Category Archives: Uncategorized

Keutamaan Berwakaf Al Qur’an

www.kitabisa.com/wakafqu

Wakaf Al Quran merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun pewakaf sudah meninggal dunia; wakaf termasuk ke dalam amal jariyah atau amalan yang tidak putus pahalanya bagi orang yang beramal mewakafkan harta bendanya di jalan Allah Swt.
Sebagaimana dijelaskan dalam dalil,

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Keutamaan Orang yang Berwakaf (Wakif) Alquran

Dalam sejarah Islam, perintis amalan wakaf adalah baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sebagaimana tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Syaibah daripada ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’az, “Kami bertanya tentang Siapakah pewakaf yang paling pertama kali melakukannya?

Orang-orang Anshar menjawab, ‘wakafnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Pada saat itu (622 SM), Rasulullah ketika tiba di Madinah sudah mewakafkan masjid Quba’ atas dasar ketaqwaan kepada Allah Swt. Dan wakaf untuk kedua kalinya, Rasulullah mewakafkan masjid Nabawi.

SUBHANALLAH….. Allahumma sholli ala Muhammad

Wakaf Menjadi Bagian dari 7 (tujuh) Amalan Jariyah

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya di antara amal saleh yang mendatangkan pahala setelah orang yang mengamalkannya meninggal dunia, yaitu; ilmu yang disebarluaskan olehnya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (alquran) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang didirikan dengan tujuan dijadikan sebagai tempat bermalam (penginapan) orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), sungai yang dialirkan guna kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Uraian Salah satu dari 7 (tujuh) Amal Jariyah sesuai dalil tersebut di atas.

Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat – Baik pendidikan formal maupun nonformal, semisal diskusi, ceramah, dakwah, termasuk amalan berupa tulisan buku yang berguna dan mempublikasikannya,

Mendidik anak hingga menjadi anak yang salih/salihah – Anak yang salih dan salihah akan senantiasa beramal kebajikan di dunia. Dalam hadis dijelaskan; kebaikan yang dilakukan oleh anak saleh pahalanya terus mengalir hingga sampai kepada orang tua yang mendidiknya meskipun keduanya telah wafat dengan tanpa mengurangi bobot pahala yang diterima oleh orang yang beramal (anak),

Mewariskan mushaf (alquran dan buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri, keluarga dan masyarakatnya,

Menyedekahkan sebagian harta – Orang yang beramal dengan menyedekahkan sebagian hartanya dengan penuh keikhlasan maka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.

Hikmah Wakaf
•    Menebar Kalamullah, membumikan Al Qur’an
•    Sebagai pembuka jalan beribadah kepada Allah Swt.,
•    Mengajak muslim untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan (fastabikul khairat),
•    Memberikan pahala yang mengalir terus-menerus meskipun orang yang beramal saleh tersebut telah wafat,
•    Demi kebaikan Islam,
•    Membantu mengurangi beban susah fakir miskin serta anak yatim.

Mari kita semua berwakaf Al Qur’an, untuk bekal kita kelak di akhirat.

Produk Al Qur’an Cordoba 2018

No Judul Konten Cover Ukuran Harga
1 Al-Qur’an Al-Hafidz Hafalan Cepat 3 blok, Tajwid Warna, Motivasi Quran, Motivasi Quran, Tema Ayat, Tabel Muraja’ah, Kata Kunci Hafalan Hard Cover A5       86,000
2 Al-Qur’an Al-Haramain Terjemah, Tajwid Terbaru, Tafsir Ringkas Ayat Pilihan, Kajian tematik, Asbabun Nuzul, Hadis Nabawi, Medical Hadis, Sirah Nabawi, Riyadus Salihin, Tazkiyatun Nafs, Hadis Ar Bain, Mu’jam, Kisah Nabi & Rasul, Nasihat & Pelajaran Hard Cover A5       86,000
3 Al-Qur’an Al-Haramain Terjemah, Tajwid Terbaru, Tafsir Ringkas Ayat Pilihan, Kajian tematik, Asbabun Nuzul, Hadis Nabawi, Medical Hadis, Sirah Nabawi, Riyadus Salihin, Tazkiyatun Nafs, Hadis Ar Bain, Mu’jam, Kisah Nabi & Rasul, Nasihat & Pelajaran Hard Cover B5     110,000
4 Al-Qur’an Al-Haramain Yusuf Terjemah, Tajwid Terbaru, Tafsir Ringkas Ayat Pilihan, Kajian tematik, Asbabun Nuzul, Hadis Nabawi, Medical Hadis, Sirah Nabawi, Riyadus Salihin, Tazkiyatun Nafs, Hadis Ar Bain, Mu’jam, Kisah Nabi & Rasul, Nasihat & Pelajaran Jaket Agenda A5     138,000
5 Al-Qur’an Al-Hijr Transliterasi Perkata Warna Sambung, Terjemah Perkata, Terjemah, Latin Perkata, Asbabun Nuzul, Riyadus Shalihin, Kosa kata Hard Cover A5       76,000
6 Al-Qur’an Al-Hufaz Hafalan Mudah 5 blok, Tajwid Warna, Terjemah, Motivasi Quran, Tabel Kontrol, Kata Kunci Hard Cover A5       86,000
7 Al-Qur’an Al-Quds Mushaf, Terjemah, Mu’jam, Terapi Quran, Aqidah, Asma ul Husna Jaket Agenda A6       79,000
8 Al-Qur’an Al-Uswah Transliterasi Perkata Warna Sambung, Terjemah Perkata, Terjemah, Latin Perkata, Asbabun Nuzul, Riyadus Shalihin, Kosa kata Hard Cover A4       98,000
9 Al-Qur’an Amira Rainbow Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       79,000
10 Al-Qur’an Amira Tajwid Rainbow Mushaf Tajwid, Rainbow, Terjemah, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita, Akidah-Akhlak Jaket A5     145,000
11 Al-Quran Anatolia Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       79,000
12 Al-Qur’an Andalus Mushaf Transliterasi Latin & Terjemah per Ayat Jaket A5     169,000
13 Al-Quran Arkadia Mushaf Tajwid, Rainbow, Terjemah, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita, Akidah-Akhlak Jaket A5     145,000
14 Al-Quran Arkadia Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       79,000
15 Al-Qur’an Ar-Riyadh Mushaf Perkata Warna Sambung, Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Riyadus Sakihin, Kosa Kata Hard Cover A5       75,000
16 Al-Qur’an Ar-Riyadh Mushaf Perkata Warna Sambung, Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Riyadus Sakihin, Kosa Kata Hard Cover A4     179,000
17 Al-Qur’an Fathir Bombay Mushaf Bombay 18 Baris Hard Cover A5       39,000
18 Al-Qur’an Hilwa Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       68,000
19 Al-Qur’an Iqro Waqaf  Ibtida Mushaf 15 baris, Wakaf Ibtida’ Hard Cover A5       69,000
20 Al-Qur’an Maqdis Al-Aqsa Mushaf, Terjemah, Mu’jam, Terapi Quran, Aqidah, Asma ul Husna Jaket A6       79,000
21 Al-Qur’an Maqdis Reguler Mushaf, Terjemah, Mu’jam, Terapi Quran, Aqidah, Asma ul Husna Jaket A6       56,000
22 Al-Qur’an Maqdis Yusuf Mushaf, Terjemah, Mu’jam, Terapi Quran, Aqidah, Asma ul Husna Jaket A6       89,000
23 Al-Qur’an Mufida Mushaf Tajwid, Rainbow, Terjemah, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita, Akidah-Akhlak Jaket A5     145,000
24 Al-Qur’an Mufida Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       79,000
25 Al-Qur’an Mushaf Kabir Mushaf Jumbo Wakaf Ibtida’ Mula Henti, Lafdzul Jalalah Hard Cover B4     179,000
26 Al-Qur’an Mushawwir Mushaf Perkata, Transliterasi Latin,Terjemah Hard Cover A4       89,000
27 Al-Qur’an Muslimah Marwah Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Hard Cover A6       48,000
28 Al-Qur’an Muslimah Vathia Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       68,000
29 Al-Qur’an Muslimah Zulfa Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Soft Cover A6       38,000
30 Al-Qur’an New Sofia Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       75,000
31 Al-Qur’an New Tihany Mushaf, Terjemah, Aqidah-Akhlak, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita,319 Tafsir Tematik Jaket A6       59,000
32 Al-Qur’an Tartil Tajwid Mudah, Belajar Tajwid kode al Fabetik, Qur’an Tahsin Hard Cover A4     189,000
33 Al-Qur’an The Amazing 101-in-1 33 Konten Utama, 68 Konten Tambahan Hard Cover A4     357,000
34 Al-Qur’an The Biggest Muhaf Jumbo, Transliterasi Latin Tajwid Warna, Tafsir Al Muyassar Hard Cover A4     348,000
35 Bulughul Maram Glosarium, Hadis, Transliterasi, Teks Hadis, Terjemah, Takhrij, Takhqiq, Kesimpulan Hard Cover B5     148,000
36 Cordobana Belajar membaca Al Qur’an sistem 3 hari Soft Cover B5       98,000
37 Fikih Sunah Wanita Hukum-hukum terkait dengan Wanita Hard Cover B5       99,000
38 Journey Through The Quran Panduan Praktis memahami Al Qur’an dengan Mind Map Hard Cover     145,000
39 Muhammad Sang Yatim Sirah Nabi Muhammad SAW Soft Cover       99,000
40 Paket Al-Qur’an Amazing 101 in 1 With E-Pen + Cordobana E-Pen Hard Cover A4  1,699,000
41 Paket Al-Qur’an Jaket Rainbow With E-Pen A1 Mushaf Tajwid, Rainbow, Terjemah, Hukum, Ibrah, Tokoh Wanita, Akidah-Akhlak plus epen Hard Cover A5     990,000

Siaran Pers Kementerian Agama *Terkait Terjemahan ‘Awliya’ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag*

Kata ‘awliya’ pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai ‘teman setia’ pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata ‘awliya’ pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’. Informasi yang viral di media sosial dengan menyertakan foto yang memuat halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 itu juga disertai keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.
“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, kata ‘awliya’ di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata ‘awliya’ diterjemahkan dengan ‘pemimpin’. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan ‘teman setia’.
“Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan ‘pelindung’, dan pada QS. Al-Nisa/4 diterjemahkan dengan ‘teman-teman’,” jelas Muchlis, Minggu (23/10).
Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.
“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi,” terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata ‘awliya’ pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai *wali* dengan meninggalkan orang-orang mukmin”.
“Pada kata *wali* diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata *wali* pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.
Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ pada informasi yang viral di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, *terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran*. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, banyak ulama berkeberatan dengan istilah “terjemahan Al-Quran”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “terjemahan makna Al-Quran”.
“Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya,” paparnya.

Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.
“Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammâlun dzû wujûh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan,” urainya.
Kepada masyarakat, Muchlis berpesan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.
*Humas Kemenag RI*
https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag

Siaran Pers Kementerian Agama : Terkait Terjemahan ‘Awliya’ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag

Kata ‘awliya’ pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai ‘teman setia’ pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag Muchlis M Hanafi menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.
Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata ‘awliya’ pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’. Informasi yang viral di media sosial dengan menyertakan foto yang memuat halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 itu juga disertai keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.
“Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, kata ‘awliya’ di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata ‘awliya’ diterjemahkan dengan ‘pemimpin’. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan ‘teman setia’.
“Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan ‘pelindung’, dan pada QS. Al-Nisa/4 diterjemahkan dengan ‘teman-teman’,” jelas Muchlis, Minggu (23/10).
Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.
“Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi,” terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata ‘awliya’ pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai *wali* dengan meninggalkan orang-orang mukmin”.
“Pada kata *wali* diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata *wali* pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.
Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ pada informasi yang viral di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, *terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran*. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, banyak ulama berkeberatan dengan istilah “terjemahan Al-Quran”. Mereka lebih senang menyebutnya dengan “terjemahan makna Al-Quran”.
“Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya,” paparnya.
Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.
“Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammâlun dzû wujûh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan,” urainya.
Kepada masyarakat, Muchlis berpesan bahwa dalam memahami Al-Quran hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.

*Humas Kemenag RI*

Sumber : https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag

Antara Puasa Syawal dan Qadha Puasa Ramadhan

Kita sudah memasuki bulan Syawal, pada bulan syawal ada ibadah sunnah yang sudah sering kita laksanakan, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan (secara penuh, pen.) kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka itu senilai dengan puasa selama setahun.” (HR. Muslim, no. 1984)

Tapi bagaimana apabila kita mempunyai hutang puasa di bulan Ramadhan sebelumnya, sementara kita ingin juga melaksanankan puasa enam hari di bulan Syawal?

Ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Namun, mayoritas ulama menyatakan, karena puasa Ramadhan wajib, dan bila punya utang puasa, maka dia harus segera menggantinya di bulan lain. Jadi, bila sudah masuk di bulan Syawal, maka sebaiknya dia segera mengganti atau membayar utang puasanya dulu, baru mengerjakan puasa Syawal. Artinya, yang wajib dulu dibayar, baru mengerjakan yang sunah.

Syekh Abdullah bin Jibrin dalam kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Li al-Mar’ati al-Muslimah, menjelaskan, sebaiknya dikerjakan yang wajib dulu, yakni membayar utang puasa Ramadhan, baru kemudian mengerjakan puasa Syawal.

Alasannya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim di atas, keutamaan puasa Syawal itu karena mengikuti puasa Ramadhan. Jadi, kata Syekh Abdullan bin Jibrin, puasa Ramadhan harus disempurnakan terlebih dahulu, baru mengerjakan yang sunah.

Namun demikian, ada pula ulama yang menyatakan, bahwa boleh saja mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu, mengingat waktunya sangat terbatas, yakni hanya satu bulan. Sedangkan untuk mengganti puasa Ramadhan, diperbolehkan di bulan lain.

Apalagi bagi perempuan, dalam setiap bulan, mereka mengalami masa haid. Dan waktu haid ini, berlangsung antara 4-10 hari, bahkan ada yang lebih. Secara otomatis, waktu utnuk mengerjakan puasa Syawal pun akan semakin sempit pula. Atas dasar ini, para membolehkan untuk mengerjakan puasa Syawal dulu, baru membayar utang puasa.

Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. (QS Al-Baqarah [2]: 148).

..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku) (QS Thaha [20]: 84).

Karena itu, mana yang bisa dilaksanakan dengan cepat, hendaknya itu yang dikerjakan terlebih dahulu. Jika waktunya masih panjang, sebaiknya membayar utang puasa Ramadhan dulu baru mengerjakan puasa Syawal. Namun, jika waktunya terbatas dan singkat, tidak masalah untuk mengerjakan puasa Syawal terlebih dahulu.

 

Sumber : Republika

 

 

Hadits Tentang Puasa Ramadhan

Berikut adalah kumpulan beberapa hadits tentang puasa Ramadhan, Semoga menjadi penyemangat menjelang Ramadhan dan penambah semangat dalam beribadah di bulan Ramadhan nanti :

 
اِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ اَبْوَابُ النَّارِوَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ.

Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukhari dan Muslim).

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu (HR. Bukhari).

ثَلاَثَةٌ لاَتُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَاْلإمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُوْمُ.

Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doanya mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan donya orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

 

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” [Bukhari-Muslim]

 

“Diriwayatkan dari Sahl bin Saad r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya” [Bukhari-Muslim]

 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 1793)

 

“Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur karena dalam bersahur itu ada keberkatannya” [Bukhari-Muslim]

 

“Diriwayatkan daripada Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Apabila datang malam, berlalulah siang dan tenggelamlah matahari. Orang yang berpuasa pun bolehlah berbuka” [Bukhari-Muslim]

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa” [Bukhari-Muslim]

 

“Dari Abu Hurairah ra: katanya Rasulullah saw berabda: “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat jahat (padahal dia puasa), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum” [Bukhari]

 

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah s.a.w lalu berkata: Celakalah aku wahai Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w bertanya: Apakah yang telah membuatmu celaka?

Lelaki itu menjawab: Aku telah bersetubuh dengan isteriku pada siang hari di bulan Ramadan.

Rasulullah s.a.w bertanya: Mampukah kamu memerdekakan seorang hamba? Lelaki itu menjawab: Tidak.

Rasulullah s.a.w bertanya: Mampukah kamu berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab: Tidak.

Rasulullah s.a.w bertanya lagi: Mampukah kamu memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin? Lelaki itu menjawab: Tidak.

Rasulullah SAW kemudian memberikan kepadanya suatu bekas yang berisi kurma lalu bersabda: Sedekahkanlah ini.

Lelaki tadi berkata: Tentunya kepada orang yang paling miskin di antara kami. Tiada lagi di kalangan kami di Madinah ini yang lebih memerlukan dari keluarga kami.

Mendengar ucapan lelaki itu Rasulullah s.a.w tersenyum sehingga kelihatan sebahagian giginya. Kemudian baginda bersabda: Pulanglah dan berilah kepada keluargamu sendiri” [Bukhari-Muslim]

 

” Barang siapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah niscaya Allah akan manjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.” (Hadist riwayat Al-Bukhari)

” Di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan; pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorang pun selain mereka memasukinya…..” (Hadist riwayat Al-Bukhari)

“Puasa itu perisai yang dipergunakan seorang hamba untuk membentengi dirinya dari siksaan neraka.” (Hadist riwayat Imam Ahmad)

” Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan kepadanya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya karena Aku’.” (Hadist riwayat Muslim)

Peristiwa-peristiwa di Bulan Rajab

Tinggal sebentar lagi kita memasuki bulan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. Sebelum menginjak kepada bulan mulia tersebut kita sampai terlebih dahulu pada bulan rajab dan syaban. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia juga. Di antara kebiasaan para ulama, mereka menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Hal ini bisa dilihat dari doa yang sangat populer:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang istimewa karena pada bulan ini terjadi peristiwa-peristiwa penting bagi sejarah hidup umat Islam.

  1. Isra’ Mikraj (27 Rajab)

Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Senin  27 Rajab, bertepatan dengan 621 M.
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian dari Palestina naik ke langit ke tujuh sampai ke Arsy menghadap Allah SWT. Sebelum terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad dihadang oleh berbagai cobaan. Mulai dari pemboikotan keluarga berupa pemutusan transaksi jual beli, akad nikah, berbicara dan pergaulan. Akibatnya, Rasulullah dan keluarga hidup terisolir selama tiga tahun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

 

  1. Kekalahan Romawi di Perang Tabuk

Rajab juga merupakan bulan kemenangan militer Rasulullah dalam Perang Tabuk, yang terjadi pada 9 Hijriyah atau 630 M, dan menandai dominasi otoritas Islam atas seluruh Semenanjung Arab. Meskipun menempuh perjalanan yang berat dari Madinah menuju Syam, sebanyak 30 ribu pasukan Muslim tetap melaluinya. Tentara Romawi yang telah berada di Tabuk siap untuk menyerang umat Islam. Tetapi ketika mereka mendengar jumlah dan kekuatan tentara Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah mereka terkejut dan bergegas kembali ke Syam menyelamatkan benteng-benteng mereka. Hal ini menyebabkan penaklukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah menetap di tempat ini selama sebulan. Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur di bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar upeti.

 

  1. Shalahuddin Al-Ayyubi Merebut Al-Aqsha dari Tentara Salib / Pembebasan Baitul Maqdis Palestina

27 Rajab 583 H, Shalahudin al Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin bergerak mengepung dan membebaskan tanah Palestina/yerusalem yang setelah sekian abad lamanya dikuasai oleh pasukan salibis.

Pembebasan itu sendiri tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari pasukan salib. Peristiwa ini terjadi pada Rajab 1187 M yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Penaklukan ini bukan hanya karena pentingnya Yerusalem dalam Islam, tetapi juga karena sepak terjang Tentara Salib menaklukkan negeri-negeri Muslim.

Menaklukkan Yerusalem, Shalahuddin masuk ke gerbang kota dengan damai. Tak ada pembantaian warga sipil. Sultan Ayyubiyah ini menjamin keselamatan dan kebebasan beribadah semua pemeluk agama. Terkecuali, pasukan Salib yang dia minta keluar dari kota. Hal pertama yang dilakukan Shalahuddin saat memasuki Yerusalem adalah mencopot tiang salib dari atas Kubah Batu.

 

  1. Runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki

Sejarah yang terjadi Pada 28 Rajab ini merupakan runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki yang dihapus oleh Mustafa Kemal Ataturk. kehidupan masyarakat Turki berubah ketika Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler. Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat, Dan sejak saat itulah keterpurukan mulai terjadi.

Bulan Rajab merupakan bulan penuh perjuangan bagi umat Islam jika kita lihat dari beberapa peristiwa yang terjadi dalam sejarah umat Islam. Semoga peristiwa-peristiwa di bulan Rajab tersebut menjadi motivasi dan semangat bagi kaum muslimin untuk menjadi lebih baik dan menjadikan Islam selalu ada dalam setiap langkah kehidupan.

 

Wallahu a’lam bishawab

 

 

 

 

 

 

 

Apa Sebenarnya Zalim itu?

Dalam ajaran Islam zalim adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil. Adapun yang dimaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya adalah meletakkan hukum Allah sebagai dasar pijakan atas semua kebijakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 45)

Berikut ini yang termasuk kategori orang-orang yang zalim adalah :

1. Orang yang menyembah selain Allah SWT

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

ArtinyDan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS. Luqman [31] : 13

 

2. Zalim terhadap diri sendiri, masuk dalam kategori ini adalah segala sesuatu yang keluar dari tuntunan Al Qur’an dan Hadis,  misalnya :

  • Bunuh diri, dalam Islam bunuh diri merupakan suatu dosa besar.

    “(Di antara) dosa-dosa besar adalah: Berbuat syirik terhadap Allah, durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu.” [HR Al Bukhari (6675)]
  • Homoseksual, perilaku ini jelas jelas sangat dibenci oleh Allah, karena melawan kodrat yang telah ditetapkan, hal ini tercermin dalam kisah Sodom pada jaman Nabi Luth As.
  • Berlebihan dalam segala sesuatu, misalnya makan berlebihan, belanja berlebihan dan menyia nyiakan harta. yang intinya adalah menuruti Hawa Nafsu untuk kesenangan diri sendiri.
  • Makan dan minum sesuatu yang haram

3. Zalim terhadap orang lain, masuk dalam kategori ini adalah segala sesuatu yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tidak nyaman, atau membuat orang lain menerima akibat yang buruk, atau mengambil hak orang lain.

 

 

Menghilangkan Putus asa

Dalam sebuah kehidupan pastilah ada yang namanya masalah dan ujian, di sekolah sebelum ada kelulusan kita terlebih dahulu menghadapi yang namaya ujian. Di tempat kerja pun kita pasti menemukan ujian, dalam kehidupan bermasyarakat dan lainnya pun kita juga akan menemukan ujian atau masalah yang harus kita hadapi. Ujian dapat menjadikan kita lebih kuat dan bertawakal pada allah SWT, tetapi adapula yang dalam menjalaninya memilih untuk menyerah, menjadi rapuh bahkan merasa putus asa.

Seperti firman Allah SWT :

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الإنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan apabila Kami beri kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan mejauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa”. (QS. Al-Isra’ : 83)

Putus asa adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang menganggap drinya telah gagal dalam menghasilkan sesuatu harapan cita-cita. Salah satu ciri dari sikap putus asa adalah apabila diberi beban atau sesuatu yang harus siselesaikan dan perlu segera dilaksanakan, ia meninggalkannya secara perlahan-lahan, bahkan terkadang tidak mengerjakan sama sekali. Ia merasa keberatan atau menganggap bahwa apa yang dititipkan kepadanya terlampau berat sehingga ia enggan dan berputus asa untuk meneruskannya.

Selain itu orang berputus asa akan cenderung berburuk sangka kepada Allah, menolak kebenaran, malas beribadah dan berdoa, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya, malas berbuat baik.

Putus asa merupakan hal yang sangat dilarang, seperti di jelaskan dalam Al-Qur’an :

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

 

“قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS Al-Hijr : 56)

 

Rasulullah SAW bersabda bahwa :

“Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah”. (hadis hasan sahih, diriwayatkan ole Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Majma’ Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104)

 

Bersumber dari penjelasan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis di atas sudah jelas bahwa putus asa merupakan hal yang sangat dilarang oleh Islam bahkan termasuk salah satu dosa besar. Putus asa dapat mengantarkan kepada kekafiran karena pada dasarnya putus adalah suatu sifat yang timbul akibat tidak adanya keyakinan terhadap exsistensi Sang maha pengatur kehidupan. Dengan begitu ia cenderung tidak memiliki harapan. Sebab ia tak yakin bahwa ada sumber kekuatan yang dapat membantunya dalam memecahkan masalahnya.

Putus asa juga menimbulkan penyakit mental atau psikis. Penyakit rohani ini dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah stres, ini disebabkan karena tidak adanya sandaran yang kokoh untuk ia bersandar dan mencari solusi dari setiap kesulitan yang dihadapinya. Orang menjadi mudah atau rentan untuk terkena penyakit pisik seperti ini, karena orang putus asa cenderung cepat menyerah, tidak memiliki keyakinan yang tinggi terhadap sesuatu yang ingin dicapai. Oleh sebab itulah stress menjadi jawaban atas apa yang didapatkan dari sikapnya tersebut. Pada akhirnya sikap dan perilaku orang tersebut menjadi tak tentu arah. Kematian juga bisa menjadi akibat dari stres itu sendiri yang bermula dari keputus asaan. Banyaknya peristiwa orang menjadi gila, kemudian jumlah orang yang bunuh diri semakin bertambah adalah dampak social dan psikis yang disebabkan oleh sikap hilang harapan ini.

Oleh sebab itulah Islam sangat melarang sekali adanya putus asa dalam diri setiap individu, sebisa mungkin kita harus menghilangkan putus asa, adapun upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari rasa putus asa :

  1. Bersyukur

Syukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Apapun yang Allah tetapkan untuk kita pasti itu yang terbaik, seperti yang telah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 216 :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

 

  1. Perbanyak mengingat Allah

Mungkin banyak hal yang membuat kita takut, khawatir, atau sakit. Sebutlah nama Allah, maka hatimu akan tenang sebab kita tahu bahwa Allah Maha Besar yang bisa menghilangkan semua derita dan ketakutan. Kita juga yakin Allah Maha Tahu yang mengathui apa yang terbaik bagi kita. ”Ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah hati akan tenang” (QS. 13:28). Ketenangan hati akan menjadikan diri ini tetap optimis.

 

  1. Berkumpul dengan orang shaleh

Salah satu cara agar kita terhindar dari putus asa adalah dengan berkumpul bersama orang-orang shaleh yang selalu akan mengingatkan kita kepada kebaikan dan saling menasihati untuk kesabaran, seperti yang tercantum dalam QS. Al-‘Ashr 1-3: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saing menasihati untuk kebenaran dan menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al-‘Asr:1-3)

 

  1. Bekali diri dengan ilmu agama

Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban terlebih lagi ilmu agama, dengan ilmu kita menjadi tahu kemana kita harus melangkah dalam menjalani kehidupan ini. Orang yang berilmu akan selalu berhati-hati dalam melangkah, berbeda dengan orang yang tidak mau membekali dirinya dengan ilmu akan hilang arah.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar : 9)

 

  1. Tanamkan optimisme dalam diri

Allah tidak akan membebankan ujian pada kita diluar batas kemampuan kita, jadi tetaplah optimis semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al Baqarah:286)

 

  1. Selalu berdoa dan berusaha

Jika beban terasa begitu berat, bukan bebannya yang terlalu berat, tetapi kelemahan ada pada diri kita yang tidak mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Kita punya potensi akal, hati, dan jasad yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya saja, jika tidak kita optimalkan sepenuhnya, kekuatan itu akan tersembunyi. Bahkan, saat kesulitan tetap ada dihadapan kita, seolah kita tidak mampu untuk menghadapinya, Allah selalu siap menyambut dan mengabulkan do’a kita. Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS Al Mu’minuun:60)

 

Semoga kita semua selalu dijauhkan dari berbagai bentuk sikap putus asa. Aamiin..

 

Wallahu a’lam

Kebiasaan Tidur Rasulullah yang Sering Dilupakan Oleh Umat Muslim

Kebiasaan Tidur Rasulullah yang Sering Dilupakan Oleh Umat Muslim

Kebiasaan Tidur Rasulullah yang Sering Dilupakan Oleh Umat Muslim

Allah berfirman dalam surat Al-Qalam ayat 4 :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (QS Al-Qolam : 4)
Pada ayat di atas, Rasulullah SAW  memiliki budi pekerti yang luhur, yang wajib dicontoh dan dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW memiliki akhlak yang paling agung dijaga oleh Allah SWT dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita mengikuti akhlak Rasulullah yang dicerminkan dalam kebiasaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Quran Cordoba telah merangkum kebiasaan tidur Rasulullah yang sering dilupakan oleh umat muslim menjelang tidur di malam hari dan terbangun di pagi hari. Kebiasaan tersebut antara lain :
1. Tidur di Awal Malam
“Rasulullah SAW membenci tidur sebelum isya’ dan beliau tidak menyukai obrolan setelah isya’.” (HR. Ahmad)
Dari hadits di atas, Rasulullah SAW memanfaatkan waktu setelah isya’ untuk beristirahat dan bertafakur kepada Allah SWT. Tidur di awal waktu bermanfaat untuk proses pemulihan tubuh yang membutuhkan istirahat. Dengan tidur di awal waktu, kita akan memiliki waktu yang cukup untuk bangun pada sepertiga malam untuk melaksanakan qiyamulail. Ibadah di sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang mustajab untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Hal ini akan sangat sulit dilakukan oleh orang yang tidur tengah malam dengan waktu tidur yang sedikit.
2. Berwudhu Sebelum Tidur
“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wudhu sebelum tidur ternyata memberikan banyak manfaat. Manfaat dibalik diperintahkannya wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Bahkan ulama fikih menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari usaha untuk memelihara kebersihan jasmani dan rohani. Tentu setiap perintah Allah SWT itu mempunyai hikmah dan kebaikan didalamnya.Dalam sekali melakukan wudhu, lima panca indera kita terkena semua tanpa terkecuali disapu oleh air wudhu. Mata, hidung, telinga & seluruh kulit tubuh. Pertama, menenangkan otot-otot sebelum beristirahat. Kedua, mencerahkan kulit wajah. Ketiga, didoakan malaikat.
3. Membaca Ayat Kursi Sebelum Tidur
“Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari)
Ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung paling utama dan paling mulia karena mengandung perkara-perkara besar dan sifat-sifat Allah yang mulia . Di dalam ayat kursi terdapat nama-nama Allah yang agung beserta sifat-sifatNya.Oleh karena itulah, banyak hadits-hadits yang menganjurkan kita untuk membacanya dan menjadikannya wirid harian yang dibaca di pagi dan sore hari, sebelum tidur dan sehabis shalat lima waktu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan pada ayat tersebut tentang Diri-nya, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Dia, karena kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya serta banyaknya nikmat yang dikaruniakan-Nya. Di samping itu, karena keadaan seorang hamba yang memang berhak menjadi hamba Allah Tuhannya dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua sesembahan yang disembah selain Allah adalah batil, hal itu karena selain Allah adalah makhluk, memiliki kekurangan, diatur dan bergantung dengan sesuatu sehingga tidak pantas disembah.
4. Berdzikir Sebelum Tidur

اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksaanMu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu (yaitu pada hari kiamat).” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca dzikir di atas.
Selain itu Rasulullah juga membaca tasbih, tahmid, dan takbir sebanyak 33 kali sebelum tidur. Bacaan dzikir tersebut lebih baik daripada memiliki pembantu di rumah. Demikian dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada puterinya, Fatimah dan istri tercintanya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.
5. Meruqyah Badan Sebelum Tidur
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Mu’awidzat, lalu meniupkan tangan untuk diusap ke badannya ketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (Aisyah) yang  meniupkan ke tangan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah. (HR. Bukhari no. 5735)
Yang dimaksud ruqyah itu adalah membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian ditiupkan ke dua tangan, lalu diusapkan ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau, sambil berbaring.
6. Tangan Kanan di Bawah Pipi Kanan
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)
Dari hadits diatas maka dapat kita ketahui bahwa Rosulullah menjadikan tangan kanannya sebagai bantal untuk bersandar kepalanya. Berikut manfaat yang dapat Anda dapatkan dengan tidur tanpa bantal :
– Mencegah sakit leher
– Kualitas tidur
– Keuntungan untuk tulang belakang
7. Berbaring ke Kanan
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).
Salah satu adab tidur adalah di anjurkan untuk miring ke kanan, dan di balik sunnah Nabi ini ternyata banyak sekali hikmah dan manfaat yang bisa kita ambil dari sisi kesehatan.
– Mengistirahatkan otak sebelah kiri.
– Mengurangi beban jantung.
– Mengistirahatkan lambung.
– Meningkatkan pengosongan kandung empedu dan pankreas.
Dan lainnya.
8. Membaca Doa Sebelum Tidur
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. (HR. Bukhari 6324)
Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42)

Karena itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun.

9. Saat Bangun Karena Mimpi Buruk
“Jika kalian mengalami mimpi yang dibenci (mimpi buruk) hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim)

 

Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi bisikan perasaan, dan mimpi ditakut-takuti setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak disukainya (mimpi buruk), hendaklah dia melaksanakan shalat.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani).

Sunnah Rasulullah SAW ketika bangun mimpi buruk :

– Meludah kekiri 3 kali.

– Memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari setan 3 kali, dengan membaca

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

A’udzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan ta’awudz lainnya).

– Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.

– Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat.

– Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis.

– Tidak boleh menafsir mimpi tersebut baik menafsir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.

 

10. Ketika Bangun Membaca Dzikir Bangun Tidur

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami (dengan bangun tidur) setelah memati kami (dengan tidur) dan hanya kepadanyalah kami akan dibangkitkan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Hudzaifah Ibnul Yaman dan Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhum, dan Muslim dari Al-Barâ` bin ‘Âzib radhiyallahu ‘anhumâ]

 

 

 

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA'BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA'BAH

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA’BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA’BAH

UMAT ISLAM SHALAT HADAP KA’BAH, BUKAN BERARTI ALLAH BERADA DIDALAM KA’BAH

Si A : Mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?

Ustadz : Salah itu! Umat Islam tidak menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.

Si A : Bukankah orang Islam shalat menghadap Ka’bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka’bah?

Belum sempat sang ustadz menjawab, terdengar handphone-nya si A berbunyi. Setelah si A selesai menjawab panggilan di handphonen-ya, dia memandang sang ustadz. Sang ustadz tersenyum.

Si A : Mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi ustadz?

Ustadz : Hmm… Perlukah saya menjawab pertanyaanmu?

Si A : Ah, pasti kau tidak bisa menjawab bukan? hehehehe…..

Ustadz : Bukan itu maksud saya. Saya melihat kau kurang menyadarinya.

 

sumber Yusufmansurnetwork

Si A : Mengapa kau bicara begitu?

Ustadz : Tadi saya lihat kau bicara sendiri, ketawa dan tersenyum sendiri. Dan kau mencium HP itu sambil bicara “I love You”

Si A : Saya tidak bicara sendiri. Saya bicara dengan istri saya. Dia yang telfon saya tadi.

Ustadz : Mana istrimu? Saya tak melihatnya.

Si A : Istri saya di Padang. Dia telfon saya, saya jawab menggunakan telfon. Apa masalahnya? [ heran ]

Ustadz : Boleh saya lihat HP kamu?

Si A mengulurkan HP-nya kepada sang ustadz. Sang ustadz menerimanya, lalu membolak-balikan HP itu, menggoncang-goncangnya, mengetuk-ngetuk HP tersebut ke meja.

Ustadz : Mana istrimu? Saya lihat dia tidak ada di sini. Saya pecahkan HP ini pun istrimu tetap tak terlihat di dalamnya?

Si A : Mengapa kau bodoh sekali? Teknologi sudah maju. Kita bisa berbicara jarak jauh menggunakan telfon. Apa kau tak bisa menggunakan otakmu?

Ustadz : Alhamdulillah [senyum]. Begitu juga halnya dengan Allah SWT. Umat Islam shalat menghadap Ka’bah bukan berarti umat Islam menyembah Ka’bah. Tetapi umat Islam shalat atas arahan Allah. Allah mengarahkan umat Islam untuk shalat menghadap Ka’bah juga bukan berarti Allah ada di dalam Ka’bah. Begitu juga dengan dirimu dan istrimu. Istrimu menelfon menggunakan HP, ini bukan berarti istrimu ada di dalam HP. Tetapi ketentuan telekomunikasi menetapkan peraturan

Si A : Bisa saja kau [ Garuk kepala tak gatal ]

Ustadz : Ada satu lagi, bilamana shalat tidak menghadap ka’bah, maka arah shalat akan kacau. Ada dua jamaah shalatnya berhadap-hadapan, ada yang shalat sendiri, karena tidak ada arah akan ganjil, ada yang menghadap kekiri dan kekanan. Wah bisa terbayang kan ?

Si A : [ Merenung ]

Manfaat Tadabur Alquran

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shaad [38]: 29).

Allah SWT dalam ayat di atas menegaskan, Alquran sebagai panduan hidup (al-Kitab) yang diturunkan ke kalbu Muhammad saw penuh dengan berkah (mubarak) atau mengandung banyak manfaat bagi manusia dalam semua hal, baik yang berkenaan dengan dunia maupun akhirat.

As-Sa’dy dalam menafsirkan kata mubarakun menjelaskan, pada Alquran ada kebaikan yang banyak, ilmu yang luas dan dalam. Berisi petunjuk yang mengeluarkan diri dari kesesatan, penyembuh dan penawar dari berbagai macam racun dan penyakit.

Selain itu berisi cahaya yang dapat mengeluarkan seseorang dari kegelapan hawa nafsu, bimbingan hukum dan aturan yang dibutuhkan setiap mukalaf (orang yang telah berusia terbebani hukum).

Juga petunjuk dalil-dalil yang jelas dan pasti yang dibutuhkan untuk segala ruang dan waktu. Tidak ada keterbatasan padanya dan telah menjadi panduan bagi alam semesta sejak awal penciptannya.

Bertadabur secara kosakata adalah sebuah proses berpikir mendalam dan menyeluruh yang dapat menghubungkan seseorang ke pesan paling akhir sebuah perkataan dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.

Menadaburi perkataan maksudnya memperhatikannya dari permulaan hingga akhir, kemudian mengulangi perhatian itu berkali-kali.

Prof Dr Nasser al-Omar, ketua Lembaga Tadabur Quran Internasional yang juga Sekretaris Jenderal Ulama Muslim Dunia mengatakan semua problematika umat yang kita saksikan di negeri kaum Muslimin hari ini berupa kehinaan, kelemahan, kemunduran, dan berbagai problem lainnya disebabkan oleh jauhnya kaum Muslimin dari Alquran.

Karena, mereka tidak menadaburi dan mengamalkan Alquran. Oleh karena itu, jika umat ingin keluar dari semua problem tersebut dan ingin bangkit dari keterpurukannya, harus menadaburi Alquran dan mengamalkannya.

Rasulullah saw sangat menyayangkan orang yang tidak mengacuhkan Alquran atau tidak mengambil manfaat yang begitu banyak dalam Alquran.

Keluh kesah Rasulullah itu kemudian tergambar dalam ayat berikut, “Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.’” (QS al-Furqan [25]: 30).

Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah mencontohkan orang yang menjadikan Alquran sesuatu yang tidak diacuhkan, di antara maksudnya adalah orang yang tidak menadaburi Alquran karena bacaan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Orang yang menadaburi Alquran juga akan merasakan beberapa manfaat penting dalam kehidupannya. Di antaranya, pertama, mendapatkan hidayah (petunjuk dari kesesatan).

Manusia membutuhkan ilmu dalam menjalani hidupnya agar tidak tersesat, ketahuilah bahwa ilmu sesungguhnya yang dapat mengeluarkan manusia dari ketersesatan adalah ilmu yang berasal dari Allah saja.

Alquran adalah sekumpulan firman Allah yang berisi ilmu-ilmu dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. “Katakanlah, apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran? Katakanlah, Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran. Maka, apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Yunus [10]: 35).

Kedua, mendapatkan cahaya. Ada banyak kegelapan yang dihadapi manusia dalam menjalani hidupnya. Ada makhluk kegelapan yang tercipta, ada kekuatan jahat yang bekerja kala malam mulai kelam, ada kejahatan para tukang sihir yang meniupkan mantera ke benda-benda, ada kejahatan orang yang hasad (dengki) jika melihat yang tidak ia sukai.

Selain itu, setiap orang di dunia ini sangat membutuhkan cahaya agar tidak salah jalan, tidak terjerembap, bahkan terjatuh, ke jurang yang berbahaya.

Manusia membutuhkan cahaya untuk dapat membedakan jenis dan bentuk sesuatu, membedakan warna-warni. Dengan bertadabur Alquran, manusia akan mendapatkan bimbingan cahaya terang benderang.

Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Taghabun [64]: 8).

Ketiga, manusia akan mendapatkan furqan (pembeda antara hak dan batil). Ilmu manusia sangatlah sedikit karena kemampuannya menyerap ilmu dari sekitarnya juga amat terbatas.

Rasio manusia juga sangat lemah dan kurang meluas sehingga tak dapat menjangkau alam lain yang tak pernah terindera oleh organ inderawinya. Informasi yang sampai dari seseorang kepada orang lain sering kali mengalami distorsi.

Berbagai keterbatasan inilah yang sering membuat manusia bimbang dan ragu dalam menyikapi sesuatu, membuat manusia bingung dalam mengambil keputusan yang bermanfaat bagi kehidupan masa kini atau masa depannya, membuat manusia tak pasti dalam menatap dan melangkah.

Saat itulah manusia membutuhkan kekuatan lain yang berasal dari luar dirinya agar yakin dalam memandang, menyikapi, dan melangkah ke arah kebenaran.

Alquran sebagai furqan-lah yang dapat membebaskan manusia dari semua kebimbangan dan keraguannya. “Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS al-Furqan [25]: 1).

Demikian beberapa manfaat tadabur Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan kecintaan menadaburi Alquran. Wallahu a’lam bish shawab.

Ustaz Bachtiar Nasir

Source : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/06/04/mnvjnf-manfaat-tadabur-alquran