ramadhan 1435/ 2 Juli 2014 ____

Semoga bermanfaat untuk kaum muslim di Indonesia dan seluruh dunia.

Beliau sekeluarga sering mendapat undangan dari Saudi dan Malaysia sudah menunggu. Sekolah Tahfidz Ibnu Umar sudah mengundang insya Allah Ta’alaa mereka akan datang jika mendapat kesempatan untuk memberi motivasi pada anak didik kami.

Barakallahu fiihim. “Mengantar Generasi Al Quran dan Assunnah Menjadi Pemimpin Bangsa”

[Ibnuumar/berbagaisumber/adivammar/voa-islam.com]

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2014/07/03/31361/tips-dari-ayah-musa-bocah-55-tahun-penghafal-29-juz-al-quran/#sthash.9wtszk7J.dpuf

KEUTAMAAN MEMBACA SEJUMLAH AYAT AL-QUR'AN DALAM SEHARI

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN DALAM SEHARI

Semua yang penting kudu ditargetin, dijadwalin, ngejar point, ini ada dan dianjurin ketika kita membaca Al-Qur’an, ini gak ada ruginya dah, buat mendekatkan diri kepada Allah, karena sesiapa yang dekat, maka akan dekat juga dengan pertolongan-Nya. Terlebih ia juga menjadi obat hati, jadi cahaya buat jiwa, agar ngejalanin hidup menjadi lapang selapang-lapangnya, baik lahir maupun bathin. Mudah-mudahan bisa diamalin, ini harapan saya semoga bisa jadi motivasi, pencerahan, agar kebiasa jalanin hari dengan Al-Qur’an. Jangan lupa ditadaburin, baca terjemahannya, akan lebih bagus cari kitab tafsir semisal ibnu katsir, al qurthubi, agar faham dan diamalin isinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قرأ في يوم وليلة خمسين آية لم يُكتب من الغافلين، ومن قرأ مائة آية كُتب من القانتين، ومن قرأ مائتي آية لم يُحاجهِ القرآن يوم القيامة ، ومن قرأ خمسمائة كُتب له قنطار من الأجر

Barangsiapa yang membaca 50 ayat dalam sehari semalam, maka ia tidak dicatat sebagai seorang yang lalai. Barangsiapa yang membaca 100 ayat, maka ia dicatat sebagai orang yang qaniith (taat). barangsiapa yang membaca 200 ayat maka ia tidak akan dibantah oleh al Qur-aan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang membaca 500 ayat, maka dicatat baginya perbendaharaan harta berupa pahala (SHAHIIH li ghayrihi; HR. Ibnus Sunniy, lihat silsilah ash-shahiihah no. 642-643 sumber penomoran shahiih wa dhaiif al-adzkaar)

Wirid-wirid membaca ayat al Qur-aan berdasarkan hadits yang shahiih

1. Membaca ayat kursi [1 ayat]

dibaca setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x];

[total 8]

2. al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas [total 15 ayat]

dibaca masing-masing SEKALI setiap selesai shalat [5×15 = 75], pagi petang (masing-masing 3x) [2 x (3×15) = 2 x 45 = 90], sebelum tidur (dibaca secara berurutan 3x) [45]

[total 210]

3. ‘Aali Imran 190-200 [10 ayat]

dibaca ketika bangun tidur [10 ayat]

[total 10 ayat]

4. al Baqarah 285-286 [2 ayat]

dibaca ketika sebelum tidur [2 ayat]

[total 2 ayat]

5. Surat as-Sajadah [30 ayat] dan Surat al-Mulk [30 ayat]; total [60 ayat]

dibaca ketika sebelum tidur [60 ayat]

TOTAL POINT 1 – 5 = 290

untuk ini saja totalnya sudah, 290 ayat yang kita baca dalam sehari semalam.

maka kita tinggal memerlukan 210 ayat (dan ini kira-kira setara dengan satu juz, lebih sedikit) al Qur-aan untuk mencapai 500 ayat sehingga kita bisa dicatat pembendaharaan harta berupa pahala..

marilah kita meraih keutamaan ini… TAPI ingatlah, amalan yang dicintai Allah adalah yang sedikit, tapi KONTINYU..

Bertahaplah dalam mengamalkan sesuatu, sehingga kita tidak terbebani dengan beban yang berat, yang malah nantinya kita meninggalkannya yang ini tidak baik bagi kita sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah ( ibn ’ Amr ibnul ’ Ash ) , janganlah engkau seperti si fulaan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari no. 1152 )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا إِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“Hendaknya kalian melakukan sesuatu yang kalian mampui. Demi Allah, Allah Azzawajalla tidak akan pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling kontinyu (terus menerus).”
[Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad 6/247, Muslim 6/73, Ath-Thabrany, hadits nomor 564 di dalam Al-Kabir]

Bukankah kita MAMPU

Membaca ayat kursi dalam setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x]

bukankah kita MAMPU

Membaca surat al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas dalam setiap shalat 5 waktu (masing-masing sekali); pagi dan petang (masing2 3x), dan sebelum tidur (secara berurutan masing2 3x)?!

Untuk kedua hal ini saja, bacaan rutin ayat al qur-aan kita dalam sehari sudah 218 ayat; yang semoga kita termasuk dalam orang-orang yang tidak dibantah al Qur-aan di hari kiamat.

Maka semoga Allah memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan agamaNya yang mulia dan agung ini.. aamiin

Yusuf Mansur

SANG AYAH MAU MEMAAFKAN PEMBUNUH TAPI SYARATNYA HAFAL AL-QUR'AN

SANG AYAH MAU MEMAAFKAN PEMBUNUH TAPI SYARATNYA HAFAL AL-QUR’AN

SANG AYAH MAU MEMAAFKAN PEMBUNUH TAPI SYARATNYA HAFAL AL-QUR’AN

Seorang menyatakan akan mengampuni pembunuh anaknya jika pembunuh anaknya itu berhasil menghafal Al-Quran, sebuah koran lokal melaporkan pada hari Sabtu lalu. Rabi’ah al-Dousary, ayah dari pemuda yang terbunuh bernama Abdullah, berjanji untuk mengampuni pembunuh anaknya yang sedang dihukum, Faisal al-Ameri, jika pembunuh anaknya itu berhasil menghafal semua Al-Qur’an sebelum meninggalkan penjara, surat kabar Saudi al-Yawm melaporkan.

Ameri sendiri sudah divonis hukuman mati karena membunuh Abdullah selama pertengkaran yang terjadi di lingkungan mereka.

Komite tinggi koreksi di provinsi timur kerajaan Saudi telah membujuk Rabi’ah al-Dousary untuk memaafkan dan mengampuni Ameri yang telah membunuh anaknya.

Sang ayah, yang menolak untuk menerima uang darah, berusaha mengajarkan Ameri pelajaran yang jauh lebih berharga, bersikeras mengampuni pembunuh anaknya dengan satu syarat: pembunuh harus menghafal 30 juz Al-Quran sebelum pembebasannya dari penjara.

Anak adalah harta tidak ternilai, bila dinilai dengan uang, emas, intan bahkan ditukar oleh satu pulau, jelas tidak akan terbayarkan bagi orang tuanya yang memiliki cinta.

Dan Kecintaan pada anak, memang tidak bisa pula menghalangi taqdir Ilaahi, namun dibalik kecintaan bercampur dendam bila dihayati lebih jauh, ia tidak akan mengembalikan nyawa sang buah hati, tetapi mungkin kita bisa mendalami maksud dari sang ayah, ketika kehilangan anak diambil oleh Allah, kedukaannya diarahkan dengan memaafkan sipembunuh dengan syarat menghafal Al-Qur’an. Semoga hanya redho Allah yang ia cari.

Memang masalah qishas berlaku pada hukum Syariat memang diterapkan pada negara Saudi adalah haknya, namun diluar semua itu ada naruni yang tidak sekedar balasan dendam, atau haknya terbayarkan.

Dibalik tujuan sibapak mungkin saja agar sipembunuh dapat kembali kepada jalan Allah, kembali bertaubat, memberi kesempatan padanya. Beratnya rasa kehilangan, semoga menjadi faktor keyakinan dia, yang menjadikan ukuran beratnya balasan Allah yang luarbiasa kelak diyaumil hisab yang ia cari, yaitu sebuah prestasi keikhlasan taqdir dan pengorbanan kepada Rabb-Nya, syukur-syukur sipembunuh ketika menghafal Qur’an bisa menjadi seorang ulama.

Kepasrahan serta keikhlasannya sibapak terhadap Allah semoga akan berbuah karunia-Nya yang tak terhingga dihari yang segala sesuatu berada dibawah pengadilan-Nya, ia mengharap syurga Allah, abadi dan kekal berkumpul dengan anaknya kelak dalam kenikmatan Rahmat-Nya, inilah sebuah harga yang tak terbayar oleh apapun. Insya Allah. Amin.

MARI MEMPERBAIKI KUALITAS SHALAT KITA

MARI KITA PERBAIKI KUALITAS SHALAT

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengerjakan shalat, dan setelah selesai beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا فُلَانُ أَلَا تُحَسِّنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي كَيْفَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي أُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ بَيْنَ يَدَيَّ

‘Wahai Fulan, kenapa engkau tidak membaguskan shalatmu? Kenapa orang yang shalat itu tidak mau intropeksi bagaimana ia mengerjakan shalat untuk dirinya? Sesungguhnya aku mampu melihat dari belakangku seperti aku melihat melalui depanku’..”

Dalam riwayat lain: “Rasulullah shalat zhuhur mengimami kami, setelah salam beliau memanggil seorang laki-laki yang ada di shaf terakhir, beliau bersabda,

يا فلان ، ألا تتقي الله !؟ ألا تنظر كيف تصلي ؟! إن أحدكم إذا قام يصلي إنما يقوم يناجي ربه … فلينظر كيف ينجيه ! إنكم ترون أني لا أ راكم ، إني و الله لأرى من خلف ظهري ، كما أرى من بين يدي

‘Wahai fulan, tidakkah kamu bertakwa kepada Allah. Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana kamu shalat? Sesungguhnya salah seorang dari kalian jika dia berdiri shalat, dia berdiri bermunajat kepada Rabbnya maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana dia bermunajat kepadaNya, sesungguhnya kalian beranggapan aku tidak melihat kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat di belakang punggungku seperti aku melihat di depanku’.”

Dan juga riwayat beliau yang lain:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ فَسَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَأَحْسِنُوا رُكُوعَكُمْ وَسُجُودَكُمْ

“Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang ada di belakangku sebagaimana aku dapat melihat apa yang ada di depanku, maka luruskanlah barisan shalatmu serta perbagus ruku’ dan sujud kalian.” (Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)

( Kualitas Shalat yang buruk )

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisaa: 142)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“(Shalat Ashar) itulah shalat (yang biasanya ditelantarkan) orang munafik, ia duduk mengamat-amati matahari, jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia mematuk empat kali (- Rasul pergunakan istilah mematuk, untuk menyatakan sedemikian cepatnya, bagaikan jago mematuk makanan -pent) ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (HR. Muslim)

( Wajibnya memperbaiki kualitas Shalat )

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengerjakan shalat, dan setelah selesai beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا فُلَانُ أَلَا تُحَسِّنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي كَيْفَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي أُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ بَيْنَ يَدَيَّ

‘Wahai Fulan, kenapa engkau tidak membaguskan shalatmu? Kenapa orang yang shalat itu tidak mau intropeksi bagaimana ia mengerjakan shalat untuk dirinya? Sesungguhnya aku mampu melihat dari belakangku seperti aku melihat melalui depanku’..”

Dalam riwayat lain: “Rasulullah shalat zhuhur mengimami kami, setelah salam beliau memanggil seorang laki-laki yang ada di shaf terakhir, beliau bersabda,

يا فلان ، ألا تتقي الله !؟ ألا تنظر كيف تصلي ؟! إن أحدكم إذا قام يصلي إنما يقوم يناجي ربه … فلينظر كيف ينجيه ! إنكم ترون أني لا أ راكم ، إني و الله لأرى من خلف ظهري ، كما أرى من بين يدي

‘Wahai fulan, tidakkah kamu bertakwa kepada Allah. Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana kamu shalat? Sesungguhnya salah seorang dari kalian jika dia berdiri shalat, dia berdiri bermunajat kepada Rabbnya maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana dia bermunajat kepadaNya, sesungguhnya kalian beranggapan aku tidak melihat kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat di belakang punggungku seperti aku melihat di depanku’.”

Dan juga riwayat beliau yang lain:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ فَسَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَأَحْسِنُوا رُكُوعَكُمْ وَسُجُودَكُمْ

“Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang ada di belakangku sebagaimana aku dapat melihat apa yang ada di depanku, maka luruskanlah barisan shalatmu serta perbagus ruku’ dan sujud kalian.” (Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنْ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ يَعْنِي مَوَاضِعَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ وَيُثْنِي عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudlu’ yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca AL Qur’an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ruku’ sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” sampai berdiri lurus, kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud sehingga semua persendiannya tenang. Setelah itu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. Apabila dia telah mengerjakan seperti demikian, maka shalatnya menjadi sempurna.”

Dari Abul Yasar bahwa Nabi bersabda,

منكم من يصلي الصلاة كاملة ، و منكم من يصلي النصف ، والثلث ، الربع ، و الخمس حتي بلغ العشر

“Di antara kalian ada yang shalat dengan sempurna, di antara kalian ada yang shalat setengah, sepertiga, seperempat dan seperlima sampai men- capai sepersepuluh.” (Hasan, Diriwayatkan oleh an-Nasal dengan sanad hasan. Nama Abui Yasar -dengan ya dan sin, keduanya dibaca fathah- adalah Ka’ab bin Amr as-Sulami. Ikut dalam perang Badar. HN. 538 dalam Shahiih Targhiib wat tarhiib)

( Agar ketidaksempurnaan shalat kita tertambal )

Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sungguh amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila ada kekurangan dari sholat wajib yang ia kerjakan, , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaKu itu memiliki sholat tathawwu’ (sholat Sunnah). Lalu disempurnakan dengannya yang kurang dari sholat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian…(HR at-Tirmidziy dan lain-lain; kemudian ia berkata bahwa hadits ini; “Hadits Hasan Gharib”)

Di Tulis Oleh : Ust.Yusuf Mansur

Amalan Seorang Muslim Ketika Mendapat Musibah

Amalan Seorang Muslim Ketika Mendapat Musibah

Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allâh Ta’ala berfirman:

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]

KEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA

Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.

Allâh Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu
yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu
(Qs al-Anfâl/8:24)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].

Allâh Ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:

“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]

 

Amalan Seorang Muslim Ketika Mendapat Musibah

 

Amalan Seorang Muslim Ketika Mendapat Musibah

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu
(Qs at-Taghâbun/64:11)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]

HIKMAH COBAAN

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]

PENUTUP

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“Dan Allâh Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]

[1]

Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).

[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3] Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4] Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6] Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A

Artikel www.muslim.or.id

Memaknai Terjadinya Bencana

Memaknai Terjadinya Bencana

Oleh KH Said Aqil Siradj
Bencana datangnya tak mudah diterka. Sedangkan, berbagai bencana dahsyat yang terjadi selalu diwarnai oleh beragam penjelasan, sikap, dan pola tindakan. Bencana seolah tak mampu menghadirkan keimanan baru yang semakin memusatkan kepercayaan pada sumber utama kehidupan yakni Allah SWT. Sebabnya, masih  sedemikian menancapnya kepercayaan mitologis yang bernuansa takhayul dan khurafat.

Jarak mitos dan nalar rasional pun kian merenggang. Fenomena alam masih lebih banyak dikonstruksi oleh mitos ketimbang ilmu pengetahuan. Demikian dahsyat dan kompleksnya perilaku alam, ilmu pengetahuan, dan teknologi pun masih belum sepenuhnya mampu mencandra geliat alam semesta dengan validitas yang tinggi. Di sela-sela “kenisbian” ini, lalu mitologi pun kian mekar ketimbang sains modern.

Bagaimana agama memaknai bencana? Dalam panduan ajaran Islam, bencana adalah “musibah”, bukan petaka atau “azab”. Kendati, boleh jadi terdapat dimensi azab Tuhan di dalamnya terutama dalam menghukum perilaku manusia yang merusak (fasad) di alam semesta. Suatu musibah, tentu selalu memerlukan kepasrahan iman dalam sabar dan tawakal, juga hikmah bagi kehidupan. Para korban tak boleh berlama-lama dalam duka dan nestapa, karena jalan hidup masih terbuka dan dibukakan Tuhan. Bencana bukan akhir segala-galanya.

Musibah dalam khazanah Islam adalah apa yang telah menimpa (ashaba) secara tidak menyenangkan, dari yang berkadar ringan hingga berat. Sebab, musibah bisa beragam. Karena ulah manusia sendiri, baik diri sendiri maupun orang lain, yang menyebabkan penderitaan hidup. Atau, karena ulah hukum alam sebagaimana bencana gempa, banjir, tsunami, dan gunung meletus. Kita ingat,  hukuman Tuhan seperti yang menimpa kaum Madyan, Saba, dan Firaun, adalah ulah manusia yang berbuat “fasad” (kerusakan).

Bagi setiap orang beriman, musibah apa pun sebab dan jenisnya, betapapun menyakitkan dan menyengsarakan, akhirnya harus diterima sebagai kenyataan “qadha dan taqdir” yang memerlukan pengimanan. Itulah, makna dari rukun iman yang keenam, iman kepada ketentuan Allah yang menimpa diri kita. Dengan naik (mi’raj) ke langit iman, maka siapa pun yang mengalami musibah, seberat apa pun, akhirnya akan sampai ke titik keseimbangan. Titik harmoni dalam suasana jiwa yang thuma’ninah dan mutmainah.

Kosmologi “musibah” dalam mengonstruksi bencana, juga memerlukan ikhtiar-ikhtiar dan pertobatan baru bagi siapa pun yang menjalani kehidupan selama ini. Nabi Yusuf, Ibrahim, Ismail, dan Nabi Muhammad SAW memberi teladan bagaimana menghadapi dan mengubah musibah menjadi suatu energi “kesabaran yang indah” (QS al-Ma’rij: 5; Yusuf: 18, 82), juga menghasilkan sikap “syukur”, sebagaimana layaknya orang-orang yang tercerahkan dan mencerahkan kehidupan dalam sosok “ulul azmi” (QS al-Ahqaf: 35).

Musibah bahkan diubah menjadi kepasrahan bertauhid dengan simbol inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sebagaimana menjadi pakaian orang-orang yang sabar yang bermuara pada raihan berkah dan rahmat Allah (QS al-Baqarah: 155-157).

republika edisi 17 oktober 2011

Amalan Di Pagi Hari

Amalan Di Pagi Hari

Amalan Di Pagi Hari

Waktu yang berkah adalah waktu yang penuh kebaikan. Waktu pagi telah dido’akan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai waktu yang berkah. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Apabila Nabi shallallahu mengirim platun pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Kerana hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah.

 (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (kerja). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktiviti. Oleh kerana itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.” (Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163, Maktabah Syamilah).

Waktu Pagi adalah Waktu Semangat Untuk Beramal
Dalam Shohih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu berterusan . Lakukanlah ibadah (secara berterusan) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.”

 (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari).
Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari.
 (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah).Syaikh Abdurrahman  bin Nashir As Sa’di mengatakan bahwa inilah tiga waktu utama untuk melakukan safar (perjalanan) iaitu perjalanan fizik baik jauh ataupun dekat. Juga untuk melakukan perjalanan ukhrowi (untuk melakukan amalan akhirat).

 (Lihat Bahjah Qulubil Abror, hal. 67, Maktbah ‘Abdul Mushowir Muhammad Abdullah).KEBIASAAN ORANG SHOLIH DI PAGI HARI

Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan Tidak Beranjak Dari Tempat Shalat Setelah Shalat Shubuh Dan Keutamaan Masjid’.

 Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in, Simak bin Harb. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh : “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”.
 Jabir menjawab : “Ya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.”
 (HR. Muslim no. 670).Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.”

 (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah).Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
Dari Abu Wa’il, dia berkata:

“Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sambil  berkata: “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”

Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”

Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”. Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit?”
Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sambil  berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan : “Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.”

 (HR. Muslim no. 822)Keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan:

 “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.”
 (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah).TIDUR PAGI ITU DIBENCI
Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Kerana pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah).

Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian kerana waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).”

 (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah).Di antara bahaya tidur pagi adalah :
Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah.

Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.

Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.

Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya. Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim.
Beliau rahimahullah berkata:
“Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.”

 (Miftah Daris Sa’adah, 2/216).Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di petang harinya, dia juga akan malas-malasan pula.

Menghambat datangnya rezeki. Ibnul Qayyim berkata:
“Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah:
[1] tidur di waktu pagi,
[2] sedikit sholat,
[3] malas-malasan dan
[4] berkhianat.”
(Zaadul Ma’ad, 4/378).

Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat.
(Zaadul Ma’ad, 4/222).

DI ANTARA SEBAB TIDUR DI PAGI HARI
Pertama: Tidak shalat malam

Tidak shalat malam dapat menyebabkan malas di pagi harinya. Cara mengatasi hal ini adalah dengan mengerjakan sholat malam kerana dengan melakukan hal tersebut akan terlepaslah ikatan-ikatan syaitan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ertinya :
“Syaitan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan syaitan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”.
Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir.
Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.”

 (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)Dari Abu Wa’il, dari Abdullah, beliau berkata:
“Ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa terdapat seseorang yang tidur malam hingga shubuh (maksudnya tidak bangun malam, pen). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan : “Demikianlah syaitan telah mengencingi kedua telinganya.”

(HR. An Nasa’i no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1330. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 640 mengatakan bahwa hadits ini shohih).Kedua, Sering berjaga malam (begadang)

Begadang bisa menyebabkan lelah dan ngantuk di pagi harinya. Cara mengatasinya adalah dengan tidur di awal malam.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan bersembang-sembang  setelahnya.”

 (HR. Bukhari no. 568).Ketiga, Kebiasaan.

Ini juga adalah sebab orang sering tidur pagi karena kesehariannya memang seperti ini. Selepas shalat shubuh, kebiasaannya adalah menghampiri tilam, mengambil selimut dan bantal, sehingga terus tidur hingga matahari meninggi lalu beranjak kerja atau kuliah. Orang yang punya kebiasaan seperti ini telah hilang keberkahan dari dirinya di waktu pagi.Cara mengatasinya dengan bersungguh-sungguh menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dan senantiasa dibantu  dengan meminta tolong pada Allah.
Allah Ta’ala berfirman, artinya : ”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam jalan Kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

 (QS. Al ‘Ankabut : 69).AMAL-AMAL MENGISI WAKTU PAGI
Membaca Al Qur’an dan memahami maknanya

Saudaraku, isilah waktu pagimu dengan membaca Al Qur’an. Ingatlah bahwa Al Qur’an nanti dapat memberi syafa’at bagi kita di hari yang penuh kesulitan pada hari kiamat kelak.

Dari Abu Umamah Al Bahiliy, (beliau berkata):
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya :
“Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya.
Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut.
Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.”
(HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)

Mengulang Hafalan Al Qur’an

Bagi yang memiliki hafalan Al Qur’an juga dapat mengisi waktu paginya dengan mengulangi hafalan karena waktu pagi adalah waktu terbaik untuk menghafal dibanding dengan waktu siang yang penuh dengan kesibukan.

Ikatlah hafalan tersebut dengan banyak mengulanginya. Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Sesungguhnya orang yang menghafalkan Al Qur’an adalah bagaikan unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila dibiarkan tanpa diikat, maka dia akan pergi.”
(HR. Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789).

Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin memiliki kebiasaan menghafal Al Qur’an di pagi hari sehingga dapat menguatkan hafalannya.
Beliau rahimahullah mengatakan :
“Cara yang paling bagus untuk menghafalkan Al Qur’an -menurutku- adalah jika seseorang pada suatu hari menghafalkan beberapa ayat maka hendaklah dia mengulanginya pada keesokan paginya. Ini lebih akan banyak menolongnya untuk menguasai apa yang telah dia hafalkan di hari sebelumnya. Ini juga adalah kebiasaan yang biasa saya lakukan dan menghasilkan hafalan yang bagus.”
(Kitabul ‘Ilmi, hal. 105, Darul Itqon Al Iskandariyah).

Membaca Dzikir-dzikir Pagi
Waktu pagi juga utamakan dengan  membaca dzikir-dzikir pagi. Bacaan dzikir di waktu pagi secara lebih lengkap dapat dilihat dalam kitab Hisnul Muslim yang disusun oleh Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Menuntut ilmu agama

Waktu pagi juga boleh  kita isi dengan mempelajari ilmu agama. Hal ini dapat  kita lakukan dengan menghadiri majlis ilmu atau dengan membaca berbagai kitab para ulama.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mengisi waktu pagi dengan hal-hal yang bermanfaat. Amin.

Wallahu A’lam.

(Diambil dari tulisan Ust. Muhammad Abduh Tuasikal -dengan perubahan seperlunya-, http://rumaysho.com ). http://azwariskandar.blogspot.com/2009/12/keberkahan-waktu-pagi-nasehat-bagi.html

Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota

 Ustadz Yang Berdakwah Diatas BIS Kota

Selepas Dhuhur, sebuah bis kota penuh penumpang melaju perlahan meninggalkan terminal Leuwi Panjang, Bandung. Suara bis bercampur dengan deru kendaraan lain membuat suasana bising. Tiba di sebuah lampu merah, bis berhenti. Mendadak dari dereten kursi penumpang paling depan seorang lelaki berpeci putih berdiri. Dengan bahasa yang santun dan ramah, ia menyapa para penumpang. “Assalamu’alaikum.” Lalu, ia minta ijin beberapa menit untuk menyampaikan sesuatu. “Saya di sini tidak mewakili lembaga apapun. Tanpa bermaksud menggurui, saya hanya berbagi ilmu dan saling mengingatkan,” katanya. Sesaat kemudian mengalir kalimat-kalimat penuh makna. “Hidup bahagia adalah keinginan kita semua,” katanya, ”di sisi lain, persepsi setiap orang tentang bahagia berbeda-beda. Ada yang beranggapan kebahagiaan terletak pada harta. Yang lain berpendapat kebahagiaan ada pada kekuasaan. Ada pula yang berpikir kebahagiaan hanya bisa didapat melalui ketenaran atau popularitas. Karena itu, mereka mengejar dan mencari semua itu. Padahal, semua itu tidak akan mampu mendatangkan kebahagiaan yang dicari.”

”Sejatinya,” masih kata pria berpeci putih itu, ”kebahagiaan itu terdapat di dalam hati, bukan pada materi. Kebahagiaan tidak terletak pada sarana. Ia bisa diraih jika kita mengetahui rumus dan sumber asalnya.”

Pria itu kemudian memberi resep sederhana. Secara ringkas, menurutnya, sumber kebahagiaan ada tiga: berfikir positif, membahagiakan orang lain dan zikir.

Saat pria itu berceramah, sebagian penumpang ada yang memperhatikan secara serius. Ada juga yang mengobrol dan ada pula yang cuek. Tetapi, sepertinya ia tidak terganggu dengan berbagai respon penumpang. Ia terus berpetuah.

Itulah sepenggal kisah Saleh Muslim (33) berdakwah di atas bis kota. Meski kadang mendapat cemoohan, Solmus, demikian biasa dipanggil, tetap istiqomah menjalaninya sejak empat tahun lalu.

Dalam seminggu, tiga kali ia menjalani dakwah yang penuh tantangan itu. “Tapi itu dulu. Sekarang seminggu sekali,” kata Solmus menambahkan. Bukan karena surut, melainkan ia punya tanggung jawab lain. Kini, ia mengajar di sebuah SD di kota kembang. “Biasanya saya berdakwah setiap Rabo, setelah mengajar,” jelasnya.

( Ide Dakwah )

Sehari Solmus biasanya berdakwah di 3 bis. Ia lebih suka memilih waktu sore hari, “Suasananya lebih enak untuk memasukkan nilai-nilai,” katanya.

Berawal dari kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Tiap hari ia naik bis untuk menuju kampusnya itu. Saking seringnya naik bis, ia jadi paham karakter transpotasi dalam kota yang murah meriah ini.

Bis kota, kata ayah tiga anak ini, seperti ruang terbuka. Siapa saja boleh naik dan memanfaatkannya. Maka tak heran bila pengamen, pedagang asongan, pengemis bahkan pencopet silih berganti naik. Mereka semua mengais rezeki dari angkutan massal ini.

Dari pengalaman itu, Solmus menemukan ide: menjadikan bis kota sebagai ladang dakwah. “Sekedar untuk mengingatkan para penumpang tentang agama dan kehidupannya supaya lebih bermakna dan bahagia,” kata mantan aktivis dakwah kampus ini.

Segera ia mulai menjalankan rencananya. Ternyata berceramah di bis bukan hal mudah meski hanya sekedar berbicara. Harus bermental kuat, di samping materi yang harus cocok dengan keadaan para penumpang yang heterogen.

Di samping itu, harus pandai melihat situasi dan kondisi yang tepat. “Jangan sampai bersamaan dengan pengamen dan pedagang asongan atau pengemis,” katanya.

Solmus menceritakan pengalamannya. Suatu ketika ia baru memulai tausyiah. Tiba-tiba naik rombongan pengamen. Merasa didahului, mereka marah-marah sambil memaki-maki. “Kalau ceramah di masjid, jangan di bis kota. Di sini untuk mencari uang,” kata mereka.

Lain kali ia diuji oleh pedagang asongan. Saat ia berceramah, pedagang asongan itu berkata ke sebagian penumpang. Pedagang asongan itu berkata ke sebagian penumpang, “Tong di denge-tong di denge,”. Jangan di dengar-jangan di dengar.

Mengahadapi semua tantangan itu, Solmus tetap tenang. Ia tidak menyurutkan langkah. “Itu bagian dari ujian dakwah yang harus dihadapi dengan sabar,” katanya.

Dari pihak Damri sendiri, sebagai pengelola bis kota, ada oknum yang semula melarang Solmus. Dia beralasan, bis kota bukan masjid. “Selain itu, dia takut dakwah saya mengundang kecemburuan kelompok agama lain,” tambah Solmus.

Tetapi setelah Solmus menjelaskan, oknum tadi bisa memahami dan mendukung.

( Hikmah )

Bagi Solmus berdakwah di atas bus kota mendatangkan banyak hikmah, baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya. Kalau pengajian biasa jamaah harus diundang dulu, beda dengan bis kota, “Mereka menunggu dai,” ujar Solmus.

Jika membaca sirah, lanjut Solmus, Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam pun suka berdakwah di tempat-tempat umum. Misalnya di pasar atau di kerumunan orang banyak. Di dilihat dari sini, maka penumpang bis kota merupakan kumpulan orang yang dilihat dari prespektif dakwah adalah objek dakwah.

“Mungkin mereka ada yang belum tersentuh agama atau melupakannya sehingga mudah-mudahan dengan adanya dakwah di bus kota menjadi sarana sampainya hidayah pada mereka,” jelas Solmus.

Dakwah Solmus di bus kota mendapat respon positif, baik penumpang maupun pihak Damri. “Pernah ada penumpang non Muslim memuji dan mendukung dakwah saya,” katanya.

Direktur Damri Pusat sendiri tahun lalu langsung mengundang Solmus ke Jakarta. Atas usahanya tersebut ia mendapat “penghargaan.” “Saya diundang ke Jakarta untuk memberi pengajian di kantor pusat,” katanya.

Yang paling membahagiakan Solmus adalah akhir 2012 lalu. Ia mendapat kesempatan menuaikan umroh ke Tanah Suci. Ada salah satu orangtua siswa didiknya yang mengetahui dan simpati atas dakwah Solmus di bus kota.

Solmus juga telah menulis isi ceramah-ceramahnya di bis kota dan tempat lainnya dalam sebuah buku kumpulan ceramah singkat. Ia berharap, buku tersebut bermanfaat dan dakwahnya di kendaraan umum ada yang melanjutkan atau meniru sehingga ada nilai lebih saat orang naik kendaraan umum

sumber : yusuf mansur network

Surga Itu Lebih Indah Dari Dunia | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Surga Itu Lebih Indah Dari Dunia

Salah satu di antara pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mengimani keberadaan Surga (Al Jannah) dan Neraka (An Naar). Salah satunya berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya..”(QS. Al-Baqarah : 24-25).

Mengimani surga dan neraka berarti membenarkan dengan pasti akan keberadaan keduanya, dan meyakini bahwa keduanya merupakan makhluk yang dikekalkan oleh Allah, tidak akan punah dan tidak akan binasa, dimasukkan ke dalam surga segala bentuk kenikmatan dan ke dalam neraka segala bentuk siksa. Juga mengimani bahwa surga dan neraka telah tercipta dan keduanya saat ini telah disiapkan oleh Allah ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala mengenai surga (yang artinya), “..yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133), dan mengenai neraka (yang artinya), “..yang telah disediakan untuk orang-orang yang kafir.”(QS. Ali Imran : 131).[1] Oleh karena itulah, Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (wafat 321 H) menyimpulkan dalam Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, “Surga dan neraka adalah dua makhluq yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluq lain”

Surga Itu Lebih Indah Dari Dunia

Allah Ta’ala telah menggambarkan kenikmatan surga melalui berbagai macam cara. Terkadang, Allah mengacaukan akal sehat manusia melalui firman-Nya dalam hadits qudsi, “Kusiapkan bagi hamba-hambaKu yang sholih (di dalam surga, -pen), yaitu apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati semua manusia”, kemudian Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah jika kalian mau, ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang’ (QS. As-Sajdah : 17)”[3]. Di tempat lain, Allah membandingkan kenikmatan surga dengan dunia untuk menjatuhkan dan merendahkannya. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Tempat cemeti di dalam surga lebih baik dari dunia dan seisinya”.[4] Kenikmatan surga juga Allah Ta’ala gambarkan dengan menyebut manusia yang berhasil memasuki surga dan selamat dari adzab neraka, sebagai orang yang beroleh kemenangan yang besar. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan (yang artinya), “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (QS. An-Nisaa’ : 13)[5] Berikut ini akan kami pilihkan beberapa sifat dan kenikmatan yang ada di dalam surga secara ringkas. Semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menggapai surgaNya.

Penamaan Surga

Surga (Al Jannah) secara bahasa berarti : kebun (al bustan), atau kebun yang di dalamnya terdapat pepohonan. Bangsa Arab juga biasa memakai kata al jannah untuk menyebut pohon kurma. Secara istilah, surga ialah nama yang umum mencakup suatu tempat (yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi mereka yang menaati-Nya), di dalamnya terdapat segala macam kenikmatan, kelezatan, kesenangan, kebahagiaan, dan kesejukan pandangan mata. Surga juga disebut dengan berbagai macam nama selain Al Jannah, diantaranya : Darus Salam (Negeri Keselamatan;lihat QS. Yunus : 25), Darul Khuld (Negeri yang Kekal;lihat QS. Qaaf : 34), Jannatun Na’im (Surga yang Penuh Kenikmatan;QS. Luqman: 8), Al Firdaus (QS. Al Kahfi : 108), dan berbagai penamaan lainnya.[6]

Pintu-Pintu Surga

Surga memiliki pintu-pintu. Dalam sebuah hadits dari shahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallaahu anhu dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, “Di dalam surga terdapat delapan pintu, diantaranya adalah Ar Rayyan. Tidak ada yang memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa”[7]. Dari Utbah bin Ghazawan radhiyallaahu anhu, beliau berkata mengenai lebar tiap pintu surga, “Rasulullah bersabda kepada kami bahwasanya jarak antara daun pintu ke daun pintu surga lainnya sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika orang yang memasukinya harus berdesakan”.[8]

Tingkatan Surga

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya surga terdiri atas seratus tingkat, jarak antara dua tingkatnya seperti jarak antara langit dan bumi, Allah menyediakannya untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya”[9]. Tingkatan surga yang paling tinggi ialah Firdaus. Nabi memerintahkan ummatnya untuk berdoa memohon Firdaus melalui sabdanya, “Jika kalian meminta pada Allah mintalah kepadaNya Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling utama, dan merupakan tingkatan tertinggi dari surga, diatasnya terdapat ‘Arsy Ar Rahman dan dari Firdaus itulah memancar sungai-sungai surga”[10]

Bangunan-Bangunan dalam Surga

“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi” (QS. Az-Zumar : 20). Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi orang-orang mukmin di dalam surga disediakan kemah yang terbuat dari mutiara yang besar dan berlubang, panjangnya 60 mil, di dalamnya tinggal keluarganya, di sekelilingnya tinggal pula orang mukmin lainnya namun mereka tidak saling melihat satu sama lain.”[11]

Makanan Penghuni Surga

“Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqi’ah : 20-21). Adapun buah-buahan surga adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala (yang artinya), “Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa” (QS. Al Baqarah : 25). Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan keserupaan dalam ayat diatas dengan, “Ada yang berpendapat serupa dalam hal jenis, namun berbeda dalam penamaan, ada pula yang berpendapat saling menyerupai satu sama lain, dalam kebaikannya, kelezatannya, kesenangannya, dan semua pendapat tersebut benar.”[12]

Minuman Penghuni Surga

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari piala (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Insan : 5-6). Ibnu Asyur menjelaskan mengenai kafur “Yaitu minyak yang keluar dari tanaman mirip oleander yang tumbuh di negeri Cina, ketika usianya telah mencapai satu tahun mengalir dari dahannya minyak yang disebut kafur. Minyak tersebut kental, dan apabila bercampur dengan air jadilah ia minuman memabukkan”[13]. Oleh karena itu, “ka’san” dalam ayat ini maksudnya ialah piala yang biasa menjadi wadah khamr, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jalalain. Kata “ka’san” ini juga dipakai dalam ayat, “Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe” (QS. Al Insan : 17) dan maksudnya ialah minuman arak yang telah bercampur jahe, karena bangsa Arab dahulu biasa mencampur arak dengan jahe untuk menghilangkan bau busuk yang timbul darinya.

Dahsyatnya Neraka

Neraka disiapkan Allah bagi orang-orang yang mengkufuri-Nya, membantah syariat-Nya, dan mendustakan Rasul-Nya. Bagi mereka adzab yang pedih, dan penjara bagi orang-orang yang gemar berbuat kerusakan. Itulah kehinaan dan kerugian yang paling besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Ali Imran : 192). Demikian pula firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az Zumar : 15). Itulah seburuk-buruk tempat kembali. “Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Furqan : 66)

Penamaan Neraka

An Naar, neraka secara bahasa ialah kobaran api (al lahab) yang panas dan bersifat membakar. Secara istilah bermakna, suatu tempat yang telah disiapkan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yang mendurhakai-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)” (QS. Al Ahzab : 64). Neraka memiliki beragam nama selain an naar, diantaranya Jahannam (lihat QS. An Naba’ : 21-22), Al Jahim (QS. An Naziat : 36), As Sa’ir (QS. Asy Syura : 7), Saqar (QS. Al Mudatsir : 27-28), Al Huthomah (QS. Al Humazah : 4), dan Al Hawiyah (QS. Al Qari’ah : 8-11)

Pintu-Pintu Neraka

“Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al Hijr : 44). Pintu yang dimaksud ialah bertingkat ke bawah, hingga ke bawahnya lagi, disediakan sesuai dengan amal keburukan yang telah dikerjakan, sebagaimana ditafsirkan oleh Syaikh As Sa’diy.

Kedalaman Neraka

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, “Kami bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Maka Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bertanya, ‘Tahukah kalian apakah itu?’ Kami pun menjawab, ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui’. Rasulullah berkata, ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun lalu. Batu itu jatuh ke dalam neraka, hingga baru mencapai dasarnya tadi’. [14]

Bahan Bakar Neraka

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 24). Batu yang dimaksud dalam ayat ini ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan sebagian besar pakar tafsir dengan belerang, dikarenakan sifatnya yang mudah menyala lagi busuk baunya. Sebagian pakar tafsir juga berpendapat bahwa yang dimaksud batu di sini, ialah berhala-berhala yang disembah, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS. Al Anbiya : 98)

Panas Api Neraka

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam bersabda, ‘Api kalian, yang dinyalakan oleh anak Adam, hanyalah satu dari 70 bagian nyala api Jahannam. Para shahabat kemudian mengatakan, ‘Demi Allah! Jika sepanas ini saja niscaya sudah cukup wahai Rasulullah! Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya masih ada 69 bagian lagi, masing-masingnya semisal dengan nyala api ini’”.

Makanan Penghuni Neraka

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar” (QS. Al Ghasiyah : 6-7). Ibnu Katsir rahimahullah membawakan perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, “Itu adalah pohon dari neraka”. Said bin Jubair berkata, “Itu adalah Az Zaqum (pepohonan berduri bagi makanan penghuni neraka)”. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah batu.

Minuman Penghuni Neraka

Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya” (QS. Ibrahim : 16-17). Yaitu mereka diberi air yang amatlah busuk baunya lagi kental, maka merekapun merasa jijik dan tidak mampu menelannya. “Diberi minuman dengan hamiim (air yang mendidih) sehingga memotong ususnya” (QS. Muhammad : 47). Hamiim ialah air yang mendidih oleh panasnya api Jahannam, yang mampu melelehkan isi perut dan menceraiberaikan kulit mereka yang meminumnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)” (QS. Al Hajj : 20).[15]

Mengingat Nikmat Surga dan Adzab Neraka Sumber Rasa Khusyu’ dalam Hati

Yahya bin Mu’adz berkata, “Rasa takut di dalam hati bisa tumbuh dari tiga hal. Yaitu senantiasa berpikir seraya mengambil pelajaran, merindukan Surga seraya memendam rasa cinta, dan mengingat Neraka seraya menambah ketakutan.” Hendaklah diri kita tidak pernah merasa aman dari adzab neraka. Sulaiman At Taimi pernah berkata, “Aku tidak tahu apa yang tampak jelas bagiku dari Rabbku. Aku mendengar Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan”. (QS. Az Zumar : 47).[16] Semoga tulisan ini dapat menambah rasa takut dan harap kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memotivasi kita untuk meningkatkan amal shalih, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Penulis: Yhouga Ariesta M

Artikel www.muslim.or.id

Cara Menyimpan & Membawa Al-Qur'an | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Cara Menyimpan dan Membawa Al-Quran

Cara Menyimpan dan Membawa Al-Quran

Al-Qur`an adalah kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad s.a.w selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Tidak main-main perkataan Allah ini dan tidak akan ada makhluk Allah yang dapat menyaingi ilmu-Nya untuk dapat membuat kitab serupa dengan Al Qur’an. Hal ini karena Allah Ta’ala telah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah s.a.w sebagai salah satu mukjizat Nabi dan sebagai pedoman bagi kita, umatnya, untuk menjalani kehidupan yang fana di dunia ini hingga akhir zaman. Berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak maka dari itu merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim agar isi dari Al Qur’an tetap terjaga sejak zaman Rasulullah hingga saat ini.
Namun, bagaimana seharusnya sikap kita dalam membaca Al-Qur’an? Berikut akan dibahas beberapa adab dalam membaca Al-Qur’an.

Saudaraku, alQuran ini kitab mulia. Bagaimana kita akan peroleh kemuliaan al-Qur’an jika tak memuliakannya?

Para imam terdahulu tak pernah pisahkan antara mengaji al-Qur’an dengan adabnya. Ini sepaket. Adab-adab berikut ini diambil dari sebuah kitab khusus yang Imam Nawawi tulis mengenai adab dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Lihatlah bagaimana perkara adab ini serius untuk diperhatikan. Bisa tak peroleh pahala mengaji karena tak beradab saat mengaji.

Kalau begitu mari kita simak apa saja adab berinteraksi dengan al-Qur’an. Semoga Allah SWT memudahkan kita para hambaNya dalam memuliakan al-Qur’an :
ADAB MEMBACA AL-QURAN
1)          Sebelum membaca Al-Qur’an disunnahkan berwudhu terlebih dahulu.
2)          Sebelum membaca Al-Qur’an, disunnahkan membaca ta’awwudz dan basmalah.
3)          Membaca doa sebelum memulakan bacaan al-Quran.
4)          Membaca al-Quran dengan menghadap qiblat.
5)          Meletak al-Quran ditempat yang sesuai, seperti papan rehal.
6)          Memakai pakaian yang suci, lengkap dan menutup aurat.
7)          Membaca dengan tertib dan beradab.
8)          Al-Qur’an harus dibaca dengan tartil dan tajwid yang benar.
9)          Membaca dengan suara merdu dan baik.
10)       Tidak boleh membaca Al-Qur’an sambil bernyanyi menari atau memekik seperti orang kesakitan.
11)       Menumpukan perhatian kepada bacaan dan menjauhkan daripada amalan-amalan seperti bercakap-cakap, ketawa dan bertepuk-tepuk tangan.
12)       Janganlah menghentikan bacaan Al-Qur’an sembarangan hanya karena akan berbicara dengan orang lain atau memenuhi kebutuhan yang tidak penting.
13)       Mengakhiri bacaan dengan sodaqollahul’azhim.
14)       Menciumnya setiap kita selesai membacanya.
15)       Apabila ketika membaca Al-Qur’an terasa ingin buang angin, atau mulut terasa akan menguap, hentikanlah bacaan Al-Qur’an sejenak untuk menyelesaikan hajat tersebut.
ADAB MEMBAWA AL-QURAN
1) Hendaklah mempunyai wuduk.
2) Memegang al-Quran dengan tangan kanan.
3) Membawa separas bahu.
4)  Saat membawa Al-Qur’an, disunnahkan mendekapnya dengan tangan kanan.
ADAB MENYIMPAN AL-QURAN
1) Simpan al-Quran di tempat yang tinggi dan bersih.

2) Al-Quran ditaruh di tempat yang dialas tinggi.
3) Tidak menjadikan Al-Quran sebagai bantal.

Waktu terbaik membaca al-Quran | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Waktu terbaik membaca al-Quran | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

SALAH satu kegiatan utama berkaitan dengan Al Qur’an tentu adalah membacanya. Semua ibadah berkaitan dengan Al Qur’an dijanjikan dengan pahala yang besar, termasuk dalam hal membacanya. Namun, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, untuk lebih mencapai dan memperoleh manfaat dari membaca Al Qur’an tersebut, Islam telah mengatur adab-adab dan etika ketika seorang muslim membaca Al Qur’an.

Pertama Dianjurkan dan disunahkan dalam membaca Al-Qur’an dalam kondisi yang sempurna: Bersih, Menghadap Qiblat, serta senantiasa menjagan Waktu terbaik untuk membaca Al-Qur’an seperti Malam hari, ba’da Maghrib, dan ba’da Shubuh sebagaimana firman Allah

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzammil:6)
dan juga

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya membaca Al-Qur’an di waktu Fajar disaksikan (oleh Malaikat),” (Al-Isra:78)

Dan membaca Al-Qur’an dalam kondisi berdiri, duduk, berbaring, berjalan bahkan ketika berkendaraan, sebagaimana firman-Nya:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring,” (Ali Imran: 191).

Kedua Maka disunnahkan memperbanyak bacaan baik ketika pagi, siang, sore dan malam sebagaimana hadits Rasulullah “Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Muslim).

Kedua Membaca Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir. Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT telah berfirman, ”Barangsiapa yang disibukkan dengan Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku, hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti keutamaan Allah atas semua makhluknya.” (HR. Turmudzi)

Ketiga Membaca Al-Qur’an dengan tartil lebih diutamakan dari pada membaca dengan terburu-buru sehingga seluruh huruf-hurufnya jelas dan lebih menyentuh ke dalam hati.

 وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Al Muzzammil:4)

Keempat Memperindah bacaan sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Hiasilah Al Qur’an itu dengan suaramu.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lainnya disebutkan “Sesungguhnya suara yang baik itu menambah Al Qur’an menjadi baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i) [Dedih Mulyad/SPU]

SELENGKAPNYA: kunjungi spupurwakarta.org

TABLIGH AKBAR MENYAMBUT HARI IBU

MENJADI IBU YANG MENGINSPIRASI – Quran Cordoba

Hari ini Tanggal 17 Desember 2014 Quran Cordoba bersama PKPU BANDUNG Pengurus Pusat Gerakan Muslimat Indonesia , Bank BJB Syariah , Majalah Ummi , Bank Syariah Mandiri , Ina Cookies , dan KHARISMA KERONCONG 90.9LITA FM .

Telah Menyelenggarakan acara

TABLIGH AKBAR MENYAMBUT HARI IBU

MENJADI IBU YANG MENGINSPIRASI

Dengan mengahdirkan Ustadz Aam Amiruddin ,
K.H. Prof. Dr. Miftah Farid, . R. Giselawati Wiranegara (istri Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar ) dan kang harry bpm

Acara yang diselenggarakan di PUSDAI Bandung – Jawa Barat ini , Sesuai judulnya, dengan di selenggarakanya acara ini kami berharap akan semakin banyak ibu ibu indonesia yang bisa menjadi inspirasi bagi seluruh warga indonesia. aamiin

TABLIGH AKBAR MENYAMBUT HARI IBU

[accordion]
[pane title=”Ibu Ina sedang membagikan Doorprize” start=open]
Ibu ina sedang membagikan doorprize
[/pane]
[pane title=”Doorprize dari Quran Cordoba”]
Doorprize dari Quran Cordoba
[/pane]
[pane title=”Stand Bazar”]
Stand Bazar
[/pane]

[pane title=”Stand Bazar”]

MENJADI IBU YANG MENGINSPIRASI|Penerbit Al-Qur'an Indonesia

[/pane]

[pane title=”Stand Bazar”]

MENJADI IBU YANG MENGINSPIRASi

[/pane]
[/accordion]

 

Cara Menjadi Hafidz Al-Qur'an | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Cara Menjadi Hafidz Al-Quran

 

Cara menjadi hafidz Al-Quran sebenarnya sangat mudah hanya saja kita belum mengetahui caranya sehingga kita menganggapnya sulit. Untuk itu melalui artikel ini saya mencoba untuk berbagi informasi mengenai cara menghafal Al Quran tanpa menghafal. Semoga dengan mengetahui Cara menjadi hafidz Al-Quran ini menjadi inspirasi dan dapat memacu semangat sobat sekalian dalam menghafal Al Quran.

Menghafal Al Quran merupakan perbuatan yang sangat mulia dan sudah dijanjikan Surga oleh Allah SWT bagi para penghafal Quran. Jadi bagi para pencari tiket surga sebenarnya salah satu caranya adalah dengan menghafal Al Quran. Hanya saja kita selama ini terlalu malas (termasuk penulis) dalam menghafal Al Quran dan menginginkan cara-cara yang instan sekejap mata langsung hafal. Padahal kalau dicicil sedikit demi sedikit, seayat demi seayat dari sejak pertama kali terbersit niat ingin menghafal Al Quran mungkin sekarang ini kita yang membaca artikel ini sudah hafal beberapa juz bahkan bisa jadi telah hafal 30 juz Al Quran.

1. Baca ayat pertama dengan detil dan tartil, kemudian ulangi lagi sebanyak 20 kali. Mungkin pada awalnya anda mengucapkannya terbatah-batah tapi pada pengucapan yang ke 20 saya yakin insya Allah anda sudah fasih mengucapkannya bahkan tanpa melihat lagi. Cukup membaca dan jangan menghafal, apalagi memejamkan mata. (1×20)

2. Baca ayat kedua menggunakan metode yang sama yaitu dibaca sebanyak 20 kali. Bila telah usai maka gabungkan ayat 1 dan 2. Jadi bacalah ayat pertama, lanjutkan dengan ayat kedua kemudian ulangi lagi baca ayat pertama, lalu kedua. Lakukan lagi membaca ini sebanyak 20 kali. ((2×20) +((1+2)x20)).

3. Baca ayat ke tiga menggunakan metode yang sama yaitu dibaca sebanyak 20 kali. Bila telah usai maka bacalah ayat 1,2 dan 3 kemudian ulangi sebanyak 20 kali. ((3×20) + ((1+2+3)x20)).

4. Begitu juga dengan ayat ke 4. ((4×20) + ((1+2+3+4)x20)).

5. Pada ayat ke 5 juga anda lakukan cara yang sama. ((5×20) + ((1+2+3+4+5)x20)). Nah pada langkah ke lima ini anda simpan dulu apa yang telah anda dapatkan. Dan saya yakin anda insya Allah telah dapat membaca ayat 1-5 dengan lancar tanpa melihat Al Quran lagi alias hafal, bahkan letak titik dan komanya anda tau. Right?
http://qurancordoba.com/wp-admin/post-new.php
Nah bagaimana sobat sekalian, sangat mudah bukan? cukup membaca tanpa perlu menghafal, tapi hadiahnya adalah hafal. Iya kan? nah untuk tahap selanjutnya Insya Allah akan saya sampaikan pada artikel berikutnya,cara Menjadi hafidz Al Quran, so don’t miss it. Semoga artikel cara Menjadi hafidz Al Quran di atas bisa bermanfaat bagi anda semua dan mari kita doakan agar temen-temen yang membaca artikel ini kemudian giat menghafal Al Quran kita doakan agar proses menghafalnya lancar dan bisa menghafal sampai 30 Juz. Aamin.

Jika dirasa artikel tips cara mudah menghafal Al Qur’an tanpa menghafal ini bermanfaat, jangan sungkan-sungkan untuk menyebarluaskannya semoga dengan begitu insya Allah kita akan mendapatkan pahala secara berjamaah.. 🙂

 

tiportips.com

Kisah Menghafal Al-Quran

Kisah Menghafal Al-Quran

 

Jika ada sebuah rekor jumlah penghafal suatu kitab dan masuk ke guiness of book, kitab yang berabad-abad dihafal oleh jutaan orang tanpa ada yang berubah sedikitpun isinya. Maka jawabnya adalah al Qur’an. Pakistan beberapa tahun lalu pernah  tercatat sebagai Negara penghafal Qur’an terbanyak yaitu sekitar 7 juta, sementara di jalur Gaza palestina informasi mutakhir menyebutkan setiap tahun berhasil melantik 15 ribu penghafal Qur’an.

Belum lagi di mesir dan belahan negri muslim lainnya termasuk Indonesia.’Inilah kitab suci al Qur’an yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya’, dijaga oleh para penghafalnya. Kebanggaan sebagai Muslim mempunyai kitab suci yang sangat dihormati, diagungkan, bahkan kesuciaannya begitu dijaga, maka inspirasi dari penghafal Qur’an dikenal dengan Hafiz  harus terus digali dan dicari, karena kemuliaan umat islam tergantung dari kedekatan umatnya dalam berinteraksi dengan al Qur’an.

Ketika mendengar kata menghafal Al Qur’an ‘tahfiz’ yang ada dalam benak setiap muslim pasti berbeda-beda, gambaran yang umum biasanya tentang tadarusan, aktivitas kaku, hanya di mesjid, pesantren, berdiam diri dan eksklusif dengan persepsi bahwa menghafal Qur’an itu sangat sulit, mustahil, banyak, menyita waktu, mengulang-ulang bacaan dan lainnya. Apakah persepsi itu benar? Sudah benarkah dengan pemikiran kita?

Bagaimana kita memahami cara menghafal Qur’an yang benar, yang mengikuti sunah Nabi SAW, yang relevan dengan perkembangan zaman? Dan muslim apapun status dan profesinya mampu juga untuk menghafal Al Qur’an, bangga melaksanakan aktivitas Tahfizh Qur’an tersebut sebagaimana Rasulullah, para sahabat, Salafusholeh, para Ulama dan umat Islam melakukannya sepanjang 14 abad ini.

Acara Ramadhan tahun 2013 di Televisi sangat spesial bagi penghafal Al Qur’an, karena ada program Hafiz Indonesia. Semua muslim, termasuk siapapun yang tidak mengenal dan faham Al Qur’an pasti akan takjub dan bangga melihat anak-anak kecil mampu melafalkan ayat-ayat al Qur’an tanpa melihat tulisannya. Hafal Qur’an saat belum balig, jiwanya bersih, akhlaknya baik sangat membanggakan bagi orang-tuanya, agamanya, dan Indonesia.

Acara tersebut sangat berpengaruh, menyentuh bahkan memiliki rating tertinggi dan favorit untuk program acara di bulan Ramadhan.  Di  timur tengah anak-anak usia dibawah 10 tahun hafal 30 juz itu biasa dan banyak, ini menjadi pertanda sebuah generasi baru, generasi penjaga Al Qur’an, para pencinta wahyu. pertanda kebangkitan Islam yang dimulai semaraknya umat kembali kepada Al Qur’an. ‘Mindset’ bahwa “anak kecil saja bisa maka yang pernah kecil pun pasti bisa”. maka ada sebuah pertanyaan, apakah kita sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, pengusaha mempunyai kemauan untuk menghafal al Qur’an, kemauan dan tekad yang kuat untuk minimal menghafal 3 juz  atau 1 juz al Qur’an, hanya juz 30 bukan 30 juz, kemauan yang disertai kemampuan untuk menghafal ayat-ayat Allah, Kitab suci yang menjadi kebanggan kita sebagai umat Islam, Firman suci yang menjadi mukjizat, sumber hukum, sumber semua ilmu pengetahuan, sumber petunjuk dan keselamatan umat manusia di dunia dan ke akhirat kelak.

Menurut Ulama ‘Abd al-Rabbi Nawabuddin tahfidz adalah proses menghafalkan al-Qur’an dalam ingatan sehingga dapat dilafadzkan di luar kepala secara benar dengan cara-cara tertentu dan terus menerus”. Menghafal Qur’an merupakan suatu aktivitas mulia, berpahala, amal ibadah yang dijamin masuk surga, tentu memerlukan metode, cara untuk menjalaninya dan ilmu yang terkait dengannya. Maka definisi yang saya sampaikan yaitu “Tahfidz Adalah: Usaha Menyimpan Hafalan Al-Qur’an ke dalam hati dengan Menggunakan metode  Tertentu yang berkesan sehingga mampu untuk mengingatnya lagi”.

Ini terkait dengan memory otak, bagaimana informasi disimpan dalam fikiran, menjaga hafalan Qur’an dalam akal dan hati.Tidak ada definisi yang disepakati atau metode yang pasti, semuanya hanya untuk mendekati bahwa aktivitas Tahfiz ini sangat mulia, unik, turun-temurun secara mutawattir sehingga keaslian al Qur’an tetap terjaga. Metode yang Rasulullah lakukan dengan Malaikat Jibril adalah ‘Talaqi’, yaitu Malaikat Jibril membaca langsung diikuti bacaan tersebut oleh Rasulullah. Rasulullah pun  setiap setahun sekali di bulan Ramadhan membacakan hafalan Al Qur’annya kepada malaikat Jibril. Metode talaqi ini terus digunakan kepada para Sahabat Rasul, para Ulama sampai kepada kita semua. Lalu zaman modern ini bagaimana metode dalam menghafal Qur’an?.

Memoar yang saya sampaikan ini pengalaman pribadi ketika menghafal Qur’an, lika-liku dan perjuangan saat menghafal Qur’an 30 juz, kebanggaan dan kebahagiaan sepanjang hidupku sebagai muslim saat menghatamkan Al Qur’an. Sebagaimana ucapan seorang ulama, “ kenikmatan berinteraksi dengan al Qur’an hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah merasakannya”, sulit melukiskan perasaan nikmatnya menghafal Qur’an, yang bisa disampaikan hanya perjalanannya, sebuah metode yang telah dilakukan, berbagai hambatan, masalah dan solusinya, memoar ini memberikan inspirasi indahnya hidup dibawah naungan al Qur’an.

Kenangan  diguyur 1 ember air oleh Ayah sendiri karena tidak mau belajar mengaji, lalu saat kelas 3 SD  Ayah wafat dan saya masih belum bisa baca al Qur’an. Di akhir hayatnya almarhum ayah berbisik kepada Ibu supaya besar saya rajin baca Qur’an, wasiat tersebut masih teringat. Inspirasi awal dari figur ayah yang bukan seorang kiayi,bukan ustaz, hanya lulusan Ekonomi UNPAD yang faham tentang pembinaan agama di keluarga, pendidikan Qur’an untuk anak-anaknya.

Masuk pesantren di Ciamis namun hanya bertahan 8 bulan. Kesan mengaji dan menghafal Qur’an di waktu shubuh sangat kuat dan masuk bawah sadar, walaupun hanya sebentar terasa bekas memorinya. Itulah awalnya inspirasi dari konsistensi Ibadah, pentingnya lingkungan yang Qur’ani, keberkahan hidup ketika melaksanakan sholat Dhuha dan ketenangan yang terasa di hati dan fikiran walaupun masih usia Sekolah Dasar.

Hidup sudah ada takdirnya, berusaha dan tawakal itulah yang mesti kita lakukan. Kembali menghafal Qur’an saat sekolah di SMA Negri 4 Bandung. tinggal semacam di Rumah Tahfiz yang dibiayai oleh Yayasan Sosial. Saat itu Rumah Tahfiz belum semarak dan menyebar seperti sekarang. Dari SMA selesai menghafal 10 juz, Tentu saja mengahafal Qur’an dengan status sebagai pelajar butuh metode dan proses untuk menjalaninya. Saya kutip dari buku ‘Menghafal Qur’an dengan otak kanan” Lima prinsip yang harus kuat selama perjalanannya; keikhlasan dengan niat tulus meraih Ridho Allah, Doa dan Ibadah yang selalu istiqomah, menjauh dari pengaruh-pengaruh kemaksiatan dan dosa, Menjadikan Qur’an sebagai jalan Ilmu, dan terakhir sifat sabar yang kuat dengan tidak pernah putus asa selama proses menghafal Qur’an.

Menghafal Qur’an di sekolah Negri dengan pergaulan dan pengaruh negatif tentu sangat mengganggu untuk istiqomah menghafal, namun ada hal-hal menarik ketika tidak ada guru saya membaca Qur’an di kelas sendiri, saat istirahat menyempatkan menghafal Qur’an sehingga teman-teman ada yang mengikutinya, bahkan ada kebanggaan ketika Guru-Guru pun ikut menghafal dan mencoba mengecek hafalan Qur’annya kepada saya. Pelajaran dari kisah tersebut, Ada tiga faktor yang bisa menghambat proses menghafal saat sudah punya kemauan hafal Qur’an diantaranya; faktor mental kejiwaan sehingga tidak percaya diri untuk menghafal Qur’an, Faktor akhlak pergaulan yang tidak mengenal batas sehingga ikut terpengaruhi, faktor manajemen waktu atau konsentrasi karena menghafal Qur’an menjadi program pribadi bukan program dari sekolah. faktor penghambat tersebut bisa diatasi apabila kita tahu solusinya dengan memegang teguh lima prinsip yang harus dimiliki seorang penghafal Qur’an.

Memoar pribadi ini karena merindukan lahirnya generasi penghafal Qur’an yang sholih, kuat, terbina, berwawasan luas dan mampu menjadi pemimpin. Memoar ini juga karena pengalaman sebuah metode tahfiz di sekolah,kampus,perkantoran yang sesuai dengan konteks zaman sekarang. menghafal Qur’an yang mampu memprogram kehidupan, mendukung kesuksesan hidup, menghindari pengaruh negatif zaman teknologi, meraih keberkahan di seluruh aspek pekerjaan.

Menghafal Qur’an bukan hanya skill yang diperlombakan dalam acara Musabaqoh, tidak sebatas menguji memory fikiran, otak kiri, tahfiz harus masuk ke fikiran bawah sadar, maknanya masuk ke dalam relung hati. Al Qur’an yang mampu mensugesti pribadi menjadi Islami, Keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi sejahtera, Negara menjadi baldatun thayyibun warabbun ghaffur.amin

Kota Jakarta, Cipayung Bambu Apus Tahun 2005 di Mah’had tahfiz Ustman Bin Affan. Itulah tempat saya selesai hafal 30 juz, terkesan Ustaz yang tawadhu, ikhlas, sangat perhatian dengan dakwah syiar Al Qur’an, Ustad Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc Al Hafiz. Setiap hari menghafal 1 halaman sehingga cukup 2 tahun untuk selesai, proses menjaganya itulah waktu yang lama, terus membaca mengulang hafalan ‘murajaah’ sampai akhir hayat.

‘Pelatihan menghafal cepat’, ‘Training Memory’ sampai Hipnosis dan NLP. Tema tersebut sedang ngetrend, banyak diadakan di berbagai kampus, perusahaan. Diburu semua untuk kesuksesan, perbaikan hidup, therapy. Tahun 2013 ini, Saya mempelajari, baru memahami dan mengkaitkannya untuk proses menghafal al Qur’an. Prinsipnya keutamaan al Qur’an sangat luar biasa, fadhilahnya untuk kehidupan dunia, syafaat pertolongannya untuk akhirat. Menghafal Qur’an dan faham isinya akan merasakan kemukjizatannya. Metodenya dengan pendekatan ilmu tersebut.  Menghafal Qur’an dengan otak kanan, Ilmu tentang fikiran bawah sadar, pendekatan Neuro Linguistic Programming ‘NLP’. sepertinya berat, namun hanya alat untuk mempermudah proses hafal al Qur’an, membantu daya ingat hafalan al Qur’an, membuat aktivitas tahfiz al Qur’an menjadi lebih menyenangkan dan berkesan.

Contoh hubungan bagaimana mengkaitkan ilmu tersebut dengan Tahfiz Qur’an, Ada teori dari Charles tebbet terkait fikiran bawah sadar, bahasa Qur’annya Shudur, bagaimana kita bisa memprogram fikiran bawah sadar, menginstaal relung hati. kaitannya dengan metode menghafal Qur’an sampai masuk ke fikiran bawah sadar atau internalisasi.

1.  Repetition / Pengulangan; menghafal Qur’an intinya banyak pengulanagan, semakin banyak membaca, mendengar, memperhatikan Qur’an maka menghafal Qur’an jadi lebih mudah dan berkesan. Metode Repetition ini langkah dasar, awal masuk ke fikiran bawah sadar.

2. Figure otoritas / teladan yang baik, dalam metode menghafal Qur’an hal ini terkait dengan almarhum ayah, kata-katanya mampu masuk bertahan lama karena pengaruh figur, saat menghafal qur’an menjadi penguat dan motivasi untuk selalu semangat. Program Menghafal Qur’an harus dari yang punya otoritas,figur teladan dari orang tua, guru, tokoh bangsa, sampai presiden.

3. Identitas kelompok / Lingkungan yang baik, menghafal Qur’an butuh suasana yang baik, tenang, jauh dari hura-hura, mencari teman dengan identitas yang sama menjadi penting. setiap orang selalu mencari temannya yang sama kelompok aktivitasya.

4. Emosi yang intens / hafalan masuk ke Shudur, perasaan senang, menghafal Qur’an diiringi pemahaman, hati yang terbuka, emosi yang terlibat dan meluap-luap, Tahfiz akan menjadi mudah, berkesan dan tidak mudah lupa.

5. Induksi Hypnosis / Program tahfiz yang mengikat, sistem yang disengaja, memaksa diri untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, metode Therapi yang harus ada kesadaran dari semua muslim untuk ‘berelaksasi’ dengan Ayat-ayat Qur’an, menerima, patuh dan mencintai al Qur’an sepenuhnya, sehingga tersugesti dengan program Tahfiz Qur’an, menjadi kebiasaan sehari-hari, menjadi keyakinan,  dan al Qur’an menjadi nilai yang sangat berharga di dalam diri setiap muslim.

Di akhir memoar tentang Kisah menghafal Al-Quran ini, saya cukup menyimpulkan dari sebuah ayat al Qur’an yang bermakna as Shudur atau fikiran bawah sadar. Membuktikan al Qur’an dihafal dengan metode, dengan ilmu, memberikan penjelasan kepada kalian semua bahwa penghafal al Qur’an itu pilihan Allah, dan kita punya haq untuk dipilih apapun profesinya, menghafal Qur’an itu mudah, sangat berkesan memberikan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Amin.

 

Kisah menghafal Al-Quran ini Di Tulis Oleh : Ust.Heri Mahbub Al-Hafidz. untuk qurancordoba.com

 

10 Cara Untuk Memuliakan Ibu

10 Cara Untuk Memuliakan Ibu

Jaman sudah semakin tidak karuan, kultur ketimuran semakin terkikis dan pendidikan agama sudah banyak dikesampingkan. Sekarang banyak ditemui anak yang hilang sopan terhadap orang tuanya, tidak mempunyai sikap berbakti bahkan menelantarkan orang tua yang sudah lanjut usia.

Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya.

Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan berbagai pengorbanan. Pengorbanan itu tak hanya dalam hal tenaga, waktu dan materi, bahkan demi anak nyawa pun rela dikorbankan.

Berikut ini setidaknya ada 10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang cukup sederhana yang dapat kita lakukan untuk berbakti atau memuliakan orang tua, termasuk kepada orang tua yang telah tiada.

1.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang pertama adalah Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orang Tua

Jagalah setiap tutur kata kita sebagai anak agar senantiasa lemah lembut tatkala berbicara kepada orang tua. Jauhi ucapan-ucapan bernada tinggi, apalagi kata-kata kasar. Kepada pimpinan atau bos kita saja kita bisa berusaha santun (meskipun terkadang hanya basa-basi), seharusnya kita pun bisa bertutur lemah lembut kepada orang tua. Kadang kita temui anak yang berkata kepada orang tuanya dengan cara berteriak-teriak.

2.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang kedua adalah Membantu Berbagai Pekerjaan Rumah

Banyak dari kita yang tidak menyadari sebenarnya ada berbagai rutinitas orang tua, terutamanya Ibu yang sebenarnya cukup melelahkan, namun atas dasar tanggung jawab sebagai orang tua, perkara-perkara rutinitas dalam keseharian itu tidak menjadikan mereka berkeluh kesah. Maka tidak ada salahnya bagi kita untuk membantu meringankan beban orang tua tersebut, seperti halnya membantu mencuci piring, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan rumah dan semisalnya. Meskipun mungkin kita tidak setiap hari membantu dalam meringankan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi niscaya itu akan membuat orang tua merasa bahagia.

3.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang ketiga adalah Ringan Tangan Menjalankan Perintah Orang Tua

Jika orang tua memerintahkan suatu hal kepada kita, yang mana hal tersebut dapat kita jalankan, maka janganlah menolak atau menunda-nunda jika memang kita tidak memiliki udzur dalam perkara tersebut. Orang tua ‘melayani’ kita sejak kita lahir, sejak masih bayi hingga dewasa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Sungguh tidak pantas ketika tiba saatnya orang tua kita memerintahkan kita untuk melakukan suatu perkara yang sanggup kita kerjakan, namun kita mencari-cari alasan untuk mengelak dari perintah tersebut.

4.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang keempat adalah Senantiasa Bersikap Sopan dan Santun

Tidak sekedar ucapan yang lemah lembut saja yang harus kita jaga, namun juga disertai dengan sikap sopan dan santun terhadap orang tua. Semisal kita mengucapkan salam ketika pulang, tidak sekedar seperti orang masuk pasar. Terlebih lagi kita harus menjauhi sikap kurang ajar kepada orang tua.

5.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang kelima Bersikap Sabar dan Menahan Marah

Sering kali kita mendengar ucapan dari sekian banyak orang terkait orang tua yang semakin bertambah usia mereka, maka akan semakin ‘rewel’ sikap mereka, seperti anak kecil lagi. Terkadang dipicu oleh kondisi kesehatan yang sudah tidak prima lagi, terkadang orang tua semakin usianya renta mereka jadi lebih sensitif dan mudah marah. Dalam keadaan seperti ini kita harus berusaha untuk menahan diri dengan bersabar. Bahwasanya surga itu adalah tempat yang salah satu ciri-ciri penghuninya adalah mereka yang dapat menahan marah.Bayangkan bagaimana kesabaran orang tua mengasuh kita sejak kecil hingga dewasa, sabar menghadapi kebandelan kita, sabar menasehati kita, dll.

6.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang keenam adalah Memberi Hadiah Kepada Orang Tua

Memberi hadiah tidak hanya khusus dituntunkan kepada pasangan suami-istri ataupun dari orang tua kepada anak. Namun anak pun dapat memberikan suatu hadiah kepada orang tuanya. Hadiah tidak haruslah yang mahal, namun yang penting dapat menyenangkan orang tua kita. Semisal untuk Ibu kita beri hadiah berupa jilbab yg syar’i, atau kepada bapak kita hadiahkan sebuah sarung yang bagus, semisal tatkala Alloh ‘Azza wa Jalla memberi kita kemudahan dalam hal rezeki yang berlebih. Betapa orang tua akan merasa dimuliakan anak.

7.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang ketujuh adalah Tidak Menyia-nyiakan Kerja Keras Orang Tua

Di jaman sekarang ini, banyak kita temui anak yang tidak bisa menghargai perjuangan dan kerja keras orang tuanya dalam menafkahi mereka, menyekolahkan mereka, dan hal yang semisalnya yang notabene perjuangan tersebut adalah untuk membuat kita menjadi lebih baik. Semisal bentuk tidak menghargai perjuangan dan kerja keras orang tua adalah: bolos sekolah, menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua, malas belajar, dan sikap negatif lainnya yang dilakukan seorang anak.

8.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang kedelapan adalah Merawat Mereka Saat Usia Semakin Renta

Saat kita masih kecil hingga kita dewasa orang tua merawat kita dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Saat kita sakit sejak kita bayi hingga dewasa, orang tua menjaga kita siang dan malam. Ingatlah bagaimana Ibu kita memandikan kita, menyuapi kita dengan telaten, memakaikan baju setiap hari, mengajari kita hal-hal yang baik, mengganti popok kita, dll. Sekarang banyak kita temui, anak-anak yang menaruh orang tuanya di panti jompo dikarenakan mereka lebih memilih menghabiskan semua waktu untuk mengejar nafsu duniawi. Sungguh kebanyakan orang tua akan nelangsa dengan perlakuan seperti ini.

9.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang kesembilan adalah Doa Anak Yang Shalih Untuk Orang Tua Yang Telah Meninggal

Bagi Kaum Muslimin yang mana kedua orang tua atau salah satunya telah tiada, bahwasanya doa dari anak yang sholeh begitu luar biasa memberi manfaat bagi orang tua yang telah meninggal. Telah banyak hadits yang menerangkan tentang bagaimana kebaikan yang akan didapatkan orang tua di kehidupan setelah mati tatkala memiliki anak-anak yang sholeh yang mau mendoakan mereka. Dan shaleh ataupun shalehah itu harus diperjuangkan dengan cara taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya anak-anak yang tidak mau taat kepada perintah Alloh dan sebaliknya gemar berbuat dosa akibat meninggalkan shalat, berbuat maksiat, tidak mau belajar ilmu agama dan hal-hal yg dibenci Alloh serta RasulNya.. maka sang anak hanya akan memberikan beban berat yang harus dipertanggung jawabkan orang tuanya di yaumul akhirat.

10.10 Cara Untuk Memuliakan Ibu yang kesepuluh adalah Menjaga Silahturahmi Dengan Kerabat ataupun Teman Orang Tua

Termasuk juga dalam ini adalah menyambung hubungan dengan teman atau sahabat dari orang tua kita yang telah tiada. Dalam syariat Islam bahwasanya dituntunkan untuk kita senantiasa menyambung tali silahturahmi dengan keluarga-keluarga dari orang tua kita yang telah tiada sebagai bentuk bakti kita kepada orang tua. Kita usahakan meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah paman, tante dan semisalnya.

Hadits Shahih :

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.

[Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Penjelasan ringkas dari hadits di atas: Bahwasanya kedua orang tua itu adalah ‘ladang pahala’ untuk kita menggapai surga Alloh ‘Azza wa Jalla. Terdapat kemuliaan tatkala seorang anak ikhlas dan sadar dalam memuliakan serta berbakti kepada kedua orang tuanya dalam perkara-perkara yang ma’ruf (perkara yang baik dan tidak melanggar syariat).

Dan sungguh celaka dan merugi bagi seorang anak yang tatkala kedua orang tua atau salah satunya masih hidup lantas ia enggan merawatnya, enggan berbakti kepada mereka terlebih tatkala orang tua sudah renta, bahkan sampai membiarkan orang tua terlantar tanpa perhatian dan kasih sayang dari anak-anaknya. Demi mengejar karir, demi membahagiakan istri atau suami, sering kali akhirnya orang tua dilupakan dan dikesampingkan. Tanpa disadari mereka mendekatkan diri dengan api neraka dan azab-Nya.

 

Sumber

Figur Ibu Muslimah Yang Didambakan

Figur Ibu Muslimah Yang Didambakan

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahrim : 6).

Adalah sangat disayangkan, betapa ibu muslimah, terutama mereka yang menetap di selain negara-negara Arab, sangat lemah dalam memahami isi dan esensi Al-Qur’an. Padahal sepatutnya dengan “pedoman hidup” itu seorang ibu dapat menuntun dirinya, keluarga serta anak-anak menaati ajaran-ajaran Islam, dan perintah Allah SWT.

Ada pula problem keluarga lain yang berkaitan dengan Kompas kehidupan manusia ini. Yaitu bahwa ibu muslimah tidak memulai dengan dirinya dalam membenahi tatanan rumah tangga. Malah ia hanya menyuruh anak-anaknya saja yang mengikuti aktifitas keagamaan. Baik dengan membiayainya mengikuti kursus-kursus pengajian atau menyelenggarakan sendiri privat pengajian keluarga di rumah.

 

Figur Ibu Muslimah Yang Didambakan

Namun sayang seribu kali sayang, sang ibu tidak ikut serta didalamnya dan sekaligus mengawasi, bahkan menyibukkan diri sendiri dengan berbagai kegiatan sepele. Tidak secuilpun memberikan dorongan bagi diri pribadi dengan santapan-santapan rohani yang dapat diteladani, terutama bagi anak-anak wanitanya. Malah ia bersibuk ria dengan obrolan ngalor-ngulon dengan konco-konco arisannya, dan memadati diri dengan kesibukan karir. Bahkan sering merasa perlu dengan mengambil tugas kantornya untuk dibawa menjadi seperti sama dengan urusan rumah.

Perhatiannya dipecah berkeping-keping menjadi seribu satu keping. Hingga pada akhirnya, membagi kasih sayang kepada keluarga dengan kepingan terakhir, ketika badan telah letih dan ketika senyum tiada lagi bercahaya.

Dampak negatif yang paling sering timbul dari keadaan ini ialah renggangnya hubungan komunikasi antara ibu dan anak, terutama dalam masa kanak-kanak dan remaja, suatu masa yang sangat rawan dan menentukan perkembangan pembentukan kejiwaan sang anak pada masa dewasanya nanti. Dimana pada akhirnya sang anak memperkaya kaidah/norma baik-buruk didalam jiwanya sesuai dengan apa yang dia ketahui dari masyarakat sekitarnya! Bila keadaan lingkungan masyarakatnya bobrok, maka nilai-nilai kebobrokanlah yang nantinya dijadikan parameter kebajikan.

Disamping itu, ibu-ibu muslimah banyak juga yang sudah terbiasa dan berlangganan untuk membeli majalah-majalah wanita. Padahal isinya lebih banyak berbau racun daripada madunya. Gambarnya dipenuhi dengan corang menjijikkan seronok dan kotor. Dan ketika mereka pulang kantor, melepas lelah dengan bermacam kumpulan fiktif dan khayaliyah. Sepi dari sugesti Islamiyah.

Diantara ibu-ibu muslimah, juga masih ada yang membiarkan anak putrinya keluyuran bebas. Masih mungkinkah mereka disebut muslimah?

Cermin kesibukan Ummahatul Mukminah dimasa lalu, adalah mereka sangat ketat dan membagi perhatiannya secara utuh dalam bidang pendidikan anak. Terlebih Ummahatul Mukminah harus dapat memberikan contoh kepada generasi mukminin pada saat itu, perhatikan firman Allah : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.(QS. Al-Ahzaab : 6).

Bagi anak putri, dianjurkan untuk menggunakan sebagian besar waktunya di rumah ibu atau anak wanitanya keluar jika kondisi memang memerlukan, atau adanya kebutuhan bersilaturahmi dengan keluarganya atau sahabat handai wanitanya. Hingga ia dapat leluasa menanamkan pengaruhnya pada keuarga dengan corak keislaman dan mengantarkan anak-anaknya ke jenjang kedewasaan yang Islami yang berdasarkan nilai-nilai syari’at Allah SWT.

Lebih jauh lagi ia dapat mendisiplinkan anak dengan aturan Islam secara ketat, dengan menciptakan suasana dan atribut keislaman di rumah. Bila hal ini berlangsung tetap dan teguh, dengan sendirinya pengaruh-pengaruh jahat jahiliyah terkikis habis.

Figur ibu muslimah yang didambakan dulu, di zaman Rasulullah mewujudkan suasana dan cuaca Islamiyah di tengah-tengah keluarga. Anak-anak para sahabat nabi SAW menerima pengajaran dan pendidikan Islam sejak mereka dalam buaian. Dan ibu mereka membacakan alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an semenjak mereka masih menyusui. Bila sudah pandai sedikit bercakap, menuntunnya kalimat-kalimat dan doa-doa. Seperti kalimat tahlil, tahmid, takbir dan taqdis. Jika melakukan suatu pekerjaan seperti makan, minum atau tidur menyertainya dengan doa seusai dengan perintah Rasulullah. Dengan begitu anak akan terbiasa dengan kesibukan Islami.

Mereka para orang tua dari sahabat Rosul, selalu menjaga umur anaknya, dan tidak melewatkan begitu saja secara sia-sia. Hingga mereka megisinya dengan berbagai masukan pendidikan, yang materinya disesuaikan dengan tingkat usia mereka, misalnya, pada usia 6 tahun, anak diperintahkan menegakkan sholat, dan jika 10 tahun meninggalkan pekejaan itu, anak dipukulnya.

Hiburan anak

Figur ibu muslimah yang didambakan, jelas mampu menghibur putra-putrinya dengan berbagai kisah-kisah menarik dan bernafaskan Islam. Sehingga ibu muslimah perlu menguasai banyak kisah-kisah dan sejarah Islam, kejayaan dimasa lalu dan kegigihan para pejuang-pejuangnya. Sangat perlu bagi ibu muslimah mengenal tiap nama-nama para sahabat dan kiprah mereka dalam menyebarkan da’wah Islam. Dan dalam menyampaikan kisah tersebut perlu disertakan harapan kepada Allah, agar kelak anak-anaknya dapat mencontoh sikap, sifat dan kiprah yang baik dari mereka.

Figur ibu muslimah yang didambakan didalam kalam dan katanya, perlu membatasi pada hal-hal yang baik semata supaya anak pun meniru pada segi baiknya saja. Tiada yang patut ditolerir, jika anak kandung mengucapkan lisan keji, ibu muslimah sedikitpun tidak membiarkan anak-anaknya mendengarkan senandung lagu-lagu atau syair picisan yang bakal merubah tingkah polahnya dan menggeser akhlaqnya dari fitrahnya. Juga ia tak rela membebaskan anak-ananya menyaksikan film-film dan siaran urakan. Tapi bukan hanya melarang dengan hanya mampu mengatakan : jangan! atau tidak! Pada usia tertentu anak perlu mendapat alasan-alasan syar’i berdasarkan petunjuk dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Bacaan

Bila anak sudah mampu membaca, sepatutnya Figur ibu muslimah yang didambakan menyediakan buku-buku berisi bacaan sehat. Dan anak perlu diperkenalkan dengan perpustakaan kecil dan menempatkan padanya buku-buku bermutu semata. Dan ibu, seharusnya senantiasa mengajak putra-putrinya berdialog. Agar dapat terdeteksi sejumlah masukan-masukan pemikiran pada anaknya, dan meninjau sejauh mana nilai-nilai Islam telah diketahui dan diterapkan baik selama dan atau diluar kontrol perhatian orang tua.

Hingga bila diketahui terdapat racun di dalam pemikiran anaknya sebagai hasil pergaulan diluar rumah dengan kawan-kawan atau buku-buku temannya, Figur ibu muslimah yang didambakan dapat segera meng-counter-nya, dan memperbaiki atau meluruskan (jika terdapat Penyimpangan).

Sumber

Al-Quran Jalan Hidupku

Al-Quran Jalan Hidupku

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ َنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا فمَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk (hidayah). Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk di sembah, kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du.

Dalam judul Al-Quran Jalan Hidupku akan saya bahas tentang:
I.   Keistimewaan Al-Qur’an.
II.  Orang-orang yang akan mendapat rahmat.
III. Koreksian Al-Qur’an Digital.
I.   Keistimewaan Al-Qur’an.
Karena Allah berfirman dalam QS Al-Jatsiyah 20:
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ ﴿٢٠﴾
020. Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
Juga sebagai obat dan rahmat, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Isra’ 82.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾
082. Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Komentar Faizah: Al Quran bisa dibuat obat, meskipun cuma mendengarkan,  atau dibaca sendiri, terkadang Qulhu 3kali, falaq 3kali, annas 3kali. Bekam atau habbatussauda’ dan madu, sudah cukup. Adapun bekam kering untuk mengeluarkan anginnya saja, kecuali  penderita darah tinggi dll. Untuk sakit yang tidak wajar atau parah, saya bacakan Al Quran selama 40hari, pagi sore. Terkadang cuma sehari. Alhamdulillah dengan izin Allah penyakit itu hilang, kalau ajalnya habis, maka kematian tidak bisa ditunda tapi segera mendapat kemudahan. Benarlah doa ibunya Maryam (Uiidzuhaabika wadzurriyyatahaa minasysyaithanirrajiim) yang artinya” Aku mohon perlindunganMu untuknya, dan anak cucunya dari(gangguan) setan yang terkutuk.” QS Ali Imran 36.

Keterangan: Apabila yang sakit laki-laki, maka tinggal merubah dlammir haa diganti dengan huu.

Boleh dilihat dalam blog  yang berjudul “Al-Quran jalan hidupku“. Tahun/ bulan: 2012/07, karena berkaitan dengan judul ini. Tercantum hadisnya perobatan dengan membaca fatihah dan  sahabat yang sabar ketika sakit,  dibalas surga. Nabi Ibrahim diangkat derajatnya sebab taat. Adapun macam -macam perobatan dan dalilnya sudah tercantum dalam blog yang berjudul ” Kiat menyembuhkan penyakit ” Bulan dan tahunnya 2013 / 05.

Rasulullah saw juga pernah  bersabda:

 عنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
Abu Umamah Al Bahili  berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Qur`an”, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barakah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-ukang sihir.” HR Muslim 1337
Ayat-ayat AlQur an itu, apabila dibaca ketika shalat, maka lebih utama, oleh sebab itu Rasulullah pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ فَاسْتَقْرَأَهُمْ فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنْ الْقُرْآنِ فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا فَقَالَ مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ قَالَ مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ قَالَ أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مَنَعَنِي أَنْ أَتَعَلَّمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَشْيَةَ أَلَّا أَقُومَ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَءُوهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah pernah mengutus rombongan para sahabat dalam jumlah banyak, beliau meminta kepada mereka untuk membaca, beliau meminta setiap orang dari mereka untuk membacakan apa yang dia hafal dari Al Qur`an, beliau datang kepada seseorang yang paling muda umurnya di antara mereka dan bertanya: “Apa yang kamu hafal dari Al Qur`an wahai Fulan?” dia menjawab; “Saya hafal ini dan ini dan surat Al Baqarah, ” beliau bertanya: “Apakah kamu hafal surat Al Baqarah?” dia menjawab; “Ya, ” Beliau bersabda kepadanya: “Pergilah dan kamu yang jadi imam bagi mereka, ” Seseorang yang paling terkemuka di antara mereka berkata; “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surat Al Baqarah selain karena aku takut tidak dapat mengamalkannya, ” Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Qur`an” dan bacalah, karena perumpamaan Al Qur`an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal AlQur`an ada dihatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan, HR Tirmidzi 2801.
Adapun orang yang ahli salat, akan memasuki surga lewat babus shalah. Tidak ada bacaan yang lebih baik dari pada bacaan Al-Qur’an. Sebagaimana hadits:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا جَاءَهُ فَقَالَ أَوْصِنِي فَقَالَ سَأَلْتَ عَمَّا سَأَلْتُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَبْلِكَ أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ رَأْسُ كُلِّ شَيْءٍ وَعَلَيْكَ بِالْجِهَادِ فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ الْإِسْلَامِ وَعَلَيْكَ بِذِكْرِ اللَّهِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ رَوْحُكَ فِي السَّمَاءِ وَذِكْرُكَ فِي الْأَرْضِ.
Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepadanya seraya berkata; “Beri aku nasihat!” Abu Sa’id berkata; “Engkau meminta apa yang aku pernah memintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelummu! Aku nasihatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah ujung pangkal segala urusan, hendaklah engkau berjihad karena itu adalah rahbaniyyah (kependetaan) dalam Islam. Hendaklah engkau selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur`an, karena itu adalah rokhmu ke langit dan dzikirmu di bumi.” HR Ahmad 11349. Lemah.

Meskipun hadis diatas lemah, namun tidak bertentangan dengan dalil, cuma sebagai pendukung. Bagi yang membacanya dengan lancar, didampingi oleh malaikat yang mulia, adapun yang membacanya dengan terbata-bata mendapat 2pahala. Benarlah hadits-hadits pembaca Al-Qur’an ketika salat, punya keistimewaan tersendiri.

Adapun orang yang tidak memiliki hafalan dari Al-Qur’an ibarat rumah yang sudah tua / rapuh sebagaimana hadits:
سنن الترمذي ٢٨٣٧: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ.
قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Sunan Tirmidzi 2837: Dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang didalam dirinya tidak ada sedikitpun al-Qur’an ibarat rumah yang runtuh.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.
Di samping hafal AlQuran, maka kita di perintah untuk mengamalkan, agar tidak bertentangan dengan isinya. Karena banyak orang yang membaca Al Quran tapi Al Quran mela’natnya. Amatlah buruk baginya. Sebagaimana Allah mengumpamakan mereka bagaikan keledai yang memikul kitab. Oleh sebab itu Ingatlah firman Allah dalam QS Al Jum’at 5:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿
٥
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. QS AlJum’at 5.
Karena mereka bertentangan dengan isi Al-Qur’an. Semoga kita tidak termasuk mereka. Amin. Ayat tersebut mirip dengan (QS. Ash-Shaf3).
كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾
003. Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
II.    Orang-orang Yang Akan Mendapat Rahmat.
1.    Seorang suami/istri yang membangunkan (diperciki air) untuk diajak salat malam, sebagaimana hadit:
سنن النسائي ١٥٩٢ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ ثُمَّ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ.
Sunan Nasa’i 1592:Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Allah merahmati seorang pemuda yang bangun untuk shalat dimalam hari, lalu ia membangunkan istrinya untuk shalat, jika ia enggan maka ia memercikkan air diwajahnya, dan Allah merahmati seorang istri yang bangun untuk shalat dimalam hari lalu ia membangunkan suaminya untuk shalat, jika ia enggan maka ia memercikkan air kewajahnya.”
2.    Orang yang menjual / membeli / menerima pelunasan hutang dengan mudah, sebagaimana hadis:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى.
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami Dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah merahmati kepada  orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli dan juga orang yang meminta haknya .Shahih Bukhari 1934:
.    3-Orang  yang mencukur rambut kepala ketika selesai umrah / hajji, sebagaimana hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَالْمُقَصِّرِينَ.
وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي نَافِعٌ رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ قَالَ وَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ وَقَالَ فِي الرَّابِعَةِ وَالْمُقَصِّرِينَ.
1612:Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?”. Beliau tetap berkata: “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata lagi: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?”. Beliau baru bersabda: “Ya, juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya”. Dan AlLaits berkata, telah menceritakan kepada saya (Nafi’), katanya; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya”, sekali atau dua kali. Dia berkata, dan berkata, Ubaidullah telah menceritakan kepada saya Nafi’; dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, pada ucapan yang keempat: “Dan bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya”. Shahih Bukhari
4.    Orang yang di sakiti orang lain karena da’wah sebagaimana hadis;
صحيح البخاري ٥٥٩٩: عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِسْمَةً فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ وَاللَّهِ مَا أَرَادَ مُحَمَّدٌ بِهَذَا وَجْهَ اللَّهِ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَتَمَعَّرَ وَجْهُهُ وَقَالَ رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ.
Dari Abu Wa`il dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagikan suatu bagian, lantas seorang laki-laki dari Anshar berkata; “Demi Allah, dalam hal ini Muhammad tidak mengharapkan wajah Allah.” Lalu saya langsung mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kepada beliau, tiba-tiba wajah beliau berubah menjadi merah dan bersabda: “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh dia lebih banyak disakiti daripada ini lalu dia bersabar.” Shahih Bukhari 5599.
5-Orang yang mendengarkan (ketika Al-Qur’an dibaca), maka dari itu
Allah berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
             Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang {diamlah}agar kamu mendapat rahmat. ( Al A`raf 204 ).
Setelah saya pahami perintah tersebut, saya  berhenti dari mengadakan semaan-Al-Qur’an 30 juz sehari karena tiada tuntunannya. Apalagi Rasulullah SAW pernah bersabda “Hkatamkan Al Quran dalam 1minggu, dan jangan lebih dari itu. Lantas aku memilih yang jelas ada perintahnya, dan membacanya dirumah, baik untuk mengajar, atau saya baca ketika salat, (wajib, sunnah), yang penting benar-benar ikhlas, suara sedang agar tidak mengganggu orang yang disekitarnya. Karena ada perintah, ketika Al Quran dibaca supaya didengarkan agar mendapat rahmat.  Begitu juga orang tua yang menyayangi anaknya, karena barang siapa yang tidak berbelas kasih (terhadap anak) maka Allah tidak akan berbelas kasih kepadanya.
6.   Sahabat yang wafat ketika mengikuti rasul berhijrah, Sebagaimana ayat
:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ.
Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki.[1]
 Adapun yang perlu kita waspadai, sabda rasul: “Celakalah orang-orang yang berlebihan.” Apabila ingin memuji seseorang katakanlah! menurutku dia baik dan hanya Allah yang mengetahuinya. Inilah pesan rasul.
Di hari kiamat, Allah akan bertanya kepada 3orang, yaitu (1) orang yang gugur dijalan Allah / mati syahid, (2) orang yang kaya raya, banyak infak, (3) pelajar / pengajar Al-Qur’an / pembaca Al-Qur’an. Kemudian ni’mat-ni’mat  itu didatangkan dan dia mengakuinya, lantas Allah bertanya: “Untuk apakah ni’mat itu kau gunakan? Dia ( pembaca Al Quran) menjawab: Aku belajar/aku mengajar dan membaca Al-Qur’an pun untuk keridhaan-Mu.  Allah berfirman: “Bohong kamu”, tapi kamu belajar agar disebut alim dan qori’ terbaik. Sungguh telah disebut demikian untukmu. Allah memerintah kepada malaikat, lalu diseret dan dilemparkan ke neraka.
(Ya Allah selamatkanlah kami dari siksaan api neraka) Hadisnya sudah tercantum dalam judul ” PENTINGNYA IKHLASH” Tahun dan bulannya 2013/04.
Rahasia dari hadis ini, agar manusia mengerjakan perintah Allah dengan ikhlash. tidak karena manusia, sehingga amalnya tidak sia-sia.
 Perintah Allah tentang membaca Taawwudz (Audzu billahi minasy syaithaanirrajiim) sebelum membaca Al-Qur’an, dan hanya itu saja  yang diperintahkannya kepada kita. Boleh dilihat dalam QS Annahel 98.
III. Koreksi Al-Qur’an Digital.
Riwayat Hafsh dari Ashim dengan Rasm Usmani.
Atas permintaan CV. Surya Sukses Sejahtera, Alhamdulillah, saya bersyukur atas rahmat dan pertolongan-Nya kepadaku, sehingga bisa menyelesaikan koreksian Al quran ini. Semoga ada manfaatnya. Amin.
Memang ada  perbedaan, baik dalam tulisan huruf/harakat namun tidak merobah arti, hanya saja ketika saya mendengarkan bacaan Imam Masjidil Haram (Al-hafidz Syeikh Abdul Rahman Assudaisi) melalui Al-Qur’an Digital, lantas diganti oleh Imam yang tidak disebut namanya. Beliau membaca surat al-Furqan 34 ada lafadz sebagai berikut:
الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ أُوْلَئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ سَبِيلاً ﴿٣٤﴾.
034. Orang-orang yang digiring ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. QS AlFurqan 34.
I.       Yukhsyaruuna, ( mereka digiring) tapi terbaca yakhsyaruuna, ( mereka menggiring ) berhubung bacaan ini merubah arti, maka saya jelaskan yang sebenar nya.
Dari ayat tersebut diatas, sudah jelas bahwa balasan orang-orang kafir sangat sengsara, Adapun orang-orang mu’min akan mendapatkan balasan yang luar biasa yang disebut surga Aden. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-bayyinah 7-8.
II.    Dalam Al Qur’an surat Muhammad / 15 ada lafadz (am-‘aa ahum) terbaca am’aa akum, yang saya dengarkan saat itu”Al Hafiz Syekh Abdurrahman Assudaisi” Karena yang sering saya dengarkan ketika saya di Masjidil Haram.
Ketepatan ayat tersebut menjelaskan tentang keni’matan yang dirasakan oleh penduduk surga  dan pedihnya siksaan penduduk neraka, ayatnya sebagai berikut:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاء حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءهُمْ ﴿١٥﴾.
015. (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh didalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya? Muhammad 15.Mudah-mudahan dari cerita ini, kita bisa memilih balasan yang berupa ni’mat, serta berlindung dari sengsaranya azab neraka.

Wassalam.
Apabila terdapat hilaf mohon diberi tahu.

Bagi yang baru mengenal Al-Qur’an ini sebagian saran :
1.    Surat al-An’am / 116. Apabila (Penunjuk) diarahkan ke permulaan ayat, maka akan kembali lagi ke ayat 115 (jadi, diarahkan di pertengahan ayat / akhir).
2.    Lafadz Allah meskipun di sini tidak ada tanda panjang, namun tetap semua bacaan Allah dibaca panjang. Al-Qur’an ini, meskipun ada yang tak berharakat, mudah difahami (bila sering mendengarkan, faham dengan sendirinya).
3.    Surat Ali Imron /190 (liulil albaab)
4.    Surat al-hasyr / 2 (yaa ulil abshaar) dan yang ada di surat lain (meskipun waw-nya disukun) tetap dibaca pendek.
5.    Surat Al-A’rof / 164
Setelah tanwin bertemu huruf alif atau Al biasanya ada tanda nun kecil. Cantah bacaan: qawmanillaahu, di surat al-Jum’ah / 11 (aw lahwanin fadhdhuu dan yang lainnya (mirip-mirip).
6.    Surat Al-Baqarah / 62. (Bacaan wannashaaraa meskipun di situ tertulis wannashaarayaa (ya sebagai tanda panjang saja), begitu juga di surat Al-Haj / 17.dsb.
7.    Setiap huruf nun yang tidak ada harokatnya, berarti disukun (Al-Baqoroh : yunfiquun) dan bacaan-bacaan yang lain.
Semua bacaan Ulaaika, alifnya dibaca pendek, meskipun ada huruf waw yang disukun. Contoh (surat Al-Baqoroh / 5) begitu juga lainnya.
8.    Surat Luqman ayat 4 (contoh bacaan yang panjangnya menggunakan huruf waw berharokat 2) tetap dibaca sholaata & zakaata meskipun tulisannya sholawaata dan zakawaata.
9.    Setiap bacaan anaa tetap dibaca pendek, meskipun ada huruf mad yang disukun. Cantah : surat al-Kahfi / 34, anaa di baca pendek. dsb.
Di Tulis oleh Faizah mahrus untuk qurancordoba.com

Berkaitan dengan judul “KIAT MENGHAFAL AL QURAN” Tahun/bulan 2013/12.

Semoga bermanfaat,bila terdapat hilaf mohon diberi tahu.Wassalam

Muraqabah Allah (merasa Selalu Diawasi Allah) | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Muraqabah Allah (Merasa Selalu Diawasi Allah) | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

 

Mukaddimah

Kajian kali ini sangat urgen sekali untuk direnungi sekaligus diamalkan, sebab hanya dengan begitu semua amalan kita akan dapat bernilai. Betapa tidak, bukankah ketika melakukan suatu amalan, seorang hamba selalu berharap agar diganjar oleh Allah dan dinilai-Nya ikhlash karena-Nya bila amalan itu baik dan bila amalan itu buruk, pastilah seorang hamba takut ada yang mengetahuinya. Padahal semua itu pastilah diketahui oleh Allah sebab Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Karena itu, sudah sepantasnyalah seorang hamba merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah sehingga semua amalannya terjaga dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ini semua, tentunya berkat penjagaan seorang hamba terhadap Rabbnya di mana buahnya, Rabbnya pun akan selalu menjaganya.

Naskah Hadits

Dari Ibn ‘Abbas RA., dia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW., lalu beliau bersabda, ‘Wahai Ghulam, sesungguhnya ku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat (nasehat-nasehat), ‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at-Turmudzy, dia berkata, ‘Hadits Hasan Shahih’. Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad)

Urgensi Hadits

Al-Hafizh Ibn Rajab RAH., berkata, “Hadits ini mencakup beberapa wasiat agung dan kaidah Kulliyyah (menyeluruh) yang termasuk perkara agama yang paling urgen. Saking urgennya, sebagian ulama pernah berkata, ‘Aku sudah merenungi hadits ini, ternyata ia begitu membuatku tercengang dan hampir saja aku berbuat sia-sia. Sungguh, sangat disayangkan sekali bila buta terhadap hadits ini dan kurang memahami maknanya.” (Lihat, Jaami’ al-‘Uluum, Jld.I, h.483)

Kosa Kata

Makna perkataannya:

Di belakang Nabi : yakni di atas kendaraannya

Wahai Ghulam : yakni bocah yang belum mencapai usia 10 tahun

Jagalah Allah : yakni jagalah aturan-aturan-Nya (Hudud-Nya) dan komitmenlah terhadap segala perintahnya serta jauhilah segala larangannya

Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering : yakni takdir-takdir telah ditetapkan dan telah dicatat di Lauh al-Mahfuuzh

Pesan-Pesan Hadits

1. Hadits di atas menunjukkan perhatian khusus Nabi SAW., terhadap umatnya dan kerja karas beliau di dalam menumbuhkan mereka di atas ‘aqidah yang benar dan akhlaq mulia. Di sini (dalam hadits) beliau mengajarkan si bocah ini –yang tak lain adalah Ibn ‘Abbas- beberapa nasehat dalam untaian yang singkat namun padat makna.

2. Di antara isi wasiat ini adalah agar menjaga Allah Ta’ala, yaitu dengan menjaga Hudud-Nya, hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu dapat direalisasikan dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan tidak melanggar apa yang diperintahkan dan diizinkan-Nya dengan melakukan apa yang dilarang-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Inilah yang dijanjikankepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.s.,Qaaf:32-33)

3. Di antara hal yang terdapat perintah agar menjaganya secara khusus adalah shalat sebagaimana firman-Nya, “Jagalah segala shalat(mu), dan (jagalah) shalat Wustha.” (Q.s.,al-Baqarah:238), dan thaharah (kesucian) sebagaimana bunyi hadits Rasulullah SAW., “Beristiqamahlah (mantaplah) sebab kamu tidak akan mampu menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik pekerjaan kamu adalah shalat sedangkan yang bisa menjaga wudlu itu hanya seorang Mukmin.” (HR.Ibn Majah). Di antaranya juga adalah sumpah sebagaimana firman-Nya, “Dan jagalah sumpahmu.” (Q.s., al-Maa`idah:89)

4. Di antara penjagaan yang diberikan oleh Allah adalah penjagaan-Nya terhadapnya di dalam kehidupan dunia dan akhirat:

a. Allah menjaganya di dunia, yaitu terhadap badannya, anaknya dan keluarganya sebagaimana firman-Nya, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Q.s., ar-Ra’d:11). Ibn ‘Abbas RA., berkata, “Mereka itu adalah para malaikat yang menjaganya atas perintahAllah. Dan bila takdir telah tiba, mereka pun meninggalkannya.” (Dikeluarkan oleh ‘Abduurrazzaq, al-Firyaaby, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Haatim sebagai yang disebutkan di dalam kitab ad-Durr al-Mantsuur, Jld.IV, h.614). Allah juga menjaganya di masa kecil, muda, kuat, lemah, sehat dan sakitnya.

b. Allah juga menjaganya di dalam agama dan keimanannya. Dia menjaganya di dalam kehidupannya dari syubhat-syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan.

c. Allah juga menjaganya di dalam kubur dan setelah alam kubur dari kengerian dan derita-deritanya dengan menaunginya pada hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya

5. Di antara penjagaan Allah lainnya terhadap hamba-Nya adalah menganugerahinya ketenangan dan kemantapan jiwa sehingga dia selalu berada di dalam penyertaan khusus Allah. Mengenai hal ini, Allah berfirman ketika menyinggung tentang Musa dan Harun AS., “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku berserta kamu berdua; Aku mendengar dan melihat.” (Q.s., Thaaha:46) Demikian juga dengan yang terjadi terhadap Nabi dan Abu Bakar ash-Shiddiq saat keduanya berhijrah dan berada di gua, Rasulullah SAW., bersabda, “Apa katamu terhadap dua orang di mana Yang Ketiganya adalah Allah? Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” (HR.Bukhari, Muslim dan at-Turmudzy)

6. Seorang Muslim wajib mengenal Allah Ta’ala, ta’at kepada-Nya dan selalu mengadakan kontak dengan-Nya dalam semua kondisinya sebab orang yang mengenal Allah di dalam kondisi sukanya, maka Allah akan mengenalnya di dalam kondisi sulitnya dan saat dia berhajat kepada-Nya

7. Terkadang ada orang yang tertipu dengan kondisi kuat, fit, muda, sehat dan kayanya namun sesungguhnya nasib orang yang demikian ini hanyalah kerugian, kesia-siaan dan celaka

8. Seorang harus selalu antusias untuk memperbanyak meminta pertolongan kepada Allah dan memohon kepada-Nya dalam semua kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hendaklah dia tidak memohon kepada selain-Nya terhadap hal tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah seperti meminta kepada para wali yang shalih, orang mati dan sebagainya. Allah berfirman, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami meminta tolong.” (Q.s., al-Fatihah:5)

9. Sesungguhny apa-apa yang menimpa seorang hamba di dunia, baik yang mencelakakan dirinya atau yang menguntungkannya; semuanya itu sudah ditakdirkan atasnya. Dan tidaklah menimpa seorang hamba kecuali takdir-takdir yang telah dicatatkan atasnya di dalam kitab catatan amal sekalipun semua makhluk berupaya untuk melakukannya (mencelakan dirinya atau memberikan manfa’at kepadanya). Allah berfirman, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (Q.s.,at-Taubah:51)

10. Bila seorang hamba telah mengetahui bahwa tidak akan ada yang dapat menimpanya baik berupa kebaikan, keburukan, hal yang bermanfa’at atau pun membahayakannya kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh Allah darinya, serta mengetahui bahwa seluruh upaya yang dilakukan semua makhluk karena bertentangan dengan hal yang ditakdirkan tidak akan ada gunanya sama sekali; maka ketika itulah dia akan mengetahui bahwa hanya Allah semata Yang memberi mudlarat, Yang menjadikan sesuatu bermanfa’at, Yang Maha Memberi atau pun Menahannya. Sebagai konsekuensi dari semua itu, seorang hamba mestilah mentauhidkan Rabbnya dan menunggalkan-Nya dalam berbuat keta’atan dan menjaga Hudud-Nya.

11. Seorang Muslim harus menghadapi takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya dengan penuh keridlaan dan kesabaran agar bisa meraih pahala atas hal itu. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diganjari pahala mereka dengan tanpa hisab (perhitungan).” (Q.s., az-Zumar:10). Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW., bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang Mukmin; sesungguhnya semua kondisinya adalah baik, jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur; maka itu adalah baik baginya. Dan bila ia ditimpa hal yang tidak menguntungkannya (kemudlaratan), ia bersabar; maka itu adalah baik (pula) baginya.” (HR.Muslim)

12. Seorang Muslim tidak boleh dihantui keputusasaan dan pupus harapan terhadap rahmat Allah ketika mengalami suatu problem atau musibah. Ia harus bersabar dan mengharap pahala dari Allah atas hal itu serta bercita-cita agar mendapatkan kemudahan (jalan keluar) sebab sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran dan bersama kesulitan itu ada kemudahan .

(SUMBER: Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum asy-Syar’iyyah –al-Hadiits- Fi`ah an-Naasyi`ah, karya Prof.Dr.Faalih bin Muhammad ash-Shaghiir, h.104-109)

pengusahamuslim.com

10 Faedah Berdoa dengan Lemah Lembut | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

10 Faedah Berdoa dengan Lemah Lembut | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

Pelajaran dari Surat Maryam (seri 1): Di antara contoh yang bisa diambil dari Nabi Zakariya, bagaimanakah ketika ia berdoa memohon keturunan pada Allah hingga usia tua. Ia pun meminta doa pada Allah dengan serius, ia berdoa dengan suara lembut atau lirih.

Apa yang dimaksud doa semacam itu? Apa faedah dari doa yang lirih dan lemah lembut?

Perintah Berdoa dengan Lemah Lembut

Allah Ta’ala berfirman,

كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3)

Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 1-3)

Dalam kisah Zakariya terdapat pelajaran yang bisa digali. Di antaranya, salah satu adab doa adalah dengan suara lemah lembut, tidak dengan suara keras.

Kenapa sampai Zakariya memilih berdoa dengan suara lemah lembut, tidak dengan suara keras?

Asy Syaukani memberikan beberapa alasan dari berbagai pendapat ulama:

  • Berdoa dengan suara lirih lebih menjauhkan diri dari riya’, yaitu ingin dipuji dalam beramal.
  • Karena Zakariya meminta memiliki keturunan pada usia yang sudah uzur dan yang diminta pun adalah perihal dunia.
  • Zakariya berdoa seperti itu karena takut dari kaumnya.
  • Usianya yang sudah lemah dan tua renta yang tidak memungkinkan suara keras.

Itulah beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama mengapa sampai Zakariya bisa berdoa dengan suara lemah lembut dan lirih. Lihat Fathul Qodir, 3: 443.

Faedah Berdoa dengan Lemah Lembut

Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai faedah berdoa dengan lemah lembut:

1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih.

2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih).

3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa.

4- Lebih menunjukkan keikhlasan.

5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati.

6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya,

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4: 402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kedekatan di sini yang dimaksud adalah qurb khosh (kedekatan yang khusus), bukan qurb ‘aam (kedekatan yang umum) pada setiap orang. Allah itu dekat pada hamba-Nya yang berdoa, Allah dekat dengan setiap hamba-Nya yang beriman dan Allah itu dekat dengan hamba-Nya ketika sujud.

7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih.

8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang.

9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat.

10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. (Disarikan dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15: 15-20)

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Fathul Qadir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Dar Ibnu Hazm dan Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.

Majmu’atul Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Harroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Dar Ibnu Hazm dan Darul Wafa’, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Selesai disusun di Darush Sholihin, 13: 07 WIB, 25 Safar 1436 H

Rumahsho.com

HIKMAH KEAJAIBAN REJEKI DARI LANGIT DIDALAM AL-QUR'AN | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

HIKMAH KEAJAIBAN REJEKI DARI LANGIT DIDALAM AL-QUR’AN | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

Pertama Nabi Isa Alaihissalam. Dalam menjalankan misi dakwahnya Nabi Isa beserta para pengikutnya banyak menghadapi tantangan dan ancaman dari para pendeta dan kaum bani Israil yang telah menyimpang dari ajaran Taurat. Mereka menjalankan misi dakwanya berpindah pindah karena selalu menghadapi ancaman. Kondisi ini meyebabkan merekia mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan hingga sering menderita kelaparan. Diantara pengikut Isa ada yang berkata:” Ya Isya putra maryam, dapatkan Tuhan menurunkan makanan dari langit untuk kita ? Mendengar tututan itu Isa berkata pada pengikutnya agar jangan banyak menuntut mukjizat dan keajaiaban dari Allah. Mereka menjelaskan bahw mereka bukan tidak percaya pada allah, mereka hanya ingin mendapat kemantapan hati dengan makanan itu.

Setelah mendengar perkataan mereka Isyapun berdoa kepada Allah:” Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.”

Doa dan pengharapan itu dikabukan Allah. Makanan yang lezat cita rasanya turunlah dari langit untuk merteka santap bersama sama diiringi dengan turunya wahyu Allah:” “Sesungguhnya Aku turunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.”

Kisah hidangan dari langit bagi Nabi Isa beserta para pengikutnya itu disebutkan dalam surat Almaidah 112-115

“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?.” Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman.” 113. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.” 114. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.” 115. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.”

( Makanan Siti Maryam )

Nabi Zakariya berusaha mendidik Maryam untuk menjadi wanita solihah dan berbakti hanya pada Allah. Ia ditempatkan di Mihrab tempat biasa Nabi Zakaria beribadah . Ketika Zakariya masuk menemui Maryam di Mihrabnya ia tercengang melihat ada berbagai makanan dan buah buahan yang lezat disekeliling Maryam. Ia bertanya :” Hai Maryam darimana kau dapatkan berbagai makanan yang lezat ini ? “ Maryam menjawab :” Ini datangnya dari sisi Allah”. Demikianlah Allah memelihara Maryam dan memberikannya makanan dan buah buahan yang didatangkan dari syurga. Kisah tentang Maryam yang mendapatkan makanan dari syurga itu disebutkan dalam surat Ali Imran 36-37.

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” 37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

( Makanan dari langit Nabi Musa )

Kisah Makanan dari Langit. Manna dan Salwa kurnia rezeki dari Allah iaitu Rezeki dari Langit untuk Nabi Musa a.s dan pengikutnya. Sedikit makanan yang diturunkan dari langit untuk Nabi Musa a.s dan pengikutnya ketika mereka tersesat di padang pasir Manna. Setelah Nabi Musa a.s berjaya membawa keluar Bani Israil dari Mesir menuju ke Palestin, rombongan ini tersesat di sebuah Padang Pasir At-Tih yang terletak di kawasan semenanjung Sinai. Ada juga pendapat lokasi padang pasir ini terletak di Urdun Jordan. Mereka berada di padang pasir ini selama empat puluh tahun. Dalam tempo itu mereka mengalami pelbagai penderitaan dan kepanasan yang amat sangat. Justeru Allah SWT telah melindungi mereka dengan awan supaya mereka dapat berteduh dari dari panas dan juga dikurniakan Makanan dari Langit yang berupa Manna dan Salwa. Namun Bani Israil yang tidak bersyukur atas rezeki dan pertolongan dari Allah. Kisah Makanan dari Langit – Manna dan Salwa ini ialah Huraian dari Tafsir Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 57-61

Demikianlah beberapa kejadian aneh dan ajaib yang dalami para Nabi dan pengikutnya dimasa lalu. Semua kejadian aneh dan ajaib itu merupakan pelajaran bagi kita bahwa Allah tidak terikat pada aturan dan hukum alam dalam menolong siapa saja yang dikehendakiNya. Ia kuasa berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Apabila Ia menghendaki sesuatu cukup dengan menyatakan Kun…fayakun, jadilah maka terjadilah apa yang dikehendakinya itu.

( Kesimpulan )

Pertama Nabi yang bertahan terus menyerukan Agama Allah, dikala kemaksiatan dan kemusyrikan merebak dimana-mana sudah sangat mengakar, sehingga nasehat yang sering diserukan para Nabi tidak dipatuhi, sampai ketingkat mereka diusir, dan dicemooh. Adakah pekerjaan jaman sekarang yang menyerukan manusia kepada hukum Allah dan menentang semua kemaksiatan sehinnga sampai dikucilkan masyarakat dan pemimpinnya ? disanalah keimanan dibuktikan dan janji Allah menanggung rejeki hamba-Nya yang mengajak manusia kepada kebenaran, taat kepada Syariat-Nya. Mereka menjauh dari lingkungan kemaksiatan, mereka berhijrah dari kebatilan berpindah tempat untuk menjaga keimanan, inilah yang senantiasa dijalani para Nabi dalam menjaga keimanan umatnya.

Hikmah kedua kepada siti Maryam, seorang wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya, menyiapkan kebutuhan beribadah dimihrabnya, dia abdikan hidupnya melayani mereka yang beribadah kepada Allah Swt sehingga Allah menjamin kehidupannya. Dirinya selalu terhubung dengan Allah SWT, dalam keterpencilan bukanlah hina, agama dan kehormatannya selalu terjaga, ia memudahkan mereka yang ingin beribadah. Sehingga ia ditakdirkan menjadi bunda seorang Nabi yaitu Nabi Isa Alaihissalam.

( Hikmah untuk kita )

Kita sebagai manusia yang dhaif, hendaknya kisah nyata mereka menjadikan pelajaran penting agar jangan melalaikan kewajiban kita, menjaga aqidah dan iman keluarga kita, perbaiki visi dan tujuan kehidupan kita untuk selalu bersandarkan pada Qur’an dan Sunnah secara cermat, Allah menjamin rejeki hambanya yang taat, janganlah karena galau rejeki kita sulit menghindari praktik haram, seperti suap, ribawi, korupsi atau menahan/menumpuk harta hingga tidak dizakati. Seperti para Nabi marilah senantiasa mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran sekemampuannya, perbanyak dzikrullah sebisanya jauhi segala kemaksiatan dan niatan dari selain Allah SWT.

Semoga kita bisa amalkan tuntunan-tuntunan dalam Al-Quran dan hadits karena keduanya petunjuk dalam kehidupan. Janganlah lalai dari mengkajinya, sediakan khusus belajar membaca kitab tafsirnya, buku sirah Nabi agar kita terang menjalani Islam seperti hamba-hamba pilihannya yaitu para Nabi dan shahabatnya.

( Dalil terkait )

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكَّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh sebenar-benar tawakkal (Tetap taat dijalan Syariat-Nya), niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

نَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

Sesungguhnya Allah l berfirman, “Wahai anak Adam, pusatkan perhatianmu untuk beribadah kepada-Ku niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kecukupan dan Aku akan tutupi kefakiranmu . Bila engkau tidak melakukannya niscaya Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan (tidak pernah merasa cukup) dan Aku tidak akan menutupi kefakiran/kemiskinanmu .” (HR. At-Tirmidzi )

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ،
وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan di pelupuk matanya, dan tidak akan datang dunia melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang akhirat menjadi niatnya maka Allah akan menyatukan urusannya, dan menjadikan rasa kaya di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ibnu Majah)

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

إِنَّ اللهَ تَعَلىَ يَقُولُ : يَاابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَدَتِى أَمَْـَلأُصَدْرَكَ غِنىً, وَأَسُدُّ فَقْرَكَ. وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَكَ شُغْلاً, وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Sesungguhnya Alloh Ta’laa berfirman,”Wahai anak Adam. Beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku ! Niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi kebutuhanmu.” (HR. Ibnu Majah)

yusufmansurnetwork

BERSAMA ORANG TUA MENUJU KE SURGA | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

BERSAMA ORANG TUA MENUJU KE SURGA | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. [ath-Thûr/52:21]

PENJELASAN AYAT

Kenikmatan Ahli Jannah, Hidup Bersama Anak-Anak MerekaAyat di atas berbicara tentang salah satu kenikmatan sangat menyenangkan, yang diraih oleh penghuni surga (ahlul-jannah).

Karunia yang tidak hanya direguk oleh para wali-Nya di surga. Yakni hidup bersama-sama dengan keturunan mereka, meskipun amalan shalih anak keturunan mereka tidak sepadan dengan orang tuanya baik dalam hal kualitas maupun kuantitas.Dengan ini, pandangan orang tua tersebut menjadi sejuk damai, kebahagiaan mereka kian tak terkira, dan kegembiraan pun semakin sempurna. Suasana menyenangkan ini lantaran Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatukannya kembali dengan anak keturunan mereka. Itu merupakan takrimah (penghargaan), ganjaran dan tambahan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . [1]

Sungguh, benar-benar sebuah kenikmatan yang membahagiakan, manakala orang tua berjumpa kembali dengan anak-anaknya. Suatu kenikmatan yang sangat besar. Kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luas. Namun, persyaratan yang harus ada, yaitu anak-anak mereka juga beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum secara jelas dalam ayat.

Perhatikan keterangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang ayat di atas berikut ini.Beliau berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan mengenai keutamaan, kemurahan, kenikmatan dan kelembutan-Nya, serta curahan kebaikan-Nya kepada makhluk. Bahwa kaum mukminin, bila keturunan mereka mengikuti dalam keimanan (sebagaimana keimanan orang tua mereka), niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menempatkan anak-anak yang beriman ini ke derajat orang tua mereka, kendatipun amalan-amalan shalih mereka (anak-anak yang beriman) itu tidak sebanding dengan amalan para orang tuanya itu. Supaya pandangan para orang tua menjadi damai sejuk dengan kebersamaan anak-anaknya di tempat yang sama.

Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan mereka dalam kondisi terbaik. Anak yang kurang amalannya terangkat oleh orang tuanya yang sempurna amalannya. Hal ini tidak mengurangi sedikit pun amalan dan derajatnya, meskipun mereka berdua akhirnya berada di tempat yang sama.[2]

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

(dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka).

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: Kami tidak mengurangi pahala amalan anak-anak lantaran sedikitnya amalan mereka. Dan pula, tidak mengurangi pahala para orang tua sedikit pun, meskipun menempatkan keturunan mereka bersama dengan orang tua mereka (yang berada di derajat yang lebih tinggi, Pen.).[3]

Atau dengan pengertian lain, seperti diungkapkan oleh Imam ath-Thabari: Kami tidak mengurangi ganjaran kebaikan mereka sedikit pun dengan mengambilnya dari mereka (para orang tua) untuk kemudian Kami tambahkan bagi anak-anak mereka yang Kami tempatkan bersama mereka. Akan tetapi, Kami beri mereka pahala dengan penuh, dan (lantas) Kami susulkan anak-anak mereka ke tempat-tempat mereka (para orang tua) atas kemurahan Kami bagi mereka.[4]

Demikianlah, kemurahan dan keutamaan yang diraih anak-anak melalui keberkahan amalan para orang tua. Adapun keutamaan dan kemurahan yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.[5]

Hadits ini diperkuat oleh hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam Shahîh Muslim:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.Setiap Manusia Terikat Oleh Amalannya

Firman Allah:

كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

(tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya), mengandung pemberitahuan mengenai keadilan Allah. Bahwa pada hari kiamat kelak, setiap jiwa akan terikat dengan amalnya. Akan mendapat pembalasan berdasarkan amalnya itu. Kalau amalnya baik, maka balasannya baik pula. Sebaliknya, bila amalannya buruk, maka akibat balasan yang diterimanya pun buruk.Hanya saja, Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kemurahan-Nya kepada para orang tua, yaitu dengan bentuk mengangkat derajat keturunan-keturunan mereka ke tingkatan mereka sebagai wujud curahan kebaikan dari-Nya, tanpa adanya amalan dilakukan oleh anak keturunannya itu.[6]

Imam al-Qurthubi membawakan beberapa pengertian ayat ini dari keterangan para ulama. Yang pertama, ayat ini berbicara tentang penghuni neraka.Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata: Para penghuni neraka Jahannam terkungkung oleh amalan (buruk) mereka. Sementara itu, para penghuni surga menuju kenikmatan. Hal ini serupa kandungan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. [al-Muddatstsir/74:38-41].Kandungan ayat ini juga bersifat umum, berlaku bagi setiap manusia. Yang ia terikat dengan tindak-tanduknya. Ia tidak dikenai pengurangan pahala dari amalan baiknya.

Adapun bertambahnya pahala, ialah karena kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .Menurut penjelasan lainnya, pengertian ayat ini dimaksudkan kepada anak keturunan yang tidak beriman. Sehingga, lantaran tak beriman, maka anak-anak keturunannya itu tidak bisa mencapai derajat seperti yang diraih oleh orang tua mereka yang beriman, dan akan tetap terkungkung oleh kekufurannya.[7]

Berbeda dengan keterangan-keterangan di atas, Syaikh as-Sa’di berpendapat, penggalan ayat ini ditujukan untuk menghilangkan prasangka bahwa anak-anak penghuni neraka (ahlun-nar) pun mengalami hal serupa. Yaitu akan berada di tempat yang sama dengan orang tua mereka. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa keadaannya tidak demikian. Dalam masalah ini, tidaklah sama kondisi antara surga dan neraka. Neraka adalah tempat penegakan keadilan. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab seseorang kecuali dengan perbuatan dosanya. Seseorang juga tidak memikul dosa orang lain.[8]

PELAJARAN DARI AYAT

1. Besarnya keutamaan dan kemurahan Allah kepada para hamba-Nya, kaum mukminin.

2. Penetapan adanya hari Pembalasan dan Kebangkitan.

3. Keutamaan iman dan kemuliaan para ahlinya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyebabkan anak keturunannya yang memiliki amalan sedikit dapat dipersatukan dengan para orang tua mereka yang memiliki banyak amal shalih.
4. Penetapan kaidah, setiap manusia akan tergantung dengan amal perbuatannya di akhirat kelak.

Semoga Allah menyampaikan kita pada rahmatNya. Aamiin.

Wallahu a’lam

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/Sya’ban 1429/20

Apa saja kriteria Shalat Khusyu itu? | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Apa saja kriteria Shalat Khusyu itu? | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

Ustadz Aam, saya mau tanya tentang apa kriteria shalat khusyu itu ? Ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa slat baru dikatakan khusyu bila kita sudah tidak mendengar apa-apa dan hanya fokus kepada Allah. Bagaimana pendapat Ustadz?

Bila tolak ukur shalat khusyu adalah seperti itu, saya yakin tidak ada orang yang bisa mencapai derajat khusyu. Karena, bila sampai tidak mendengar apapun berarti orang tersebut telah kehilangan kesadaran. Padahal salah satu syarat sah shalat adalah dilakukan dalam keadaan sadar. Bila kita sadar, pasti tidak mendengar sesuatu. Coba sekarang kita liat bagaimana salat khusyu menurut Rasulullah SAW.

Suatu ketika, saat shalat berjamaah. Rasulullah SAW memendekkan bacaan salatnya. Sahabat bertanya, “selama bermakmum denganmu, inilah shalat tersingkat. Ada apa, ya Rasulullah SAW?” Lalu Rasul menjawab “Tidakkah kamu mendengar suara tangis seorang anak? Pastilah ibu dari anak itu tidak akan khusyu shalatnya bila mendengar tangis anaknya. Lantas, apakah shalat Rasululllah dikatakan tidak khusyu? Mohon maaf, bila masih mengatakan bahwa shalat khusyu itu tidak mendengar apapun, berarti sudah meragukan kekhusyukan salat Rasul. Padahal, tidak ada seorangpun yang lebih khusyu salatnya daripada Rasul.

Itu tandanya, indikator khusyu bukan terletak pada pendengaran kita ketika shalat. Khusyu itu adalah ketika hati dan pikiran kita berada pada orbot shalat. Jikalau kita sedikit melenceng, segeralah kembali ke orbit tersebut. Karena, yang namanya khusyu itu adalah membaca doa dalam shalat dengan penuh penghayatan dan tumaninah dan sama sekali tidak ada kaintan dengan pendengaran. Wallahu A’lam

sumber : percikaniman.org

5 Hal yang Mulai Diabaikan Umat Islam Saat Ini | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

5 Hal yang Mulai Diabaikan Umat Islam Saat Ini | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

Diutusnya Nabi Muhammad Saw ke dunia ini tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan akhlak, ajaran Islam tersebar hingga seluruh belahan dunia. Namun, sepertinya, potret wajah Islam saat ini kian buram, dikarenakan umatnya tidak mengedepankan akhlak.Islam mengajarkan bagaimana umatnya menjadi muslim yang baik. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Ketika umat Islam memiliki pribadi-pribadi yang unggul, tentu saja Islam menjadi pesona dan daya tarik tersendiri, sehingga terbentuklah masyarakat madani dengan menjadi muslim yang kaffah. Sebagai evaluasi, ada lima hal yang perlu diperhatikan umat Islam agar tidak mengabaikannya.

1. Tidak Menepati Janji

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil mari ke sini, nantisaya beri kurma ini”, kemudian dia tidak memberinya, berarti dia telah membohongi anak itu.” (HR. Ahmad)

Mengukur kebaikan seseorang, bukanlah dilihat dari status sosial dan ketinggian ilmu yang dimilikinya. Sekalipun, orang itu berpredikat ustadz, kiai, ataupun professor, jika ia tak menepati janji bila berjanji, maka orang itu belum bisa dikatakan shaleh. Persoalan janji, bukanlah hal yang remeh temeh dan dianggap sepele. Janji yang tak ditepati, meski hanya sesekali, maka berkuranglah kadar keimanan seseorang.

Bukankah Rasulullah saw menandai tiga ciri orang munafik: “Jika berkata ia dusta, jika berjanji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.”(HR. Bukhari- Muslim)

Menurut Ustadz Ahmad Yani (Ketua Umum Khairu Ummah) dalam materi Ramadhannya “Be Excellent: Menjadi Pribadi Terpuji”, meskipun seseorang mau menepati janji, tetap saja ia harus mengucapkan Insya Allah. Jika ada halangan saat ia harus memenuhi janjinya, maka kabari orang yang dijanjikannya itu.

Kendati kata “Insya Allah” sudah diucapkan, maka orang itu harus berusaha untuk memenuhi janjinya. Kata Insya Allah tak bisa dijadikan dalih untuk tidak menepati janji, padahal ia tak mendapat halangan apapun.

Ingatlah, janji itu utang dan utang itu wajib ditunaikan. Bila seorang muslim tidak memenuhi janji, maka rusaklah citranya. Pepatah mengatakan, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan pernah percaya.

2. Tidak Jujur dalam Berkata dan Perbuatan

Betapa banyak perilaku korup di negeri ini, sehingga meraih rangking teratas. Ini menunjukkan bahwa kejujuran semakin diabaikan. Orang jujur pun semakin langka. Padahal, Rasulullah saw dikenal sebagai pribadi yang jujur. Karena kejujurannya, beliau dijuluki dengan al-Amin atau orang yang dapat dipercaya. Dalam Islam, kejujuran adalah pangkal kebaikan yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah Saw bersabda: “Hendaklah kamu semua berikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari).

Orang yang selalu berkata dusta, bukanlah oran beriman, seperti firman Allah dalam al Qur’an: “Dan diantara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 8)

Rasulullah saw juga mengingatkan:”Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad).

Ketika umat Islam memiliki shiddiq (berkata dan bersikap benar), ia akan memperoleh ketenangan jiwa, mendapat keberkahan hidup, menggapai keselamatan, terhindar dari kemunafikan, dan akan dicatat sebagai ahli kebenaran (orang yang jujur).

Rasulullah bersabda: “Jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa pada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu akan menunjuki manusia ke neraka.” (HR. Bukhari).

Oleh sebab itu, jauhilah dusta dalam berbicara, berjanji, persaksian, dan dalam tuduhan kepada orang yang tidak bersalah.

3. Tidak Punya Rasa Malu

Rasulullah Saw bersabda: “Malu itu cabang dari iman”. (HR. Bukhari).

Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah rasa malu. Adapun malu yang dimaksud adalah ketika melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasulnya. Bila malu itu tertanam, tidak akan tejadi penyimpangan di masyarakat. Tapi jika rasa malu diabaikan, maka kehancuranlah yang akan datang. Pantas, di zaman sekarang, berbuat maksiat dan dosa pun dilakukan dengan rasa bangga.

Benar seperti kata Nabi Muhammmad saw: “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR. Bukhari).

Itulah sebabnya, keimana dan rasa malu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Malu itu bukan hanya kepada diri sendiri, tapi juga kepada Allah dan orang lain. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya malu dan iman adalah dua hal yang bergandengan, tak dapat dipisahkan. Bila salah satunya diambil, yang lain akan ikut terambil.” (HR. Hakim dan Baihaqi).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi).

4. Tidak Mendamaikan Sesama Muslim yang Berselisih

Ingatlah firman Allah Swt, ketika kaum muslimin berselisih paham dengan sesama muslim:

“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujuraat: 9).

Dalam pergaulan, persahabatan, dan pergerakan, adakalanya terjadi perselisihan. Hal ini tak boleh dibiarkan terus berlangsung. Apabila terjadi perselisihan, maka harus ada pihak yang mau menengahi atau mendamaikan secara adil, sehingga kedua belah pihak yang berselisih dan bertikai dapat kembali berdampingan.

Dikatakan Ustadz Ahmad Yani, terjadinya konflik dan berbagai pertentangan hingga terjadi permusuhan diantara sesama kaum muslimin adalah karena diantara mereka ada yang tidak memiliki keikhlasan, atau keikhlasannya telah hilang dari dirinya.

5. Tidak Suka Memaafkan

Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan Allah, dan akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya ked lam lingkungan hamba-hamba yang mendapat cinta-Nya, yaitu: seseorang yang selalu bersyukur ketika Allah memberi nikmat, seseorang yang mampu (meluapkan amarahnya) tetapi dia memberi maaf atas kesalahan orang, dan seseorang yang apabila marah, dia menghentikan amarahnya.” (HR. Hakim).

Memaafkan kesalahan saudaranya adalah salah satu dari akhlah yang utama. Seperti halnya pesan Nabi Muhammad Saw kepada sahabatnya. “Ya Uqbah, maukah kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu, menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (HR. Hakim).

Bahkan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah, Aku akan mengingatmu jika Aku sedang murka (pada hari Akhir).”

Rasulullah Saw lagi-lagi mengingatkan: “Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mau tahu, balasan orang yang menahan marah dan suka memaafkan? “Barangsiapa yang menyembunyikan kemarahan, padahal dia mampu melakukannya, Allah akan menyerunya dihadapan para pemimpin makhluk, sehingga Dia memilihkan bidadari untuknya, lalu menikahkan dengannya sesuai dengan kehendaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah Saw mengingatkan” “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.” (HR. Bukhari).

VOA islam

JILBAB AKAN MENJADI PENYELAMAT

JILBAB AKAN MENJADI PENYELAMAT | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

JILBAB AKAN MENJADI PENYELAMAT

Benar..
Berjilbab belum tentu baik imannya.
Akan tetapi wanita yang baik iman sudah pasti berjilbab bukan ?

Benar..
Menutup aurat bukan jaminan nggak pernah berbuat dosa.
Akan tetapi menutup aurat sudah pasti mengurangi dosa.
Minimal telah menggugurkan dosa kewajiban menutup aurat.!

Benar..
Berjilbab nggak jaminan selalu dekat dengan Allah.
Akan tetapi yang pasti ia ingin mendekat kepada Allah.

Berjilbab itu adalah untuk memperjelas jati diri.

Melindungi kehormatan dan kemuliaan yang tak akan terganti
Kelak.
.
Jibab menentukan pasangan hidupmu.
Karena wanita yang taat sangat berhak punya pendamping yang taat.
Itu janji Allah.
Bukan hanya pemanis kata-kata tanpa makna..

Jilbab itu adalah penjaga diri bagi lelaki yang jahat.
Dan jilbab adalah perhiasan terindah bagi lelaki yang taat.

Kenapa mesti berjilbab?
Karena itu adalah perintah-Nya.
Karena itu akan melindungi wanita dari lelaki yang suka maksiat..

____________________________________________________

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kainkudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An Nuur:31)

Sumber : KISAH ISLAM

ABU NAWAS DAN RUMAH YANG SEMPIT

ABU NAWAS DAN RUMAH YANG SEMPIT | Penerbit Al-Qur’an Indonesia

ABU NAWAS DAN RUMAH YANG SEMPIT

Dikisahkan, hiduplah seorang laki-laki yang tinggal di sebuah rumah yang luas. Ia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Suatu saat laki-laki itu merasa rumahnya semakin sempit. Dia mempunyai keinginan untuk memperluas rumahnya tetapi enggan untuk mengeluarkan biaya.Setelah berpikir, pergilah dia ke rumah Abu Nawas, si cerdik yang sangat tersohor di negeri Islam saat itu. Laki-laki itu meminta saran dari Abu Nawas bagaimana cara memperluas rumah tanpa harus mengeluarkan biaya.

Mendengar kisahnya, Abu Nawas menyuruh laki-laki itu untuk membeli sepasang ayam jantan dan betina kemudian kandangnya ditaruh di dalam rumah. Laki-laki itu merasa aneh dengan saran Abu Nawas, tetapi tanpa berpikir panjang dia pergi ke pasar dan membelinya.

Hari berikutnya dia datang kembali ke rumah Abu Nawas. Dia mengeluh rumahnya semakin sempit dan bau karena ayam-ayam yang dibelinya. Mendengar cerita itu, Abu Nawas hanya tersenyum dan menyuruh menambahkan sepasang bebek yang kandangnya juga ditaruh di dalam rumah. Dia bertambah heran, tetapi dia tetap menuruti nasehat Abu Nawas.

3 Hari berlalu, datanglah dia ke rumah Abu Nawas lagi. Dia bercerita kalau rumahnya semakin semrawut semenjak kehadiran bebek. Abu Nawas justru menyuruhnya untuk menambahkan kambing yang kandangnya juga ditaruh dalam rumah.

Hari berikutnya laki-laki itu kembali datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu menceritakan bahwa istrinya marah sepanjang hari, anak-anaknya menangis, hewan-hewan berkotek dan mengembik, ditambah hewan-hewan itu juga mengeluarkan bau tak sedap. Abu Nawas hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Abu Nawas menyuruhnya untuk menjual hewan-hewan itu satu persatu mulai dari ayam yang dijual terlebih dahulu, bebek, kemudian yang terakhir kambing.

Datanglah lelaki itu ke rumah Abu Nawas setelah selesai menjual kambingnya.

Abu Nawas:”Kulihat wajahmu cerah hai fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

Si lelaki:”Alhamdulillah ya abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

Abu Nawas: “(sambil tersenyum) Nah nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah bangunanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, hanya hatimu sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu. Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”

 

Terjadinya Hujan Salju Menurut Al-Qur’an | Penerbit Al-Qur'an Indonesia

Terjadinya Hujan Salju Menurut Al-Quran

Terjadinya Hujan Salju Menurut Al-Quran

Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman barulah Al-Quran semakin jelas kebenarannya,saat Al-Quran pertama kali di turunkan di muka bumi ini cukup banyak bangsa arab yang kebingungan tentang penjelasan beberapa ayat di dalam al-qur’an,dikarenakan peradaban pada saat itu belum maju,masalah ini terdapat pada unsur penjelasan di masa yang akan datang.

Kenali unsur-unsur yang terdapat pada al-qur’an :

1.penjelasan masa lalu
yaitu menjelaskan/menceritakan kejadian masa lalu dari masa sekarang.

2.penjelasan masa sekarang
yaitu menjelaskan masalah/kejadian masa sekarang.

3.penjelasan masa akan datang
yaitu menjelaskan masalah/kejadian di masa yang akan datang.

Kebingungan terjawabkan

Pada abad ke 20 para ilmuan baru tahu bagaimana terbentuknya hujan salju,tetapi di dalam Al-Qur’an sudah disebutkan bagaimana terbentuknya hujan salju pada abad ke 14.

Berikut penjelasan di dalam ayat al-qur’an tersebut :


artinya:
“tidaklah kamu malihat bahwa allah mengarak awan,kemudian mengumpulkan antara(bagian-bagiannya),kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit,(yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung,maka ditimpakannya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakinya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”(Al-Qur’an,24:43)

berikut bukti ilmiahnya :

hujan salju di arab

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus (sejenis awan hujan), adalah sebagai berikut:

TAHAP – 1 : Pergerakan awan oleh angin
Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

TAHAP – 2 : Pembentukan awan yang lebih besar
kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

TAHAP – 3 : Pembentukan awan yang bertumpang tindih
Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke
atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal,sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan salju (es).
Sebagian sumber : cararicky.wordpress.co

Hukum Menggunakan Kata "Seandainya.." | Penerbitan Al-Quran Indonesia

Hukum Menggunakan Kata “Seandainya..” | Penerbitan Al-Quran Indonesia

Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian.”
Orang lain yang mendengarnya berujar: “Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran.”
Lalu ada lagi yang bilang: “Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..”
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: “Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah,” hingga ucapan: “…karena kata “seandainya” itu membuka amalan syetan.” Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?

 

Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata ‘seandainya’ itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:”Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka..” (Ali Imraan : 156)

Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
“Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: “Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..”. Tapi katakanlah: “Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata “seandainya,” itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..” (At-Taghaabun : 11)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.

Yang kedua, penggunaan kata “seandainya,” untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa..” (Al-Anbiya : 22)

Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:”Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan..” dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..” Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu..” (Al-Qalam : 3)

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A’lam.

Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah IX : 1033
sumber : islamQA
Ketika Muslim Berbicara | Penerbit Al Quran Indonesia

Ketika Muslim Berbicara | Penerbit Al Quran Indonesia

Allah ta’ala berfirman :

“ Dan janganlah kalianmengikuti apa-apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawabannya “ (Al-Israa` : 36 )

 

Di antara adab-adab berbicara :

1. Menjaga Lisan

Yang sepatutnya bagi seorang muslim adalah memperhatikan lisannya dengan baik. Menghindari perkataan yang batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, secara ringkas dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.

Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan kehidupan dunianya dan juga akhiratnya. Dan bisa pula mengucapkan suatu kalimat dimana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajatnya. Yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad :

“ Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan suatu ucapan yang sama sekali dia memperoleh kejelasannya,maka diapun dijerumuskan diapi neraka lebih jauh dari pada arah timur “ Dan pada riwayat Muslim dan Ahmad : “ Lebih jauh melebihi jarak antara timur dan barat “

Dan juga pada riwayat Ahmad : “ Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu ucapan untuk membuat orang-orang yang duduk menyertainya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya “

Dan sebagaimana suatu kalimat akan dapat menjadi penyebab kemurkaan Allah, juga suatu kalimat dapat menjadi sebab pengangkatan derajat dan kebahagiaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Sesunguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah dimana dia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajatkarena kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimatdari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya, hingga dia dicampakkan ke neraka jahannam “

Dan pada pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang akan memasukkan kedalam surga dan menjauhkan dari api neraka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rukun-rukun Islam, dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda:

“ Maukah saya beritahukan kepadamu yang mengumpulkan semuanya itu ? Beliau menjawab : Tentulah wahai Nabi Allah.

Maka beliau 3 lantas mengeluarkan lidahnya dan mengatakan: Jagala ini.

Saya berkata : Wahai Nabi Allah, akankah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan ?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah engkau wahai Mu’adz. Apakah kaum manusia akan ditelungkupkan wajah-wajah mereka kedalam api neraka atau kerongkongan mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka ? “

Bahkan perkara ini tidak hanya sebatas ini saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan surga bagi yang menjaga lisannya dan juga kemaluannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “

Jadi wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan, untuk mengharapkan keridhaan-Nya, dan berharap meraih ganjaran pahala dari-Nya. Dan hal itu suatu yang mudah bagi yang Allah mudahkan baginya.

 

Faedah : Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu [ Hammad bin Zaid mengatakan ] Saya tidak mengetahui kecuali hadits ini beliau riwayatkan secara marfu’ , beliau berkata : “ Apabila bani Adam bangun pada pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya menegur lisan, dan mengatakan : Takwalah engaku kepada Allah, karena apabila engkau lurus maka kamipun akan lurus, dan apabila engkau menyimpang maka kamipun akan menyimpang “

Dan sabda beliau: “ Anggota tubuhnya menegur lisannya”, maknanya bahwa seluruh anggota tubuhnya tunduk dan merendah dihadapan lisan, taat kepadanya. Apabila engkau wahai lisan, lurus maka kamipun kaan lurus, dan apabila engkau menyelisihi dan menyimpang dari jalan yang lurus, maka kami akan mengikutimu, maka bertakwlaah engkau kepada Allah bagi kami.

Dan hadits ini tidaklah kontradiktif dengan saba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dari hadits An-Nu’man bin Basyir – : “ Ketahuilah bahwa pada jasad seseorang erdapat segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik, dan apabila segumpal daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati “

At-Thibi mengatakan : Lisan merupaka penerjemah hati dan penggantinya pada bagian zhahir tubuh. Apabila suatu perkara disandarkan kepadanya maka itu berupa majaz dalam hukum. Seperti perkataan anda : Dokter menyembuhka seorang yang sakit. Al-Maidani mengatakan tentang sabda beliau : Seseorang bergantung dengan dua hal yang kecil pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan. Maknanya seseorang akan benar dan menjadi sempurna kepribadiannya dengan dua hal tersebut.

Zuhair menggubah sbeuah sya’ir:

Dan selamanya anda akan menyaksikan seorang yang diam akan kagum

Bertmabah dan berkurangnya dia pada ucapannya

Lisan seorang setengah dan setengah lagi hati sanubarinya

Maka tidak lagi tersisa selain bentuk daging dan darah.

 

2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah

Adab Nabawi pada perkataan bagi orang-orang yang ingin berbicara supaya berbicara dengan pelan dan memikirkan perkataannya yang ingin dia katakan dengannya, jika perkataan itu baik maka bagus untuk dikatakan dan hendaklah dia mengatakannya, jika perkataan itu buruk maka hendaklah dia berhenti darinya maka hal itu baik bagi dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.[11]

Sabda beliau : “hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Berkata Ibnu Hajar : “ Perkataan ini adalah Jawami’ul kalam dikarenakan semua perkataan bisa dia berupa kebaikan, bisa berupa keburukan dan bisa juga bermuara kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam cakupan kebaikan semua yang dituntut dari perkataan-perkataan yang wajib ataupun yang sunnah, diperbolehkan padanya tentang perbedaan jenisnya, dan masuk padanya segala perkataan yang bermuara kepadanya. Adapun selainnya maka hal tersebut adalah keburukan atau yang bermuara kepada hal yang buruk, maka disaat hendak memperdebatkannya diperintahkan untuk berdiam diri ”.

 

3. Kalimat yang baik adalah shadaqah

Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu pembahasannya menunjukkan kepada kita bahwa seseorang diperintahkan untuk bicara yang baik-baik atau diam, kemudian syariat menyukai dalam berbicara yang baik dikarenakan padanya ada dzikir kepada Allah, kebaikan pada agama dan dunia mereka, dan kebaikan diantara mereka… serta selainnya hal-hal tersebut dari tinjauan yang bermanfaat. Ganjaran yang diberikan atas hal itu adalah mendapatkan pahala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Setiap ruas dari manusia atasnya terdapat shadaqah, setiap hari yang terbit padanya matahari : dengan dia berbuat adil diantara dua orang adalah shadaqah, seorang lelaki pada peliharaannya dan membawakannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang dia langkahkan untuk shalat adalah shadaqah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah”.

Terkadang suatu kalimat yang baik akan menjauhkan pembicaranya dari api neraka. Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut perihal api neraka neraka lalu beliau memalingkan wajahnya dan berlindung darinya, kemudian beliau berkata : “ Takutlah bertakwalah kepada neraka walau dengan sebutir kurma, barang siapa yang tidak mendapatinya maka dengan kalimat yang baik”.

 

4. Keutamaan sedikit berbicara dan makruhnya banyak berbicara

Telah diterangkan lebih dari sebuah hadits tentang anjuran untuk sedikit berbicara. Karena banyak berbicara dapat menjadi sebabtergelincirnya seseorang dalam dosa. Jadi seseorang yang banyak berbicara tidaklah berasa aman dari lisannya yang lepas dan kekeliruannya. Oleh karena itulah, ada anjuran untuk sedikit berbicara dan larangan banyak berbicara.

Al-Mughirah bin Syubah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:

“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi kalian perbuatan durhaka kepada ibu, sebagai larangan yang keras. Dan mengubur hidup-hidup anak wanita, dan membenci jika kalian mengutip perkataan, banyak birtanya dan menghambur-hamburkan harta “

Sabda beliau : “ Dan membenci jika kalian mengutip perkataan “, yaitu menceburkan diri pada kabar dan cerita-cerita orang tentang keadaan dan perbuatan mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi.

Banyak berbicara adalah suatu yang tercela dalam syariat. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunggunya oang yang paling saya cintai diantara kalian dan yang paling dekat majlisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling terpuji akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh majlisnya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak cakap, oang-orang yang memfasihkan bicaranya serta al-mutafaihiquun. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui apa itu ats-tsatsaaruun – yang banyak cakap – dan juga al-mutasyaddiquun, namun apakah itu al-mutaaihiquun ? Beliau menjawab: Yakni orang-orang yang angkuh “

Faedah: Abu Hurairah berkata : “ Tidak ada kebaikan pada perkataan yang berlebihan ”. Umar bin Al-Khaththab mengatakan: “ Barang siapa yang banyak berbicara maka akan sering tergelincir “

Ibnu Al-Qasim mengatakan: “ Saya telah mendengar dari Malik, beliau berkata: “ Tidak ada kebaikan pada banyak berbicara, dan hal itu meruapkan tingkah kaum wanita dan anak-anak. Tingkah laku mereka selamanya adalah berbicara dan tidak diam …

Lainnya mengatakan:

Seseorang meninggal karena kesalahan lisannya

Dan seseorang tidaklah meningal karena kesalahan kakinya

Tergelincirnya dia dari mulutnya yang akan menghempaskan kepalanya

Sementara tergelincirnya dia dengan kakinya akan bersih perlahan-lahan

 

5. Peringatan akan ghibah dan an-namimah adu domba

Sangat banyak kutipan dari Al-Qur`an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan larangan melakukan ghibah dan namimah. Dengan konsukuensi ancaman yang sangat berat. Larangan terhadap kedua perbuatan tersebut juga telah maklum adanya ditengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Akan tetapi, kita masih akan menjumpai sangat banyak orang yang tidak berhati-hati dalam mempergunakan lisaannya berbicara menyangkut kehormatan dan daging orang-orang. Akan tetapi inilah hiasan syaithan bagi mereka, untuk mencerai beraikan persatuan mereka dan mengobarkan kemarahan didalam hati sebagian dari mereka atas sebagian lainnya.

Sementara syariat didatangkan untuk menyatukan kalimat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain dan mengatakan perkataan yang benar dan yang baik … Sedangkan syaithan selalu berusaha untuk mencerai beraikan persatuan, memisahkan hati sebagian orang dengan sebagian lainnya, bebruruk sangka kepada orang lain dan mengucapkan perkataann yang batil dan yang buruk.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan shalat dijazirah Arab, akan tetapi syaithan tidak berputus asa untuk menghasut diantara mereka “[20]

Makna hadits diatas : bahwa sesungguhnya syaithan telah berputus asa menggoda para penduduk jazirah Arab untuk menyembahnya, akan tetapi syaithan senantiasa berusaha menghasut mereka untuk saling bermusuhan, kebencian, peperangan, menyebar fitnah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[21].

Ghibah dan namiman adalah salah satu benih lebencian dan permusuhan yang ditanamkan diengah-tengah menusia. Dan Allah telah mengabarkan perihal syaithan bahwa dia adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak akan emnghendaki kebaikan pada diri kita – dan hal itu tidak kita sangsikan lagi – dan Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dan memeranginya

“ Sesunggunya syaithan adala musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaithan akan mengajak kepada golongannya agar mereka semuatermasuk penghuni neraka sa’iir “ (Fathir : 6)

Ghibah dan namimah, termasuk salah satu senjata Iblis dan kelompoknya, untuk mencerai beraikan kaum manusia. Menanamkan kebencian dihati sbeagian kaum manusia kepada sebagian lainnya. Dan kedua hal tersebut termasuk diantara penyakit yang akan membinasakan individu serta mencerai beraikan jama’ah.

Penyakit tersebut akan menyebabkan indibidu masyarakan berada dalam bahaya dengan mendapatkan ancaman Allah akibat orang yan dighibahinya atau namimah yang diucapkannya. Dan penyakit ini akan menimbulkan pemutusan silaturrahim antara sesama keluarga dan kerabat dan sesama kaum manusia.

Ada baiknya kita akan sebutkan sebagian yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Dan seorang yang mendapatkan taufik adalah yng menundukkan hatinya kepada kebenaran sertamenjaga lisannya terhadap makhluk Allah.

Allah ta’ala berfirman :

“ Dan janganlah sebagian dari kalian menghibah sebagian lainnya. Apakah salah seorang diantara kalian akan memakan daging bangkai saudaranya, maka kalian tentunya merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih “(Al-Hujurat : 12 )

Dan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Wahai segenap orang yang merasa amandenganlisannya namun belumlah iman masuk kedalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya seseorang yang mencari-cari aurat mereka maka Allah akan mencari-cari auratnya. Dan barang siapa yang Alah mencari-cari auratnya niscaya Allah akan mempermalukannya dirumahnya “

Dari Abu Wail dari Hudzaifah beliau menyampaikan bahwa seseorang menyampaikan berita untuk tujuan namimah. Maka Hudzaifah mengatakan: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak akan masuk surga seseorang yang melakukan namimah “, pada riwayat lainnya : “ pengadu domba “ Dan keduanya semakna.

Faedah : Ghibah diperbolehkan pada enam tempat :

Pertama : Ketidak adilan, maka diperbolehkan bagi yang didhalimi untuk mengadukan ketidak adilan yang dia alami kepada penguasa atau halim dan selain keduanya yang mana padanya punya pemerintahan, atau berkehendak untuk berlaku adil pada orang yang mendhaliminya.

Kedua : Meminta pertolongan agar merubah kemungkaran, dan mengembalikan kemaksiatan kepada kebenaran. Hendaklah dia berkata kepada orang yang dia harapkan kekuasaannya uantuk menghilangkan kemungkaran dengan : Si fulan berbuat demikian, maka diapun mengasingkannya darinya dan sejenisnya, dengan maksud sebagai perantara untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi kalau maksudnya tidak demikian maka hal itu adalah keharaman.

Ketiga : Meredakan masalah, maka dia berkata kepada mufti / yang memberi fatwa : Ayahku telah mendhalimiku , atau saudaraku…dan semisal hal tersebut, maka hal ini diperbolehkan sesuai keperluan, akan agar lebih berhati-hati agar dia berkata : Apakah engkau mengatakan kepada laki-laki atau seseorang siapa saja yang menyuruhnya berbuat demikian? Yang mana dia akan tercapai dengannya tujuan tanpa adanya ketentuan yang pasti, dengan demikian maka penentuan tersebut diperbolehkan.

Keempat : Peringatan kepada kaum muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka … termasuk pula men-jarh kaum yang cacat sifatnya baik para perawi hadits atukah para saksi. Diantaranya pula musyawarah untuk menjalin kekerabatan dengan seseorang … dengan syarat tujuan dari itu smeua adalah untuk nasihat. Dan hal ini yang sering terjadi kesalah pahaman. Seorang pembcara terkadang terbawa rasa dengki pada hal-hal itu, dan syaithan mengaburkannya. Dan syaithan menampakkan seolah-olah hal tersebut suatu nasihat, maka mestilah hal itu lebih dicermati.

Kelima : Apabila yang dibicarakan adalah seseorang yang menampakkan perbuatan fasiknya atau bid’ahnya seperti seseorang yang terang-terangan meminum khamar, menyakiti orang banyak, memungut rente, mengambil pajak dari harta orang, melakukan perkara-perkara yang batil maka diperbolehkan untuk menyebutkan karena perbuatan yang dilakukannya terang-terangan. Namun haram menyebut aib-aibnya yang lain kecuali karena lain sebab yang diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Keenam : Untuk tujuan identifikasi. Apabila seseorang lebih terkenal dengan suatu julukan, seperti Al-A’masy – yang penglihatannya kabur – , Al-A’raj – yang pincang kakinya -, Al-Asham – yang tuli -, Al-A’maa – yang buta -, Al-Ahwal – yang matanya juling – dan lain sebagainya. Diperbolehkan mengidentifikasi mereka dengan julukan itu. Dan diharamkan penggunaan julukan itu secara mutlak untuk tujuan penghinaan. Dan sekiranya memungkinkan mengidentifikasinya selain dengan julukan itu, hal tersebut lebih utama.

Inilah enam perkara yangdisebutkan oleh par aulama, dan sebagian besarnya adalah perkara-perkara yang disepakati oleh mereka. Dan argumentasinya berupa hadits-hadits yang shahih sangatlah populer, demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[24].

Faedah lainnya : Tindakan yang sepatutnya bagi seseorang yang mengetahui namimah :

Pertama : Tidaklah membenarkannya karena seorang pembawa namimah adalah seorang yang fasik.

Kedua : Melarangnya dari perbuatan itu dan menasihatinya dan mencela perbuatan yang dilakukannya tersebut.

Ketiga : Membencinnya karena Allah, disebabkan pelaku perbuatan namimah adalah perbuatan yang dibenci Allah t’ala. Dan wajib membenci seseorang yang Allah benci.

Keempat : Tidak berprasangka buruk terhadap saudaranya yang tidak berada dihadapannya.

Kelima : Segala cerita yang sampai kepadanya tidak mendorongnya untuk mencari-cari dan menilik informasi tentang kabar itu.

Keenam : Tidak meridhai bagi dirinya sendiri apa yang dilarangnya bagi pelaku namimah. Tidaklah dia menceritakan suatu namimah darinya dengan mengatakan : Fulan menceritakan demikian, hingga diapun menjadi pelaku namimah. Dengan begitu dia melakukan suatu yang dia telah larang.

Inilah akhir perkataan Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Semua yang berkaitan dengan namimah ini apabila tidak terdapat mashlaha syar’iyah. Namun apabila suatu kebutuhan mengharuskan hal tersebut, maka tidaklah mengapa untuk disampaikan. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi

Sumber : berbagai sumber

Pengaruh Doa Terhadap Kesembuhan | Penerbit Al-Quran Indonesia

Pengaruh Doa Terhadap Kesembuhan | Penerbit Al-Quran Indonesia

Commission on Scientific Signs of Qur’an & SunnahAdalah lembaga pengkajian aspek Sains & teknologi dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Didirikan pada tahun 1987 di bawah suvervisi Rabithah Alam Islami di Makkah Al-Mukarromah. Penggagasnya adalah seorang ulama asal Yaman, Syekh Abdul Majid Zendani. Beliau adalah seorang ahli farmasi yang sangat menguasasi sains moderen, tafsir dan hadits. Sekarang dipimpin oleh Syekh Dr. Abdullah Al-Mushlih, seorang ulama Saudi Arabia. ***

Setiap kita mengunjungi orang sakit, kita selalu mendoakannya agar diberi Allah kesembuhan. Namun, sejauh mana keyakinan kita terhadap pengaruh do’a yang kita ucapkan tersebut terhadap kesembuhan orang yang kita kunjungi tadi? Jangan-jangan kita mengucapkannya hanya sekedar kebiasaan; dengan kata lain sebatas diucapkan dengan lisan, tanpa diiringi keyakinan bahwa doa’ tersebut merupakan salah satau metode pengobatan yang diajarkan Rasululullah Saw kepada umatnya.

Lantas, apa pengaruh do’a terhadap kesembuhan? Inilah yang dipelajari Dr. Dhiyak Al-Haj Husen, seorang pakar kesehatan bidang rematik di Ingris, anggota Asosiasi Pengonatan Sakit Punggung dan Akupuntur Ingris dan juga anggota Asosiasi Pengobatan Sakit Punggung Dengan Laser di Amerika. Dalam sebuah eksperimen yang dilakukannya menggabungkan metode pengobatan moderen dengan metode Nabi (Thibbunnabawi) dengan tujuan mengetahui dengan pasti sejauh mana efektifitas Laser yang dibarengi dengan do’a dalam mengobati penyakit punggung / tulang belakang yang diderita para pasiennya.

Dr Dhiyak menjelaskan bahwa penyakit bagain belakang / punggung adalah yang paling banyak diderita manusia saat ini setelah rematik, berdasarkan kunjungan para penderita ke dokter. Dalam berbagai penelitian dijelaskan bahwa hamper 80 % penghuni bumi saat ini pernah menderita sakit di bagian bawah punggung semasa hidup mereka. Melihat adanya efek samping dari obat-obat dan konsentrasi para pakar kesehatan hanya terhadap aspek fisik tanpa peduli terhadap aspek rohani maka muncul berbagai tawaran untuk menggunakan pengobatan komprehensif (penyempurna) seperti kemoterapi, akupuntur, laser dan pengobatan fisik-psiskis seperti meditasi (merenung) dan doa untuk kesembuhan.

Berdasarkan pemikiran tersebut saya menggabungkan antara metode pengobatan moderen dengan pengoatan Nabi (Thibbunnabawi) dalam penelitian / eksperimen yang saya lakukan. Hal tersbeut saya lakukan untuk mengetahui secara pasti efektifitas Laser dengan do’a dalam mengobati sakit punggung yang diderita para pasien. Saya menerapkan metode tersebut kepada 40 pasien yang umur mereka berkisar antara 30 sampai 65 tahun. Semua mereka adalah penderita penyakit punggung lebih dari tiga bulan. Para pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dengan menggunakan sinar laser ringan saja di tempat-tempat / titik-titik akupuntur sebanyak 40 titik di semua tubuh mereka.

Kelompok kedua dengan melakukan hal yang sama, namun ditambah dengan do’a yang diajarkan Rasul Saw : أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك “Aku memohon pada Allah yang Maha Agung, Tuhan Pencipta singgasan yang agung agar berkenan menyembuhkanmu” Do’a tersebut saya baca sebanyak tujuh kali setiap titik akupuntur saat menngunakan laser, tanpa didengar dan diketahui oleh sang pasien bahwa saya menggunakan do’a agar terhindar dari mispresepsi. Penilaian tingkat rasa sakit dan sejauh mana kemampuan pasien untuk membungkuk (ruku’) diakukan langsung setelah selesai terapi, kemudian setelah 4 pekan, 8 pekan, 12 pekan dan setelah 6 bulan.

Hasilnya sangat mengagumkan,Kelompok dengan menggunakan do’a ternyata sudah mengalami proses kesembuhan secera signifikan sejak selesai terapi dan terus meningkat kesembuhannya sampai setelah enam bulan berikutnya. Sedangkan yang tidak menggunakan do’a hanya megalami sedikit perubahan sejak selesai terapi dan setelah beberapa pekan saja. Setelah dua bulan rasa sakit datang kembali. Subhanallah… Sebuah hasil penelitian seorang pakar yang sangat mengagumkan dan dapat dipercaya kebenarannya.

Sebab itu, Lembaga Saintifik dalam Qur’an dan Sunnah (Commission on Scientific Signs of Qur’an & Sunnah) mengajak untuk memperbanyak do’a saat Anda menghadapi sakit, apakah yang sakit itu istri/suami, anak-anak, karib kerabat dan siapa saja yang Anda kunjungi. Dengan penuh keyakinan do’a Anda dikabulkan Allah. Anda pasti akan menyaksikan hasilnya dengan izin Allah. Separah apapun penyakit yang diderita, maka jangan sekali-kali berputus asa akan rahmat Allah. Kewajiban kita meminta kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan Pencipta singgasana yang agung agar berkenan menyembuhkan penyakit kita.. Amin..

 

sumber : eramuslim.com

MELALUI ANAK KECIL, HIDAYAH ITU HADIR DISAAT YANG TEPAT | Penerbit Al Quran Indonesia

MELALUI ANAK KECIL HIDAYAH ITU HADIR DISAAT YANG TEPAT | Penerbit Al Quran Indonesia

MELALUI ANAK KECIL HIDAYAH ITU HADIR DISAAT YANG TEPAT

Ada kisah menarik tentang sampainya hidayah disaat yang tepat, kisah yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib an-Nabulsy saat Khuthbah Jumat. Sebuah kisah inspiratif terjadi di Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak. Berikut ini dipaparkan dengan terjemah bebas dan sedikit diringkas. Semoga bermanfaat bagi kesadaran setiap Muslim untuk terus bersemangat menebar da’wah dengan giat dilingkungannya walau hanya dengan membagikan selebaran.
Menjadi kebiasaan di hari Jumat, seorang Imam masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan dan keramaian, sebuah brosur dakwah yang berjudul “Thariiqun ilal jannah” (jalan menuju jannah). Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah, “Saya sudah siap, Ayah!” “Siap untuk apa, Nak?” “Ayah, bukankah ini waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju jannah’?” “Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.” “Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” “Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.” “Ayah, jika diijinkan, saya ingin menyebarkan brosur ini sendirian.” Sang ayah diam sejenak lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.” Maka Anak itupun keluar ke jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu.

Dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah, namun tak ada jawaban. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Maka Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ia ketuk pintu dengan lebih keras…

Ia tunggu beberapa lama, hingga pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?” Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.” Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak.”

Sepekan Kemudian… Usai shalat Jumat… seperti biasa, Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit taushiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?” Di barisan belakang, terdengar seorang wanita tua berkata, “Tak ada di antara hadirin ini yang mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir untuk menjadi seperti ini sebelumnya.

Wanita itu melanjutkan, “…Sekitar sebulan lalu suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapanku untuk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap. Saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan untuk bunuh diri…

“…Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawab, “paling sebentar lagi pergi”, batinku. Tapi ternyata bel berdering lagi, dan kuperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar. Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk sekedar melihat siapa yang mengetuk pintu. Saat kubuka pintu, kulihat seorang bocah berwajah ceria, dengan senyuman laksana malaikat dan aku belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh sanubariku, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul, “Jalan Menuju Jannah.”

“…Maka Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Aku telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya…

“Anda tahu, sekarang ini saya benar- benar merasa sangat bahagia, karena bisa mengenal Allah yang Esa, tiada ilah yang haq selain Dia. Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka saya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang sangat tepat. Mudah-mudahan itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan jannah yang abadi. Mengalirlah air mati para jamaah yang hadir di masjid, gemuruh takbir. Allahu Akbar. Menggema di ruangan….

Maka sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf paling depan, tempat dimana puteranya yang tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!”

– kisahnya sampai disini… kemudian dikomentari oleh beliau akan kisah diatas–

Lihatlah bagaimana antusias anak kecil itu tatkala berdakwah, hingga dia mengatakan “Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” Ia tidak bisa membiarkan manusia berjalan menuju neraka. Ia ingin kiranya bisa mencegah mereka, lalu membimbingnya menuju jalan ke jannah.

Lihatlah pula bagaimana ia berdakwah, menunjukkan wajah ceria dan memberikan kabar gembira, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Siapa yang tidak trenyuh hati mendengarkan kata-katanya? Berdakwah dengan apa apa yang ia mampu, juga patut dijadikan teladan.

Bisa jadi… tanpa kita sadari… cara dakwah sederhana yang kita lakukan ternyata berdampak luar biasa. Menjadi sebab datangnya hidayah bagi seseorang. Padahal, satu orang yang mendapat hidayah dengan sebab dakwah kita, lebih baik baik bagi kita daripada mendapat hadiah onta merah. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh : Ustad Yusuf Mansur

MERASA BANYAK DOSA ATAU CUKUP/BANYAK AMAL

MERASA BANYAK DOSA ATAU CUKUP/BANYAK AMAL | Penerbit Al Quran Indonesia

Oleh: KH Abdullah GymnastiarSUATU saat seorang santri baru bertanya tentang ungkapan perasaan seorang hamba yang merasa banyak dosa. Hamba tersebut mengharapkan surga, tapi merasa tidak pantas. Ia merasa dirinya lebih pantas di neraka, walau sangat tidak menginginkannya. Lalu, tambah santri tadi, hamba yang begitu termasuk contoh orang yang seperti apa?

Saya sampaikan kepadanya bahwa hamba yang begitu salah seorang contohnya adalah saya sendiri. Karena saya memang menginginkan surga, namun merasa tidak pantas. Dengan memperhatikan amal sendiri yang belum ikhlas, salat yang belum khusyuk, dan lain-lain. Walaupun banyak dosa, jika disebut neraka, pastinya saya tidak mau dimasukkan ke sana.

Jadi, sebenarnya kalau kita merasa banyak dosa itu jauh lebih baik dibanding merasa banyak amal. Yang merasa banyak amal biasanya akan sombong. Sedangkan yang merasa banyak dosa akan memperbanyak tobat.

Namun penting diingat, kalau merasa banyak dosa bukan berarti mengumumkan semua dosa masa lalu. Pernah begini, pernah begitu, sudah melakukan ini, dan melakukan itu. Jangan, Maksudnya bukan seperti itu. Nanti malah bisa jadi kufur nikmat, karena selama ini Allah SWT telah menutupi aib dan dosa kita. Tobat kita hanya kepada-Nya.

Ketika Allah SWT menyukai seorang hamba, maka hati hamba itu akan dibukakan oleh Allah untuk melihat dosanya yang besar…
Ia seolah-olah melihat gunung yang akan runtuh menimpanya. Betapa merasa terancam pada dosanya sendiri, sampai ia begitu sedih dan terbenam tangisan, Banyak bertobat….

Sangat sulit baginya untuk sombong. Ia terus-menerus berharap ampunan dan rahmat Allah SWT. Namun, terhadap orang lain, Allah justru membukakan hati mereka untuk melihat kemuliaan amalnya. Aib dan dosanya ditutupi oleh Allah SWT. Yang begini termasuk ciri-ciri orang beruntung..

Sebaliknya, orang celaka adalah orang yang tidak mampu melihat atau menyadari dosanya sendiri. Ia merasa suci, mulia, dan calon ahli surga. Ia merasa saleh sendiri. Padahal, terhadap orang lain, Allah membukakan hati mereka untuk melihat aib dan kekurangannya…

Orang yang munafik akan melihat dosanya bagai melihat lalat yang dianggap remeh. Ia cenderung ujub dan takabur pada amalnya. Inilah bahaya terbesar dalam hidup. Karena hidup kita sebetulnya penuh dengan dosa. Yang sama sekali tidak punya dosa di antara kita hanyalah bayi.

Nah, saudaraku, adakah di antara saudara yang membaca tulisan ini yang merasa tidak memiliki dosa? Atau merasa dosanya baru sedikit?

Marilah kita bertobat. Betapa persoalan terbesar dalam hidup ini adalah ketika memiliki banyak dosa, namun tidak merasa terancam dan tidak pula sanggup menangis bertobat..

Berikut ini kurang lebih terjemahan ungkapan perasaan yang dimaksud oleh santri tadi. Sebuah syair pengakuan dahsyat mengguncang, yang ditulis oleh Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, atau dikenal sebagai Abu Nawas:

“Wahai Tuhanku, Aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak mampu menahan panasnya api neraka. Maka terimalah tobatku, dan ampunilah dosa-dosaku. Karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi maaf atas dosa-dosa yang besar.”

“Dosaku bagaikan bilangan pasir, terimalah tobatku wahai Tuhanku yang memiliki keagungan. Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.”

“Wahai Tuhanku, Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui seluruh dosa, dan telah memohon kepada-Mu. Seandainya Engkau mengampuni, memang Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-Mu?” …

 

7 HAL PEMBUKA DAN PELANCAR REZEKI | Penerbit Al Quran Indonesia

7 HAL PEMBUKA DAN PELANCAR REZEKI | Penerbit Al Quran Indonesia

REZEKI dalam Islam merupakan hal yang ghaib,seperti jodoh dan kematian. Maka ada cara-cara untuk menjemput dan menggapainya. Di bawah ini adalah tujuh cara di antaranya membuka pintu rezeki secara islami, dan tidak melanggar aturan-aturan Allah.
Tujuh hal tersebut adalah sebagai berikut :

1st
BERSYUKUR
Ini adalah kunci pertama dan utama membuka rezeki, karena Allah berjanji dalam Al-Qur’an akan menambahkan nikmat kepada hambanya yang pandai bersyukur. Bersyukur disini adalah bersyukur dari apa saja yang Allah berikan kepada kita, baik itu terlihat baik oleh kita maupun tidak. Karena bisa jadi, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah SWT. Oleh sebab itu maka kita harus selalu mensyukuri apapun yang Allah karuniakan kepada kita. Begitu banyaknya nikmat Allah yang kita tak pandai dalam mensyukurinya. Mulailah bersyukur untuk membuka pintu rezeki.

2nd
SHALAT DHUHA
Shalat ini adalah shalat pembuka rizki, dilakukan pada siang hari, pada saat matahari sepenggalan naik. Jumlah raka’atnya dari dua sampai dua belas raka’at. Dalam do’a shalat ini terkandung permintaan tentang rezeki yang sangat luas, baik rezeki yang dari langit, dari bumi, dari laut, dari sedikit meminta agar dibanyakkan, dari sulit meminta untuk dimudahkan. Jika dilakukan sesering mungkin, insyaAllah shalat ini akan membuka pintu rezeki, bahkan dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

3rd
BIRRUL WALIDDAIN (PATUH KEPADA KEDUA ORANG TUA)
Hal yang satu ini tidak harus diragukan lagi, karena ridha Allah tergantung ridha dari orang tua. Patuh kepada keduanya merupakan jalan yang tidak bisa disangsikan lagi untuk membuka pintu rezeki. Maka, patuhlah kepada kedua orang tua niscaya ridha Allah akan bersamamu.

4th
MENIKAH
Ini juga salah satu cara untuk membuka pintu rezeki, karena dalam menikah ada keberkahan ,ada setengah kesempurnaan agama setiap manusia. Jika setengahnya lagi dilakukan dengan taqwa kepada Allah, tidak mustahil dan sudah barang tentu hal ini akan membuka pintu rezeki yang seluas-luasnya. Ketika dalam pernikahan diberikan keturunan, seorang perempuan akan menjadi seorang ibu, yang do’anya terkabulkan tidak terbantahkan. Do’anya ajaib, dan do’anya akan menembus langit tanpa ada yang menghalangi. Dan jika seorang suami dan istrinya berdo’a, apalagi di pertengahan malam, maka Allah pun berfirman, “Dia malu tidak mengabulkan doa pasangan suami istri tersebut,atas dasar inilah menikah mampu membuka pintu rezeki,maka yang belum menikah, menikahlah.”

5th
ISTIGFAR
Melazimkan istigfar dalam jumlah yang banyak dan terus menerus, selain akan menghapuskan dosa-dosa kecil, juga akan membuka pintu rezeki. Karena dosa jugalah yang menghambat dan mempersempit rezeki. Dengan berdosa seseorang akan jauh dari keberkahan Allah, sehingga rezeki akan sulit datang. Namun dengan istigfar, perlahan-lahan dosa akan terhapuskan dan insyaAllah dapat membuka dan memperlancar rezeki. Maka perbanyaklah membaca istigfar.

6th
MEMBACA SHALAWAT
Keistimewaan membaca shalawat salah satunya adalah dapat membuka pintu rezeki, karena kemuliaan baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dengan membacanya, akan membawa keberkahan dalam hidup. Perintah membaca shalawat ini tertuang dalam Al-Quran dan Hadis, sehingga tidak disangsikan lagi khasiat dari membaca shalawat ini.

7th
SEDEKAH
Sedekah merupakan kunci yang paling ampuh untuk membuka pintu rezeki. Ada istilah yang mengatakan, jika ingin dapat rezeki dadakan, maka sedekahnya harus dadakan. Jika ingin dapat senyuman, harus sedekah senyuman, jika ingin dapat uang banyak sedekahnya harus memakai uang dan juga banyak. Allah akan melipatgandakan pahala sedekah ini, dari sepuluh menjadi beratus-ratus kali lipat, dan ini sudah banyak terbukti.

Itulah tujuh cara untuk membuka dan memperlancar pintu rezeki. Selamat mempraktikkan, semua tergantung dan kembali kepada diri kita masing-masing. Jika kita bisa memperaktikkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, insyaAllah dengan izin Allah SWT, rezeki kita akan dibukakan, dilancarkan dan dimudahkan. Allahu A’lam.

LAKUKAN 7 AMALAN INI AGAR MASUK SURGA | Penerbit Al Quran Indonesia

LAKUKAN 7 AMALAN INI AGAR MASUK SURGA | Penerbit Al Quran Indonesia

Seorang muslim tidak masuk surga karena amalnya. Mereka hanya bisa masuk surga karena rahmat Allah Ta’ala. Meski demikian, Rasulullah Saw dalam banyak sabdanya memerintahkan umatnya untuk melakukan banyak amal shaleh yang bisa menjadi sarana baginya untuk masuk ke dalam surga.

Berikut kami ringkaskan beberapa di antaranya kepada Sahabat Kisah Hikmah yang kami kutip dari buku “Inilah Rasulullah Saw” tulisan Syaikh Salman al-Audah.

1. Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim, shalatlah di malam hari ketika manusia telah tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat. (Hr. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

2. Jaminlah enam perkara untukku dari kalian, niscaya aku akan menjamin surga atas kalian. Jujurlah jika kalian berbicara, tepatilah jika kalian berjanji, tunaikanlah amanah jika diberi amanah, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan dan tahanlah tangan kalian. (Hr. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi)

3. Siapa yang mampu menahan amarahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka pada Hari Kiamat Allah Ta’ala akan memanggilnya di hadapan seluruh manusia, hingga Allah Ta’ala menyuruhnya untuk memilih bidadari mana yang dikehenaki. (Hr. Ahmad Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

4. Siapa yang menginginkan surga, hendaknya ia bersama jamaah (kaum muslimin). Barangsiapa merasa senang dengan kebaikannya dan merasa susah dengan keburukannya, maka dia itulah seorang mukmin. (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

5. Siapa yang dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjaminkan surga untuknya. (Hr Bukhari)

6. Penghuni surga itu ada tiga golongan. Pertama, pemimpin yang adil, dermawan dan mendapatkan taufik. Kedua, seseorang yang penyayang dan berhati lembut kepada setiap karib kerabat. Ketiga, seorang muslim yang bersih, sangat menjaga kehormatan dirinya dan memiliki tanggungan (Hr. Muslim)

7.Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya. Satu, pemimpin yang adil. Dua, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala. Tiga, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut pada masjid. Empat, dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala, yang bertemu dan berpisah karena-Nya. Lima, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Ta’ala.” Enam, seorang laki-laki yang bersedekah, kemudian ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya. Tujuh, seorang laki-laki yang menyebut nama Allah Ta’ala dalam keadaan sendirian, lalu berlinanglah air matanya. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita untuk melakukan amalan-amalan tersebut dan semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat-Nya sehingga kita layak memasuki surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.www.ayobacaalquran.com

Sesungguhnya Kebaikan Akan Memantul Pada Pelakunya | Penerbit Al Quran Indonesia

Sesungguhnya Kebaikan Akan Memantul Pada Pelakunya | Penerbit Al Quran Indonesia

SESUNGGUHNYA jiwa- jiwa yang fitrahnya hidup akan merasa bahagia apabila mampu memberi manfaat untuk orang lain. Sebaliknya, jiwa yang fitrahnya mati dan tertutup justru merasa bahagia jika melihat kesusahan dan penderitaan orang lain. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Jika kebaikanmu menyenangkanmu dan kejahatanmu menyusahkanmu, maka kamu adalah seorang mukmin. “ (HR. Ahmad).

Para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam merupakan orang- orang yang sangat suka memberi manfaat kepada orang lain. Sebagai contoh, Khalifah Umar bin Khattab ra. Dan beberapa sahabat lainnya yang ketika mendapatkan harta langsung didistribusikan lagi kepada orang lain.

Diriwayatkan bahwa ketika mendapatkan kiriman harta tersebut, Umar langsung memanggil salah seorang pembantunnya dan memerintahkan agar harta tersebut dikirimkan kepada Abu Ubaidah bin Jarrah ra. Umar juga meminta pembantunya agar menunggu sejenak di rumah Abu Ubaidah untuk memerhatikan apa yang akan ia lakukan dengan harta tersebut. Tampaknya, Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaiddah mengguanakan hartanya.

Ketika pembantu itu sampai dirumah Abu ubaidah, ia meyampaikan, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini kepada Anda untuk dipergunakan sesuai kebutuhan yang anda kehendaki.”

Kemudian Abu Ubaidah memanggil pembantunnya. Lalu mereka mulai membagi- bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin hingga seluruh harta tersebut habis. Pembantu Umar pulang dan menyampaikan apa yang telah ia liat. Umar kemudian kembali memberi pembantu itu uang sebesar empat ratus dirham ntuk diserahkan kepada Muadz bin Jabal ra. Sama seperti sebelumnya, Umar meminta pembantunya untuk memperhatikan Muadz.

Ternyata Muadz pun memanggil hamba sahayanya untuk membagi- bagikan harta tersebut kepada fakir miskin hingga habis. Bahkan, ketika istri Muadz melihat dari dalam rumah dan berkata kepada suaminya,”Demi Allah, aku juga termasuk orang miskin,” Muadz hanya menjawab,”Ambillah dua dirham saja.”

Umar kemudian menyuruh lagi unuk mengirimkan harta kepada Saad bin Abi Waqqas ra. Ternyata, Saad pun melakukan hal yang sama. Pembantu Umar itu kembali pulang dan melaporan semua yang dilihatnya. Mendengar sikap mereka, Umar menangis dan berkata,” Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah sikap dan perilaku para sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam mendayagunakan karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Hidup mereka selalu ingin digunakan untuk memberi manfaat bagi manusia yang lain walaupun sebenarnya diri mereka sendiri sangat membutuhkan.

Dicintai Manusia

Orang yang mampu memberi manfaat kepada orang lain akan dicintai oelh orang yang mendapatkan manfaat darinya. Bahkan, orang lain yang tidak mendapatkan manfaat pun akan mengagumi dan menghormatinya.

Contohnya, para pahlawan Islam. Waaupun jasad mereka telah lama hancur, tetapi penghormatan kepada mereka tetap abadi. Lihatlah Syaikh Yusuf al Makassari. Beliau seorang ulama pejuang abad 17 yang berjasa menyebarkan Islam dan menanamkan semangat perjuangan melawan penjajah Belanda.

Sikapnya yang tegas menentang bangsa penjajah menjadikan Yusuf harus dijauhkan dari pengikutnya. Tahun 1683, Yusuf ditahan selama satu tahun di Cirebon, Jawa Barat, kemudian di Batavia (Jakarta), dan akhirnya dibuang ke Thailand.

Namun, berada di tanah buangan tak menyurutkan semangat Yusuf untuk berdakwah dan menulis kitab. Di Thailand, Yusuf dalam waktu sngkat berhasil meraih simpati masyarakat. Inilah yang menyebabkan Belanda, pada tahun 1693, membuang Yusuf ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Di negeri baru itu, Yusuf kembali meyampaikan dakwahnya, sehingga berkembanglah Islam di negeri tersebut.

Syeikh Yusuf wafat pada tahun 1699 di usia 72 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Cape Town. Rakyat Afrika Selatan menjadikannya sebagai guru, pemimpin, dan pahlawan mereka. Ini tidak lain karena kiprah kebajikan yang beliau tanam, sehingga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 7 yang bunyinya;

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ

”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…”.*/Faqihuddin Asyrof

Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar/hidayatullah.com

KISAH SEKALI TAHAJUD, URUSAN MENCARI KERJA LANGSUNG MUDAH | Penerbit Al Quran Indonesia

KISAH SEKALI TAHAJUD, URUSAN MENCARI KERJA LANGSUNG MUDAH | Penerbit Al Quran Indonesia

Panggilan interview itu akhirnya tiba. Jadwalnya besuk, jam 11 siang.

“Jangan lupa bangun malam, tahajud… Insya Allah urusanmu dimudahkan Allah,” Pesan nenek kepada pemuda itu.

Ia pun menuruti nasehat neneknya. Di sepertiga malam yang terakhir ia bangun, menunaikan shalat tahajud. Lalu ia pun pergi ke masjid untuk shalat Subuh berjama’ah.

Paginya, anak muda itu naik bus ke alamat perusahaan yang ditujunya. Matanya terasa berat, beberapa kali kepalanya terangguk, hingga ia tak lagi melihat dan mendengar apa-apa. Beberapa waktu kemudian ia terbangun. Ia kaget, karena bus sudah berada di Arion Jakarta Timur. Segera ia turun.

Sudah jam 11, ia bimbang apakah mau tetap datang ke interview itu atau pulang. “Masih ada waktu, mungkin belum terlambat,” akhirnya ia memutuskan untuk tetap ke sana. Bergegas ia pindah kendaraan, naik bus yang berbeda.

Sesampainya di daerah Cempaka Putih, seorang Bapak dengan pakaian yang agak berantakan naik ke bus yang ditumpanginya. “Silahkan duduk, Pak” kata pemuda tersebut memberikan tempat duduknya. Ia merasa kasihan dengan bapak tersebut. Selain usianya yang lebih tua, laki-laki tersebut juga tampak lelah. Mungkin ia baru melakukan sesuatu yang menguras tenaga.

Semula, laki-laki itu menolak. Tapi melihat ketulusan sang pemuda, ia menerima kebaikan pemuda itu. “Terima kasih, Dik”

“Sama-sama Pak. Bapak mau ke mana?”
“Jalan Thamrin”
“Di mana Pak Thamrinnya?”
“Wisma Nusantara”
“Wah, sama Pak. Saya juga mau ke sana”
“Ada perlu apa Adik ke sana?”
“Ada panggilan kerja Pak. Sayangnya terlambat. Enggak biasa-biasanya shalat malam, tadi malam saya tahajud akhirnya ngantuk sampai ke Arion”
“Panggilan kerjanya di lantai berapa?”
“Saya tidak tahu, Pak. Rencananya begitu sampai di sana baru tanya kantornya di lantai berapa”
“Kantor saya di sana Dik. Biasanya saya naik mobil. Tapi tadi pagi ban mobil saya bocor. Saya sudah menunggu taksi lama, akhirnya naik bus ini. Adik tenang saja, nanti saya antar ke tempat wawancara.”

Akhirnya mereka sampai di depan Wisma Nusantara. Sang pemuda kaget, ratusan orang telah antre di sana. Ia berpikir ia belum terlambat, tetapi entah jam berapa ia bisa ikut wawancara karena harus antre sebanyak itu.

“Coba lihat surat panggilannya Dik” kata Bapak itu, segera disambut sang pemuda dengan mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada orang tersebut.

“Nah, ini tanda tangan saya” kata-kata itu membuat sang pemuda bingung. Ternyata orang yang bersamanya sejak tadi adalah orang yang memanggilnya, sekaligus orang yang mewawancarainya. Ia bersyukur, ia tidak antre. Ia bisa langsung wawancara.

Benar kata nenek, urusannya dimudahkan Allah…

Saudaraku, kisah yang diceritakan Ustadz Yusuf Mansur dalam buku Kun Fakayuk 2 ini hanyalah satu diantara sekian banyak kisah kemudahan dari Allah untuk orang-orang yang menunaikan shalat malam. Maka tunaikanlah shalat malam, niscaya urusanmu dimudahkan. Dan jangan berharap hanya urusan dunia yang dimudahkan, karena yang jauh lebih penting dan lebih kita butuhkan adalah kemudahan urusan akhirat kita. Saat sakaratul maut, kita dimudahkan. Saat berada di alam barzah, kita dimudahkan. Saat hisab, kita dimudahkan. Saat melewati sirath, kita dimudahkan. Dan pada akhirnya kita dapat mencapai maqaamam mahmuuda; kedudukan yang mulia, kemuliaan hidup di surga. [Kisahikmah.com]

YUK CIPTAKAN SUASANA CINTA AL-QUR'AN DIMANA-MANA |Penerbit Al Quran Indonesia

YUK CIPTAKAN SUASANA CINTA AL-QUR’AN DIMANA-MANA |Penerbit Al Quran Indonesia

Pemandangan anak-anak atau remaja pergi mengaji ke surau dengan mendekap kitab suci al-qur’an di dadanya, saat ini sungguh merupakan pemandangan yang sangat langka. Kita lebih mudah menemukan anak-anak membawa komik atau buku kartun di tas dan dalam tentengannya, kita lebih mudah menemukan remaja dan orang dewasa membawa buku-buku karya penulis barat, buku-buku Kahli Gibran, novel-novel melankolis atau bahkan cengeng, kenapa?Kenapa kita seolah-olah malu ketika menyandang atau membawa al-qur’an dalam tas kita? Kenapa kita seolah-olah minder ketika kita membaca al-qur’an sementara orang lain membaca Kahlil Gibran, Wiro Sableng atau buku-buku Ko Pinho? Kenapa kita seolah-olah merasa ketinggalan zaman ketika kita membaca al-qur’an, sementara orang lain membaca Seven Habit-nya Stephen Cohey? Kenapa seolah-olah buku-buku bacaan, koran dan surat khabar justru menjadi menu wajib di ruang baca kita, sementara al-qur’an tak lebih dari sekedar pajangan di rak dan lemari buku? Ada sebuah pergeseran perilaku dan cara pandang kita terhadap al-qur’an, mungkin salah satu penyebabnya. Padahal sejarah mencatat periode keemasan Islam justru terjadi ketika umatnya, umat Islam ini demikian menghargai al-qur’an, menjadikannya rujukan, menjadikannya imam, menjadikannya sumber dari segala sumber hukum, menjadikan al-qur’an sebagai bacaan wajib, memahami kandungannya dan kemudian mengamalkan apa yang digariskannya. Tidakkah kita ingin benar-benar kembali menjadi umat terbaik yang diturunkan Allah kepada manusia? Adakah kita cukup puas dengan sebutan saja, sementara dalam kenyataannya, umat Islam saat ini ibarat buih di lautan yang dihempas ombah kian kemari, berpecah belah, karena setiap kita mempunyai pemikiran yang parsial dan hanya berdasar pada logika dan asumsi, bukan bersandar pada kebenaran al-qur’an yang telah dijamin oleh Allah sebagai satu-satunya bacaan yang akan memberi syafaat di Yaumil Akhir nanti. Kalau saat ini kita belum mampu menjadikan al-qur’an sebagai menu utama ruang baca kita, kenapa kita tak menyempatkan diri membaca al-qur’an di sela-sela rehat kita membaca Wiro Sableng, Kho Pinho atau lainnya, meski ini bukan cara yang terbaik, setidaknya kita melatih diri untuk bisa hidup nyaman dengan al-qur’an. Kalau seorang mekanik memjalankan mesin harus mengikuti buku manualnya, kalau mobil harus dijalankan dengan panduan manualnya, kalau pesawat terbang harus sesuai denga aturan yang ditetapkannya, kok bisa ya kita menjalani roda kehidupan kita tanpa panduan al-qur’an?! Kenapa kita tidak belajar dari sejarah, bagaimana kehancuran umat-umat sebelum Islam pun terjadi ketika mereka berpaling dari apa yang telah digariskan oleh Tuhan dalam kitab-kitab sucinya. Kehancuran umat-umat itu ketika mereka hanya menjadikan kitab-kitab itu tak lebih dari sebuah bacaan kuno, yang dibawa kian kemari tanpa tahu apa isi kandungannya, Allah menyindir golongan dari jenis ini lewat firman-Nya; (Quran Surah Al-Jumu’ah ayat 5) “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya [*] adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” [*] Maksudnya: tidak mengamalkan isinya, antara lain tidak membenarkan kedatangan Muhammad s.a.w. Apakah kita akan mengulangi kesalahan kaum-kaum fasik tersebut? Apakah kita tidak malu menyebut kita umat terbaik, sementara perilaku dan cara kita memperlakukan al-qur’an hampir sama dengan mereka memperlakukan kitab-kitabnya? Mari kita rubah cara pandang dan pola pikir terhadap al-qur’an, mari kita bangga membaca, memahami dan mengamalkan al-qur’an. Biarkan saja jika masih ada orang-orang yang mendiskerditkan al qur’an dengan pikiran-pikiran piciknya, karena al-qur’an tak perlu membuktikan apapun bahwa al-qur’an memang kebenaran yang datangnya dari Allah. Justru mereka-mereka itulah yang harus membuktikan ucapan dan pemikiran-pemikiran piciknya terhadap al-qur’an. Tengok disekitar kantor kita, ada berapa al-qur’an di sana? Kalau belum ada, mungkin kita bisa menyediakannya untuk memungkinkan kita setiap hari bisa berhubungan dengan al-qur’an. “Suasana di kota santri, asyik menyenangkan hati” “Tiap pagi dan sore hari muda-muda berbusana rapi” “Pulang pergi mengaji” “Hilir mudik silih berganti, menyandang kitab suci” Demikian sebuah syair qasidah yang masih cukup enak didengar, mengingatkan kita pada masa-masa dikampung dulu, masa indah di mana kita pergi ke surau-surau untuk mengaji, mendekap kitab suci al-qur’an yang terbungkus rapi dalam balutan kain putih.
Di tulis oleh : Yusuf Mansur
Larangan Mencari Cari Aib Orang Lain | Penerbit Al-Quran Indonesia

Larangan Mencari Cari Aib Orang Lain | Penerbit Al-Quran Indonesia

Larangan Mencari Cari Aib Orang Lain | Penerbit Al-Quran Indonesia
tajassus
Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانَهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوا وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبَعِ اللهُ يَفْضَحْهُ لَهُ وَلَو في جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, 
janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. 
Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
QS. Al-Hujurat : 12
Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya. Mengutip perkataan Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi.
Sumber : Smstauhiid.com
Mendekatkan Kepada-Nya | Penerbit Al-Quran Indonesia

Mendekat Kepada-Nya | Penerbit Al-Quran Indonesia

Mendekat Kepada-Nya | Penerbit Al-Quran Indonesia

Wasilah berarti secara bahasa memiliki beberapa arti, yaitu: qurbah (perbuatan untuk mendekatkan diri); perantara; apa yang dapat menghantarkan dan mendekatkan kepada sesuatu; berharap; permintaan; kedudukan dekat raja; dan derajat. Lihat makna-makna ini di dalam kamus-kamus bahasa Arab, seperti: An-Nihayah, Al-Qamus, Mu’jamul Maqayis, dan lainnya..

Kita semua ingin mencari wasilah kepada Allah. Jelas, jika kita ingin lebih dekat kepada Allah, karena akan banyak manfaat dalam kehidupan dan akhirat. Jika Allah senang dengan kita, Maka Dia akan melindungi kita dari tantangan hidup ini, dan secara umum, kita dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri Kepada-NYA, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.

(Quran, Surah Al-Ma’idah ayat 35 | refrensi Al-Quran Cordoba Al-haramain )

Ayat di atas menyebutkan, “mencari Wasilah kepada-Nya”, berkaitan dengan iman , hukum-hukum Islam dan tindakan Ihsan (akhlak).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh (al-Qurbah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujâhid, Abu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatâdah berkata tentang makna ayat tersebut, “Mendekatlah kepada Allâh dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.”[4]

Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allâh dengan cara tertentu) ada tiga macam:

1. Masyrû’, yaitu tawassul kepada Allâh Azza wa Jalla dengan Asma’ dan Sifat-Nya dengan amal shalih yang dikerjakannya atau melalui doa orang shalih yang masih hidup.

2. Bid’ah, yaitu mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara yang tidak disebutkan dalam syari’at, seperti tawassul dengan pribadi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka, dan sebagainya.

3. Syirik, bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdoa kepada mereka, meminta keperluan dan memohon pertolongan kepada mereka.[5]

TAWASUL YANG MASYRU
Tawassul yang masyru’ (yang disyari’atkan) ada 3 macam, yaitu:[6]

1. Tawassul Dengan Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allâh Subhanahu Wa Ta’ala .
Yaitu seseorang memulai doa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengagungkan, membesarkan, memuji, mensucikan Dzat-Nya yang Maha Tinggi, Nama-Nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi kemudian berdoa (memohon) apa yang dia inginkan. Inilah bentuk doa dengan menjadikan pujian dan pengagungan sebagai wasilah kepada-Nya agar Dia mengabulkan doa dan permintaannya sehingga dia pun mendapatkan apa yang dia minta dari Rabb-nya.

Dalil dari al-Qur-ân tentang tawassul yang masyru’ ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan Allâh memiliki Asma-ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [al-A’râf/7:180]

Dalil dari al-Hadits tentang tawassul yang masyru’ ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang yang berucap dalam dalam shalatnya :

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، اَلْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، إِنِّي أَسْأَلُكَ ( الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ )

“Ya Allâh, aku mohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Ya Rabb Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, ya Rabb Yang Mahahidup, ya Rabb yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan (ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka).”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَقَدْ دَعَا اللهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيْمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Sungguh dia telah meminta kepada Allâh dengan Nama-Nya yang paling agung yang apabila seseorang berdoa dengannya niscaya akan dikabulkan, dan apabila ia meminta akan dipenuhi permintaannya.”[7]

Juga hadits lain yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِى شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Maha Berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).[8]

2. Seorang Muslim Bertawassul Dengan Amal Shalih Yang Dilakukannya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: ‘Ya Rabb kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari adzab Neraka. [Ali ‘Imrân/3:16][9]

Dalil lainnya yaitu tentang kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua lalu mereka bertawassul kepada Allâh Azza wa Jalla dengan amal-amal mereka yang shalih lagi ikhlas, yang mereka tujukan untuk mengharap wajah Allâh Yang Mahamulia, maka mereka diselamatkan dari batu yang menutupi mulut gua tersebut.[10]

3. Tawassul Kepada Allâh Azza Wa Jalla Dengan Doa Orang Shalih Yang Masih Hidup.
Jika seorang Muslim menghadapi kesulitan atau tertimpa musibah besar, namun ia menyadari kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allâh Azza wa Jalla , sedang ia ingin mendapatkan sebab yang kuat kepada Allâh, lalu ia pergi kepada orang yang diyakini keshalihan dan ketakwaannya, atau memiliki keutamaan dan pengetahuan tentang al-Qur-ân serta as-Sunnah, kemudian ia meminta kepada orang shalih itu agar mendoakan dirinya kepada Allâh supaya ia dibebaskan dari kesedihan dan kesusahan, maka cara demikian ini termasuk tawassul yang dibolehkan, seperti:

Pertama : Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Pernah terjadi musim kemarau pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Jum’at. Tiba-tiba berdirilah seorang Arab Badui, ia berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, telah musnah harta dan telah kelaparan keluarga.’ Lalu Rasûlullâh mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, ‘Ya Allâh turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allâh, turunkanlah hujan kepada kami.” Tidak lama kemudian turunlah hujan.[11]

Kedua : Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu -ketika terjadi musim paceklik- ia meminta hujan kepada Allâh Azza wa Jalla melalui ‘Abbas bin ‘Abdil Muthalib Radhiyallahu anhu, lalu berkata, “Ya Allâh, dahulu kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami memohon kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.” Ia (Anas bin Mâlik) berkata, “Lalu mereka pun diberi hujan.”[12]

Seorang Mukmin dapat pula minta didoakan oleh saudaranya untuknya seperti ucapannya, “Berdoalah kepada Allâh agar Dia memberikan keselamatan bagiku atau memenuhi keperluanku.” Dan yang serupa dengan itu. Sebagaimana juga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada seluruh ummatnya untuk mendoakan beliau, seperti bershalawat kepada beliau setelah adzan atau memohon kepada Allâh agar beliau diberikan wasilah, keutamaan dan kedudukan yang terpuji yang telah dijanjikan oleh-Nya.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ تَعَالَى، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ.

Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allâh akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah wasilah (derajat di Surga) kepada Allâh untukku karena ia adalah kedudukan di dalam Surga yang tidak layak bagi seseorang kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allâh dan aku berharap akulah hamba tersebut. Maka, barang siapa memohonkan wasilah untukku, maka dihalalkan syafa’atku baginya.[13]

Doa yang dimaksud adalah doa sesudah adzan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَللّٰهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ

Ya Allâh, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang akan didirikan. Berilah al-wasilah (kedudukan di Surga) dan keutamaan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bangkitkanlah beliau sehingga dapat menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.[14]

TAWASSUL BID’AH
Tawassul yang bid’ah yaitu mendekatkan diri kepada Allâh dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat. Tawassul yang bid’ah ini ada beberapa macam,[15] di antaranya:

1. Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kedudukan orang selainnya.
Perbuatan ini adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ، فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

Jika kalian hendak memohon kepada Allâh, maka mohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allâh adalah agung

Hadits ini bathil tidak jelas asal-usulnya dan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan, tidak juga seorang Ulama ahli hadits pun yang menyebutkannya sebagai hadits.[16] Jika tidak ada satu pun dalil yang shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak boleh dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

2. Tawassul dengan dzat makhluk.
Jika dimaksudkan: seseorang bersumpah dengan makhluk dalam meminta kepada Allâh, maka tawassul ini—seperti bersumpah dengan makhluk—tidak dibolehkan, sebab sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan termasuk syirik, sebagaimana disebutkan di dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Barang siapa yang bersumpah dengan selain Nama Allâh, maka ia telah berbuat kufur atau syirik[17]

Apalagi bersumpah dengan makhluk kepada Allâh, maka Allâh tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab terkabulnya doa dan Dia tidak mensyari’atkannya.

3. Tawassul dengan hak makhluk.
Tawassul ini pun tidak dibolehkan, karena dua alasan:
Pertama, bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak wajib memenuhi hak atas seseorang, tetapi justru sebaliknya, Allâh-lah yang menganugerahi hak tersebut kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya :

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“… Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” [ar-Rûm/30:47]

Orang yang taat berhak mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allâh karena anugerah dan nikmat, bukan karena balasan setara sebagaimana makhluk dengan makhluk yang lain.

Kedua, hak yang dianugerahkan Allâh kepada hamba-Nya adalah hak khusus bagi diri hamba tersebut dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia tidak mempunyai hak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dirinya dengan hal tersebut dan itu tidak bermanfaat untuknya sama sekali.[18]

Adapun hadits yang berbunyi :

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ ….

“Aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon ….”

Hadits ini dha’if sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (III/21), lafazh ini milik Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam sanad hadits ini terdapat ‘Athiyyah al-‘Aufi dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu . ‘Athiyyah adalah perawi yang dha’if seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Adzkâr, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al-Qâ’idatul-Jalîlah dan Imam adz-Dzahabi dalam al-Miizân, bahkan dikatakan (dalam adh-Dhu’aa-faa’, I/88): “Disepakati kedha’ifannya!!” Demikian pula oleh al-Hafizh al-Haitsami di tempat lainnya dari Majma’uz Zawâ-id (V/236).[19]

TAWASSUL SYIRIK
Tawassul yang syirik, yaitu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah seperti berdoa kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan sesuatu kepada mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah! Hanya milik Allâh agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allâh akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allâh tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [az-Zumar/39:3][20]

Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati tidak diperbolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit sudah tidak bias lagi berdoa seperti ketika ia masih hidup. Demikian juga meminta syafa’at kepada orang mati, karena ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta syafa’at kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib dan Yazid bin al-Aswad. Mereka tidak bertawassul, meminta syafa’at dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di kuburan beliau atau pun di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pengganti (dengan orang yang masih hidup).

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, ‘Ya Allâh, dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi-Mu, sehingga Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami.’ Ia (Anas) berkata: ‘Lalu Allâh menurunkan hujan.’[21] Mereka menjadikan al-‘Abbas Radhiyallahu anhu sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak lagi bertawassul kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang disyari’atkan sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya. Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertawassul melalui beliau, jika memang hal itu dibolehkan. Dan mereka (para Sahabat) meninggalkan praktek-praktek tersebut merupakan bukti tidak diperbolehkannya bertawassul dengan orang mati, baik meminta doa maupun syafa’at kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafa’at, baik kepada orang mati atau maupun yang masih hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang lebih rendah derajatnya.[22]

وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati. Sungguh, Allâh memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [Fâthir/35:22]

Orang beriman, Adalah Orang Yang Bersyukur | Penerbit Al-Quran Indonesia

Orang beriman, Adalah Orang Yang Bersyukur | Penerbit Al-Quran Indonesia

Orang beriman, Adalah Orang Yang Bersyukur | Penerbit Al-Quran Indonesia

Allah SWT berfirman:

Maka ingatlah kepada-KU, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepadaku.

(Al-Baqarah ayat 152)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka pasti azab-KU sangat berat.

(Ibrahim ayat 7)

Dan sungguh, telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan Barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri ; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

(Luqman 12).

Kata Al-Qur’an untuk terimakasih adalah “syukur.” Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali. Ini adalah kualitas manusia dan juga kualitas Allah. Menurut ulama syukur berarti: “syukur adalah pertimbangan kebaikan dan pengakuan bahwa hamba tersebut merasa puas akan apa yang Allah berikan…”

Syukur adalah prinsip yang sangat penting dalam Islam. Ini adalah kualitas orang yang beriman dan merupakan sumber dari segala kebaikan. Kata Syukur digunakan dalam Al-Qur’an terkadang sebagai setara dengan iman. Orang beriman adalah orang-orang bersyukur.

Qur’an Menerangkan bawasanya nabi dan rasul Allah adalah orang-orang bersyukur. Nabi Nuh adalah seorang hamba bersyukur Allah (Al-Israa ’17: 3).

Nabi Ibrahim digunakan untuk bersyukur kepada Allah atas segala berkat-Nya (An-Nahl 16: 121).

Nabi Dawud dan keluarganya diberitahu untuk bersyukur kepada Allah (Sabaa ’34:13).

Nabi Muhammad  (Az-Zummar 39: 66)

 

Allah juga menjanjikan:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Aal `Imran 3: 145).

Maka mari kita bersyur, dengan bersyukur semoga iman kita semakin meningkat.

Anak muslim 5 tahun menjadi | Penerbit Al Quran Indonesia

Anak muslim 5 tahun menjadi Microsoft Certified Professional (MCP) Termuda | Penerbit Al Quran Indonesia

Anak muslim 5 tahun menjadi Microsoft Certified Professional (MCP) | Penerbit Al Quran Indonesia

LONDON – anak Muslim Lima tahun “Ayan Qureshi” telah disertifikasi sebagai ahli Microsoft termuda setelah melewati tes perusahaan multinasional Amerika yang berhasil.

“Saya suka kompas dan teleskop, tapi apa yang paling saya sukai adalah prisma,” Ayan dikutip oleh Maroko World News, Senin, 24 November mengatakan kepada The Independent.

“Pelangi berwarna terang tercermin melalui prisma menakjubkan.”

 

Qureshi, seorang Muslim Inggris asal Pakistan, telah menjadi Microsoft Certified Professional (MCP) setelah berhasil  melewati seleksi  “rigorous, industry-proven and industry-recognized exams.”

Qureshi, dalam tes ini mendapatkan skor dengan minimal 700 dari 1.000 dengan ini Qureshi mendapatkan Microsoft Certified Professional di ulang tahunnya yang keenam.

Ayahnya, seorang IT profesional, menjelaskan bagaimana anaknya menunjukkan minat dalam komputer dari usia dini.

“Dia biasa duduk di samping saya dan selalu melihat saya saat sedang bekerja,” ayah, Asim Qureshi, mengatakan kepada situs Wired.

“Ini tidak mudah untuk lulus tes,” tambahnya.

Oleh karena itu, ayahnya mulai menunjukkan kepadanya dasar-dasar bagaimana menggunakan komputer

“Saat ini ayan, dia hanya berkonsentrasi pada sekolahnya,” kata Asim Qureshi.

“Tapi dia juga akan meningkatkan kemampuan IT-nya.”

Ayan bukanlah anak muslim berbakat pertama yang disertifikasi sebagai ahli Microsoft pada usia muda.

Arfa Karim, juga seorang gadis Pakistan, pada tahun 2004, pada usia sembilan tahun, sebagai ahli Microsoft Certified Professional termuda.

Seorang gadis yang luar biasa berbakat, Karim terpilih sebagai wakil Pakistan di konvensi teknologi internasional dan forum, dan diundang untuk bertemu dengan Bill Gates.

Dia meninggal pada Januari 2012 setelah kejang epilepsi, dan meskipun menerima top-of-the-line perawatan medis dibayar oleh Bill Gates.